Tuesday, March 31, 2026
Home > Berita > Risiko Berprasangka Dan Membuka Aib Sendiri

Risiko Berprasangka Dan Membuka Aib Sendiri

“Berprasangka atau mengunjingkan orang lain salah satu yang sangat susah saya hindari. Sulit, meski telah berusaha.” Ini adalah pengakuan jujur dari seorang teman dalam suatu percakapan, yang juga dibenarkan oleh beberapa rekan lainnya dalam kesempatan kumpul-kumpul usai salat subuh.

“Padahal saya tahu perbuatan itu berdosa,” katanya lagi.

Salah satu surah yang menegaskan larangan berprasangka (buruk) atau ghibah adalah surah Al-Hujarat ayat 12, seperti berikut:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”(QS: Al-Hujarat 12)

Surah Al-Humazah yang terdiri dari 9 ayat lebih tegas lagi menyebutkan ancaman bagi pengghibah, seperti berikut: 1.Celakalah setiap pengumpat lagi pencela; 2.yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. 3.

Dia (manusia) mengira bahwa hartanya dapat mengekalkannya. 4.Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) Hutamah. 5.Tahukah kamu apakah (neraka) Hutamah? 6.(Ia adalah) api (azab) Allah yang dinyalakan. 7.yang (membakar) naik sampai ke hati. 8. Sesungguhnya dia (api itu) tertutup rapat (sebagai hukuman) atas mereka, 9.(sedangkan mereka) diikat pada tiang-tiang yang panjang.

Dosa atau risiko bagi orang-orang yang mengghibah tidak main-main, tapi seperti dikatakan rekan tadi, sulit untuk dihindari, karena yang namanya ghibah ada saja yang memulai. Awalnya sih hanya menanyakan soal seseorang atau membicarakan siapa ustadz favorit di masjid, tapi kemudian tanda disadari berlanjut pada membicarakan keburukan orang lain.

Semisal, ketika pembicaraan berkisar pada para ustadz yang mengisi ceramah atau kajian, eh tiba-tiba terpokus pada seorang ustadz yang dianggap tak pahan soal agama, karena masih menjalani beberapa hal yang dilarang oleh agama, seperti suka mengajak jamaah kelompoknya dangdutan (nyanyi) dan joget-joget, termasuk melibatkan ibu-ibu yang kebanyakan sudah berusia senja. Hal itu tentu bisa melalaikan dan mengandung unsur negatif, mendorong terjadinya maksiat, cabul, mengundang sahwat, dan menimbulkan fitnah.

Pembicaraan bisa juga menyerempet pada ustadz yang mengutamakan bayaran (honor) yang besar di antara masjid yang mengundangnya. Yang kerap pula menjadi sebab munculnya ghibah, karena ucapan, juga perbuatan seseorang yang tidak sesuai kenyataan. Sok hebat, punya duit dan lainnya, tapi kenyataannya mijam kemana-mana.

Contoh di atas kerap dianggap bukan ghibah, tapi fakta, yang harus dikoreksi, dengan alasan musik yang  dapat mengundang maksiat adalah haram, yang di kalangan sunnah perbuatan tersebut diyakini menimbulkan dosa. Begitu juga tentang ustadz yang mengutamakan honor yang lebih besar dengan membatalkan kesanggupan mengisi di masjid yang telah mengundang sebelumnya, kerap pula dikatakan harus dikoreksi karena ada larangan.

Namun banyak yang tidak memahami bahwa ghibah itu artinya adalah membicarakan keburukan atau aib seseorang yang tidak hadir dalam suatu pembicaraan, meski apa yang dibicarakan benar adanya, namun tidak disukai yang bersangkutan. Gunjing atau bergosip dalam Islam dilarang keras dan dosa besar. Perbuatan itu setara dengan memakan daging saudaranya yang telah mati.

Memang ada ghibah yang diperbolehkan, namun tujuannya harus benar-benar untuk maslahat atau menghilangkan kemungkaran, bukan untuk mencela atau menggunjing.

Menurut hadis, ghibah yang diperbolehkan adalah dalam kondisi darurat dan untuk tujuan maslahat syar’i, seperti mengadukan kezaliman, memperingatkan dari keburukan/kemungkaran, meminta fatwa, mengidentifikasi seseorang (jika hanya itu cara mengenalnya), misalnya menyebutkan si anu yang pincang itu.

Hal lain yang diperbolehkan adalah membicarakan orang yang terang-terangan berbuat maksiat, bukan untuk menjatuhkan, namun untuk mencari solusi atau mencegah mudharat yang lebih besar.

Aib Sendiri

Dalam Islam juga sangat dilarang  menceritakan aib atau dosa diri sendiri, karena sudah ditutupi Allah. Mengumbar aib sendiri bisa menghapus ampunan, merusak kehormatan diri, dan menunjukkan ketidaksyukuran atas rahmat Allah yang menutupi kesalahan.

Ada pengecualian, semisal kita bertujuan meminta nasihat dari orang yang kompeten, seperti ulama atau ustadz, soal agama, atau terkait kesehatan, hukum, dan lainnya.

Kenapa menceritakan aib sendiri dilarang? Karena dianggap merusak ampunan.  Hadits yang diriwayatkan Bukhari-Muslim menyebutkan; umat akan dimaafkan kecuali mereka yang terang-terangan berbuat dosa, termasuk yang menceritakan dosanya sendiri setelah Allah menutupi.

Aib dalam Islam merujuk pada kekurangan, kesalahan, atau hal-hal yang memalukan yang sebaiknya tidak diketahui orang lain, walau sulit mencari orang yang sempurna.

Islam mengajarkan kita untuk menutup aib, baik itu aib sendiri maupun aib orang lain, karena membuka aib bisa membawa dampak negatif.

Islam menekankan perlunya menjaga kehormatan dan harga diri. Membuka aib sendiri tanpa alasan yang jelas dan mendesak sangat tidak dianjurkan. Firman Allah  dalam Q.S An-Nur ayat 19 menyebutkan: “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.”

Ayat di atas memerintahkan  umat untuk tidak menyebarkan hal-hal yang memalukan diri sendiri atau merusak kalangan orang beriman. Digariskan supaya kita berusaha memperbaiki diri sendiri tanpa perlu mengumbar kesalahan atau kekurangan kepada orang lain, sekaligus menjaga martabat dan harga diri.

Islam mengajarkan untuk menutup aib kita dalam upaya menjaga kehormatan dan harga diri. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam  bersabda: “Barang siapa menutup aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.” Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.***Dari berbagai sumber.(Djunaedi Tjunti Agus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru