Tuesday, January 26, 2021
Home > Berita > 1,8 juta vaksin Covid-19 Sinovac tahap 2 tiba, Pemerintah juga tandatangani komitmen dengan Novavax dan AstraZeneca

1,8 juta vaksin Covid-19 Sinovac tahap 2 tiba, Pemerintah juga tandatangani komitmen dengan Novavax dan AstraZeneca

Sebanyak 1,8 juta vaksin Covid-19 dari perusahaan Sinovac tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (31/12). Ini merupakan tahap kedua setelah sebelumnya 1,2 juta vaksin Sinovac tiba pada 6 Desember 2020 lalu. (Foto: BPMI Setpres)

Mimbar-Rakyat.com (Jakarta) – Sebanyak 1,8 juta vaksin Covid-19 dari perusahaan Sinovac China tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Kedatangan vaksin ini merupakan yang kedua kalinya, setelah sebelumnya 1,2 juta vaksin Sinovac tiba pada 6 Desember 2020.

Sebelumnya, pesawat Boeing 777-300 ER dari maskapai Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA-890D lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta, Rabu (30/12), sekitar pukul 19.55 WIB dan mendarat di Beijing Capital International Airport, Kamis (31/12), sekitar pukul 04.00 waktu setempat.

Pesawat yang sama  memuat vaksin  dalam 11 Envirotainer, kemudian langsung diterbangkan ke Jakarta  dan mendarat sekitar pukul 11.55 WIB. Pesawat tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Kamis, 31 Desember 2020.

Setibanya di bandara vaksin kemudian dibawa ke warehouse Garuda Indonesia terlebih dahulu untuk dilakukan pengisian ulang daya Envirotainer. Rencananya, vaksin akan langsung dibawa untuk disimpan di Kantor Pusat Bio Farma di Bandung.

Kedatangan 1,8 juta dosis vaksin Covid-19 di Indonesia menambah jumlah vaksin yang telah datang sebelumnya dengan jumlah 1,2 juta dosis, sehingga telah terdapat 3 juta dosis vaksin di Indonesia.

Hadir saat penjemputan vaksin di Bandara Soekarno-Hatta antara lain Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Demikian dikutip dari laman resmi Presiden RI, presidenri.go.id.

Novavax dan AstraZeneca.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengajak seluruh masyarakat untuk turut menyukseskan program vaksinasi gratis dengan tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan. Program vaksinasi yang tengah diupayakan pemerintah merupakan salah satu strategi utama untuk menyelesaikan persoalan pandemi Covid-19.

“Program vaksinasi adalah salah satu strategi utama untuk menyelesaikan masalah pandemi ini. Dibutuhkan waktu lebih dari 12 bulan ini untuk kita menyelesaikan program vaksinasi ini. Untuk itu, teman-teman, jangan lupa untuk selalu menaati protokol kesehatan,” ujarnya saat menyambut kedatangan 1,8 juta dosis vaksin Sinovac di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Kamis (31/12).

“Alhamdulillah, pada hari ini telah tiba 1,8 juta vaksin Sinovac di Indonesia. Untuk selanjutnya vaksin ini akan dikirim ke Bio Farma Bandung untuk penyimpanan sesuai dengan protokol penyimpanan vaksin secara aman sesuai dengan standar WHO,” kata Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, dalam keterangannya saat kedatangan vaksin itu di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Menlu menjelaskan, dalam waktu dekat akan turut datang sebanyak 15 juta dosis bahan baku vaksin dari perusahaan yang sama. Nantinya, bahan baku tersebut akan diproduksi lebih lanjut oleh Bio Farma untuk menjadi vaksin siap pakai.

Sejak awal, katanya, pemerintah juga terus menjalin komunikasi untuk mengamankan suplai vaksin Covid-19 dari berbagai sumber atau perusahaan lainnya. Saat ini, Indonesia telah menandatangani komitmen pengadaan vaksin dari dua perusahaan lain, yakni Novavax dan AstraZeneca.

“Kemarin Indonesia telah menandatangani komitmen suplai dari Novavax dengan menggunakan platform protein subunit rekombinan yang berasal dari Amerika Serikat sebesar 50 juta dosis. Kemudian dengan AstraZeneca dengan menggunakan platform viral vector berasal dari Inggris, juga sebesar 50 juta,” tuturnya.

Pemerintah juga sedang melakukan pembicaraan intens dan berkesinambungan dengan perusahaan lainnya, BioNTech-Pfizer, dari Jerman-Amerika Serikat untuk komitmen pengadaan vaksin Covid-19 lainnya.

Khusus vaksin yang berasal dari AstraZeneca, Medicines and Healthcare products Regulatory Agency (MHRA) atau regulator terhadap bahan obat dan alat kesehatan Inggris telah mengeluarkan emergency use authorization (EUA) atau izin penggunaan darurat vaksin tersebut. Hal tersebut menjadi kabar baik dikarenakan MHRA memiliki mekanisme reliance dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia.

“Melalui mekanisme reliance ini proses penerbitan emergency use authorization atas vaksin AstraZeneca di Indonesia akan lebih mudah. Hasil emergency use authorization di Inggris ini dapat dijadikan basis dan review dikeluarkannya emergency use authorization di Indonesia,” kata Retno.

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan dan Kementerian Luar Negeri serta pihak-pihak terkait lainnya, dikatakan, juga akan terus berkoordinasi erat untuk memastikan semua infrastruktur logistik vaksin di dalam negeri sesuai dengan kebutuhan jenis vaksin yang dipesan sehingga dapat mendistribusikan vaksin tersebut ke seluruh Indonesia dengan baik. Demikian dikutip dari presidenri.go.id.***(edy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru