Tuesday, March 31, 2026
Home > Cerita > Cerita Pendek > Ada Neng Ayu, di Ba’da Subuh, Cerpen Reva Dedi Utama

Ada Neng Ayu, di Ba’da Subuh, Cerpen Reva Dedi Utama

Jama’ah laki-laki Masjid Darussalam di komplek perumahan Metropolitan Jaya, bada’ sholat subuh, berbaris rapi ke luar masjid. Langit masih gelap, ufuk belum tampak. Aku ada di barisan itu.

“Assalamualaikum… Maaf Bapak, barangkali mau sedekah subuh untuk anak yatim.”
Aku menoleh, seorang perempuan sekitar 35 tahunan tersenyum manis, menyodorkan selembar pamflet, di halaman Masjid

Masya Allah… Itu perempuan ibarat lirik lagu: wajah oval, alis tebal, hidung mancung, bibir merah delima. Mirip Wulan Guritno, itu si artis film dan sinetron. Pas banget bila dipanggil neng ayu.

Tingginya sedagu aku, sekitar 165 centimeter. Badannya ramping, rambutnya hitam terurai sampai punggung. Eh..eh soal badan dan rambut cuma bayangan aku. Dia ‘kan pakai gamis dan jilbab berwarna hitam, jadi badan dan rambutnya tertutup.

“Waalaikumusalam… Terima kasih ya,” aku mengambil pamplet dari tangannya. Aku ingin memanggilnya neng ayu dan ingin membalas senyumnya. Namun aku tahan, khawatir dicap lelaki genit.

“Alhamdulillah, tolong dibantu seikhlasnya ya pak. Nomor rekeningnya ada di pamflet. Terima kasih ya pak,” kata neng ayu, suaranya empuk dan halus, enak didengar. .

Aku cuma mengangguk sambil berkata, “Insya Allah ya”. Dia tersenyum, aku ingin membalas senyumnya, dan memanggilnya neng ayu. Namun aku tahan, khawatir dicap lelaki genit.

Aku memilih berjalan ke parkiran motor, melawan hasrat untuk menoleh ke belakang. Waa-alah, sesampai di rumah baru sesal datang. “Goblok banget, koh ngak berani kenalan.”
++++
Subuh hari berikut, aku menunggu sampai ufuk datang, tapi neng ayu tidak muncul. Mau bertanya ke marbot atau satpam masjid, yaaa malulah..

Pada subuh ketujuh, ketika harap berkurang, eeh si neng ayu tampak di halaman masjid. “Sabar…. jangan kesusu.” Nalar ku mengingatkan. Aku pun menahan diri, sampai sikon yang tepat.

“Assalamualaikum…. neng sudah selesai bagi-bagi pamfletnya ,” aku menyapa.
“Waalaikumusalam……- Eh bapak, Alhamdulillah.. pamfletnya sudah habis. Terima kasih ya pak donasi yang kemarin.”
Aku mengangguk. “Saya Sobirin, maaf neng siapa?”
“Aku Sabrina, panggil Rina aja pak.”
“Woow Sobirin dan Sabrina, dua orang yang sabar. Jodoh punya nih,” nalar ku mulai ngawur.
“Neng Rina sendirian saja bagi-bagi pamfletnya ,” tanya ku , mencoba memperpanjang obrolan.
” Iyaa Pak, kebetulan Rina warga baru di komplek ini. Tinggal di cluster Mawar Merah, sejak bulan lalu,” jawab Sabrina

Wooww doi membuka diri, bisa diolah nih. “Neng Rina yang punya yayasan anak yatim?” tanya ku mencoba menelisik.
“Punya mantan suami, saya meneruskan saja. Suami wafat dua tahun lalu Pak.”
” Innalillah wa inna ilaihi rajiun, maaf ya neng ..”
” Ngak pa pa Pak, Allah punya kehendak. Nah.. bapak tidak sholat bareng ibu?”
“Ooh…. Ibu berpulang hampir setahun lalu. Kedua anak diboyong suaminya. Aku pensiunan, tinggal sama pembantu lelaki,” aku menjawab cepat dan lengkap.
Sabrina memberi respon simpatik,” ohh maaf yaaa Pak… Baiklah pak, Rina ijin pulang duluan. Mau antar anak sekolah,” Rina pamit, senyum dan harumnya tertinggal.

++++

Sejak subuh itu, aku bertemu Sabrina sekurangnya sekali dalam sepekan, sudah berlangsung sekitar dua bulan. Durasi pertemuan cuma sebentar, tapi berkesan. Aku pun percaya diri.

Sabrina bercerita, dia orang tua tunggal dengan satu putra, yang duduk di kelas tiga sekolah dasar. Di rumah tinggal bertiga dengan pembantu. Sehari-hari mengurus panti anak yatim, dibantu dua orang staff.

Menurut hitungan aku, Sabrina senang bertemu dengan ku. Dia selalu sumringah, bila diajak bicara.
Sesekali matanya memandang sayu pada ku. Ini yang membuat aku terpaku, lalu tak karuan.

Oh ya aku pun sudah memanggilnya neng ayu. “Aduh cuma bapak yang manggil neng ayu, jadi ge-er aku,” kata Rina dengan suara halus merdu.

Menurut naluri ‘militer’ ku, sudah saatnya menyampaikan proposal maksud dan tujuan. Pokoknya mesti berani, buang rasa malu. Diterima syukur Alhamdulillah. Kalau ditolak, yaa sudah resiko.

“Neng ayu bagaimana kalau kita sarapan bubur ayam???
“Bubur ayam yang di sebelah indomaret Pak? Enakk tuh, ayyyuuukk mau banget.”
Wa-alah mau toh. Padahal mikirin ngajak makan bubur ayan ini, sampai sepekan. Takut ditolak, ternyata neng ayu mau. Aku pun semakin percaya diri.

“Neng ayu sering makan di sini?” tanya ku sambil mengaduk bubur.
“Ngak pernah pak, biasanya dibungkus dibawa pulang. Ini salah satu bubur ayam paling enak.”
“Neng ayu kenapa masih sendiri, apa tidak punya rencana menikah lagi,” tanya ku, sambil menatap wajah Rina.

Kriing…. kring … Kriing telepon genggam Sabrina berbunyi, “maaf yaa pak ada yang telepon,” kata Neng dengan wajah senang. Aku mengangguk mengiyakan.

“Halloo mas.. aku lagi makan bubur ayam dengan pak Sobirin di sebelah Indomaret.. Ke sini saja ya.” Suara neng ayu bernada riang..

Hati ku berdegub ketika neng ayu berkata “halloo mas…….” Tapi galau ku terputus, sebab neng ayu bertanya, “bapak tadi tanya apa?”
“Neng ayu apa sudah punya calon pendamping lagi.” tanya aku dengan nada pelan, sambil menatap matanya..

“Ohhh… Alhamdulillah.. pak. Tadi yang telepon itu Mas Wahyu. Teman kuliah dulu. Kami sedang pendekatan. Mohon doanya ya pak,” jawab Rina renyah..
“Wa-alah gitu toh,” kata ku spontan. “Iya pak sudah p-d-k-t selama dua bulan ini. Mas Wahyu mau ke sini, kata Neng ayu, lalu menyeruput bubur ayam kesukaannya. Tanpa merasa bersalah.

Sementara aku terguncang, ingin cepat pulang. Ingin memaki diriku di depan cermin. “Makanya jangan ge-er aki-aki genit, lupa sama umur kau.”
Yang pasti, aku gelisah tak karuan, menunggu kedatangan Wahyu si ‘kutu kupret’. Bubur ayam yang tadinya maknyuuss, pun jadi hambar.

***

jakarta, maret, 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru