Thursday, December 01, 2022
Home > Berita > Minyak mentah sedikit naik, OPEC memantau harga minyak; Qatar hadapi tekanan inflasi

Minyak mentah sedikit naik, OPEC memantau harga minyak; Qatar hadapi tekanan inflasi

Mimbar-Rakyat.com (Riyadh) – Harga minyak naik pada hari Selasa (27/9), setelah jatuh ke posisi terendah dalam sembilan bulan sehari sebelumnya, pada indikasi bahwa Organisasi Negara Pengekspor Minyak, yang dikenal sebagai OPEC, dapat memberlakukan pengurangan produksi untuk menghindari jatuhnya harga lebih lanjut.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November naik 65 sen, atau 0,77 persen, menjadi $84,71 per barel pada 0502 GMT. Demikian dilaporkan Arab News mengutip Reuters.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS untuk pengiriman November naik 64 sen menjadi $77,35 per barel.

Menteri Perminyakan Irak Ihsan Abdul Jabbar pada hari Senin mengatakan bahwa OPEC dan sekutunya termasuk Rusia, yang dikenal sebagai OPEC+, sedang memantau situasi harga minyak, ingin memiliki keseimbangan di pasar.

“Kami tidak ingin kenaikan tajam harga minyak atau keruntuhan,” katanya dalam wawancara yang disiarkan televisi di TV pemerintah.

“Kami memasuki periode yang menantang. Faktor global menyebabkan penurunan (harga minyak), yang paling penting pertumbuhan yang lebih rendah dan tingkat inflasi yang lebih tinggi, ”kata Abdul Jabbar.

OPEC+, tahun ini telah meningkatkan produksi minyak, berusaha untuk mengendurkan rekor pemotongan yang dilakukan pada tahun 2020 setelah pandemi memangkas permintaan.

Sementara  Menteri Negara Urusan Energi Qatar mengatakan pada hari Senin bahwa tekanan inflasi telah menyebabkan kenaikan biaya produksi, penundaan keputusan investasi, dan peningkatan ketidakpastian kebijakan di industri minyak dan gas.

Menteri Saad Al-Kaabi mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa sektor tersebut perlu membantu orang-orang menyadari bahwa tuntutan untuk membatalkan hidrokarbon “tidak hanya tidak realistis tetapi, seperti yang telah terbukti beberapa bulan terakhir, berbahaya bagi transisi yang realistis dan dipercepat.”

Kaabi mengatakan bahwa hidrokarbon “tidak akan hilang dalam waktu dekat.” Oleh karena itu, bentuk hidrokarbon yang lebih bersih sangat penting untuk transisi yang bertanggung jawab.

“Gas alam tentu saja merupakan bahan bakar fosil terbersih, dan solusi andal dan ekonomis yang sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah intermiten, ketika matahari tidak bersinar, atau ketika angin tidak bertiup,” katanya.***(edy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru