Wednesday, April 1, 2026
Home > Cerita > Cerita Khas > Sean Gelael kalah tapi tidak menyerah,      Catatan A.R. Loebis 

Sean Gelael kalah tapi tidak menyerah,      Catatan A.R. Loebis 

Judul artikel ini ada kata “kalah” merujuk pada hasil perlombaan Le Mans 24 Jam yang diikuti Sean Gelael, saat ia dan timnya tidak berhasil menyentuh garis finis.

Ia berlomba hanya sekitar enam jam sejak start Sabtu malam (14/5/25), karena kendaraan McLaren 720 S yang digeber tim United Autosport itu mengalami masalah ketika dikemudikan rekan setim Sean, Darren Leung (Inggris).

Mesin kendaraan bermasalah, merupakan frasa biasa dalam satu kejuaraan bermotor. Ini merupakan konsekuensi logis dalam olah raga professional, yang menggunakan perangkat alat pendukung dalam bertanding.

Semua pebalap memiliki risiko mengalami kerusakan kendaraan mereka ketika sedang berlomba. Saling pacu kecepatan di lintasan setelah dilepas berbarengan di garis start, juga menyimpan risiko besar, dapat bersenggolan dengan kendaraan lain bahkan dapat terjadi kecelakaan.

Sean pun beberapa kali mengalami kecelakaan, umumnya akibat “human error”, seperti pernah dirasakan Sean saat ditabrak lawan ketika saling pacu kecepatan. Ini beberapa kali terjadi, bahkan saat ketika Sean sedang berada di urutan depan.

Seann Gelael ketika menang di Spa, Belgia, 2022. (jagonya ayam)

Di Spa Franghorchamps, Sean dua kali mengalami nasib nahas saat berlomba sehingga tidak dapat meneruskan lomba.

Pada 2024, Sean yang sedang bertarung di posisi atas dan berpeluang ada di podium atau bahkan menang di kelas LMGT3, ditabrak oleh Earl Bamber yang bertarung di kelas Hypercar.

Sean mengalami drama sama ketika sedang berlomba di Fuji pada 15 Oktober 2024 sehingga tidak dapat melanjutkan lomba, padahal pada 2023 ia naik podium di sirkuit di kaki gunung ikonik itu.

Sementara tahun ini (2025) Sean ditabrak sesama pebalap LMGT3 di lokasi yang hanya berjarak dua tikungan dari insiden 2024. Tapi pantas dikenang, di sirkuit itu pula Sean pernah menang P1 pada kejuaraan 2022.

Sean Gelael ketika naik podium di Fuji. (jagonya ayam)

Nah, pada Sabtu malam, Sean bersama rekannya Darren Leung dan Mira Sato (Jepang) sudah melakukan persiapan dan bertarung seru di sesi pra-lomba, termasuk ketika Sean berjuang keras melewati sesi H1, tampil prima pada awal lomba.

Perlombaan pun berlangsung menegangkan dan pada layar yang disiarkan live oleh KUY Entertainment, terlihat sebanyak 6,2 ribu pemirsa menyaksikan dan saling berebut menyatakan komentar mereka dalam “live chat”.

Coba kita simak jalannya perlombaan itu lewat laporan berikut ini:

Balapan Pling Singkat Sean di Le Mans, Namun Siap Bangkit Setelah Ini  

Sepanjang keikutsertaan Sean Gelael di 24 Hours of Le Mans, race tahun 2025 adalah yang tersingkat baginya. Dan memang biasanya masalah teknis jadi momok bagi siapa pun yang terpaksa menepi lebih dini pada lomba ketahanan legendaris sekaligus bisa kejam ini.

Secara performa sebenarnya Sean, Marino Sato, dan Darren Leung termasuk stabil untuk paling tidak membawa pulang poin penting setelah mereka start dari P7. Bahkan ketika Leung yang menyetir sejak start lalu sempat terperosok ke posisi 20-an karena kondisi lomba, ketiga pebalap tim United Autosports 95 dan mengendarai McLaren 720S LMGT3 ini tidak panik. 

Perlahan posisi lomba mereka membaik, termasuk saat pengemudi berganti dari Leung ke Sato dan lalu ke Sean. Top 10 sudah senantiasa dalam genggaman. Tim-tim yang pada akhirnya finis mengisi lima besar atau bahkan podium kelas LMGT3, pada suatu waktu posisi lombanya bahkan pernah di bawah Sean cs. 

Namun pada saat Leung kembali menyetir, masalah menimpa ketika balapan baru berjalan sekitar enam jam. Mobil McLaren itu menepi di Mulsanne Straight di sekitar Tikungan Michelin. Leung mencoba menghidupkan kembali mesin mobil itu, namun tetap tidak bisa. Dan lantaran saat mengalami problem itu posisi mobil kira-kira di pertengahan sirkuit, mekanik dan teknisi pun tak bisa ikut membantu selayaknya kalau mobil ada di garasi. Karena semua kondisi itulah perjuangan Sean, Marino, dan Darren mesti berstatus DNF (do not finish).  

Sean Gelael dan Darren Leung serta Mira Sato trio sahabat di kejuaraan FIA WE 2025 dalam tim McLaren United Autosport. (jagonya ayam)

Bagi Sean, balapan di Le Mans tahun ini menjadi yang tersingkat sejak dia ikut FIA WEC pada 2021. Pada tahun debutnya itu dia berhasil hingga full 24 Jam dan bahkan meraih hasil baik, P2. Lalu pada 2022 walau berstatus DNF, tapi Sean dkk. sudah balapan selama sekitar 19 jam. Tahun 2023 dan 2024 Sean berlomba lengkap 24 Jam, masing-masing dengan hasil finis P5 dan sekali lagi P2.

“Masalah pada power unit mobil di luar kendali kami, tapi kami tetaplah berjuang sebagai tim, menang atau kalah. Kami janji memberikan yang terbaik pada kesempatan berikut,” ujar Sean, Brand Ambassador Pertamax Turbo.

Sementara itu kubu United Autosports menyatakn: “Kerusakan mekanis itu terkait dengan drivetrain (sistem penggerak). Darren lalu berkomunikasi dengan kru lewat radio untuk mencoba melakukan perbaikan, tapi kerusakan itu sudah pula menyentuh sistem penyaluran bahan bakar. Darren mencoba lagi, masuk ke gigi maju, tapi tetap tidak bisa karena dampak kerusakan awal tadi.”

Race 24H of Le Mans kelas LMGT3 pada balapan Sabtu (14/6) hingga Minggu di Circuit de la Sharte itu dimenangi tim Manthey 1ST PHOM 92 (Porsche). Untuk kelas LMP2 Inter Europol 43 nomor satu, sedangkan penguasa kelas utama, Hypercar, adalah tim AF Corse 83 (Ferrari). (mr) 

Mengenal de la Sharte

Sean Gelael amat mengenal Sirkuit de la Sharte yang digunakan untuk lomba Le Mans 24 Jam, karena ia sudah beberapa kali tampil di sirkuit kondang itu.

Tak perlu dipungkiri, Sean merupakan pebalap Indonesia pertama yang tampil di lintasan itu untuk mengikuti laga Le Mans 24 Jam dan tentu yang pertama pula merasakan hangatnya podium.

Ia tampil dalam kejuaraan FIA WEC 2021 di de la Sharte dan dengan mengagumkan meraih hasil baik di P2. Pada 2022 walau berstatus DNF, tapi Sean dkk. sudah balapan selama sekitar 19 jam.

Pada kejuaraan Le Mans 24 Jam 2023 Sean finis di tangga kelima (P5) dan pada 2024 kembali meraih hasil P2.

Pada musim lomba 2024, tepatnya pada 21 April, Sean pernah juara pertama (P1) saat berlomba di kejuaraan FIA WEC di Imola. Ia bahkan menjadi “history maker” bagi pabrik mobil yang dikendarainya.

Sean dan ayahandanya Ricardo Gelael dan bunda Rini Gelael ketika tampil dan juara di Imola. (jagonya ayam)

Hasil lomba menjadi catatan sejarah bagi pabrik BMW, juara untuk pertama kalinya pada lomba ketahanan FIA WEC, yang sudah berlangsung sejak 2012 dan Sean Gelael menjadi salah satu pebalap pembuat sejarah. Sean yang didukung tim WRT dan mengendarai mobil BMW M4 dengan nomor pintu 31, bertengger di P1 bersama rekannya Darren Leung dari Inggris dan Augusto Farfus asal Brasil.

Ketika itu, di hadapan sekitar 73,600 penonton, Sean bersama rekannya mengalahkan rekan setim yang mengendarai mobil WRT 46 di kelas LMGT3,  Valentino Rossi, – di hadapan penonton di kandangnya sendiri – yang tampil penuh satu musim untuk pertama kalinya pada 2024.

Pada musim 2025, Sean membalap tidak hanya di kejuaraan FIA WEC, melainkan juga pada Kejuaraan GT 3 Dunia Eropa  (GT World Challenge Europe) pada 13 April. Sean menempati posisi P2 pada kejuaraan yang diadakan di Paris dan baru pertama kali diikutinya.

Lomba tidak mudah dilakukan Sean Gelael, Darren Leung, dan Dan Harper pada balapan pembuka ini. Ketiga pebalap yang mengendarai BMW M4 GT3 tersebut start dari P8 di kelas Bronze Cup dan finis di P2 di Sirkuit Paul Ricard, Prancis.

Pada putaran kedua lomba ketahanan GT3 Dunia Eropa 1 Juni 2025, Sean DKK yang didukung Tim Paradine Competition 991 dan mengendarai BMW M4, mengawali laga dari urutan P 6 dan finis di P6.

Sean selanjutnya akan mengikuti laga putaran kelima FIA WEC 2025 di Interlagos, Brasil pada 13 Juli dengan tajuk 6 Hours of Sao Paulo.

Pebalap profesional

Seorang atlet professional harus siap berlaga kapan pun dan dimana pun, teremasuk atlet Indonesia, Sean Gelael.

Dalam contoh saat Sean ditabrak lawan ketika membalap dengan kencang, menunjukkan betapa suatu proses dalam pertandingan selalu diwarnai berbagai hal, tentu saja termasuk faktor kebetuntungan (luck factor).

Sean Gelael bersiap turundi salah satu lomba GT3 Dunia Eropa. (jagonya ayam)

Proses lomba yang merupakan hakikat olahraga terjadi pada semua atlet dan faktor keberuntungan pun menyertai hasil lomba, sehingga ada kalah dan ada menang.

Pada laga Le Mans 24 Jam 2025, Sean kalah tapi tidak menyerah, karena motto atlet profesional adalah: Siap bertanding di mana pun dan kapan pun. Kekalahan merupakan hakekat lomba dan akan terjadi dalam setiap laga. Yang penting, sifat seorang atlet harus kesatria, baik sedang bertarung mau pun di luar pentas laga.

Sean bisa kalah tapi tidak akan pernah menyerah. Begitu usai laga di Le Mans 24 Jam 2025, ia berujar “Kami akan bangkit dan saya  berjanji akan tampil lebih baik pada kesempatan berikutnya!”.  (arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru