Wednesday, July 06, 2022
Home > Berita > Sri Lanka mengumumkan darurat pangan, saat kematian akibat Covid-19 meningkat pesat

Sri Lanka mengumumkan darurat pangan, saat kematian akibat Covid-19 meningkat pesat

Pekerja membongkar produk makanan penting di pasar grosir di Kolombo. (Foto: Chamila Karunarathne-EPA/Al Jazeera)

Kenaikan tajam terjadi pada harga gula, beras, bawang merah dan kentang. Sementara antrian panjang telah terbentuk di luar toko-toko, karena kekurangan susu bubuk, minyak tanah, dan gas untuk memasak.

 

Mimbar-Rakyat.com (Kolombo) – Sri Lanka telah mengumumkan keadaan darurat atas kekurangan pangan karena bank-bank swasta kehabisan devisa untuk membiayai impor. Semetara Presiden Gotabaya Rajapaksa memperkenalkan peraturan darurat untuk mengendalikan harga bahan makanan utama.

Dalam keadaan negara menderita krisis ekonomi yang parah, Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa pada hari Selasa (31/8) menyatakan dia telah memerintahkan memberlakukan peraturan darurat untuk melawan penimbunan gula, beras, dan makanan penting lainnya.

Rajapaksa telah menunjuk seorang perwira tinggi Angkatan Darat sebagai Komisaris Jenderal Layanan Esensial untuk mengoordinasikan pasokan beras, beras, gula, dan barang-barang konsumsi lainnya. Demikian dikutip dari Al Jazeera.

Langkah tersebut menyusul kenaikan tajam harga gula, beras, bawang merah dan kentang. Sementara antrian panjang telah terbentuk di luar toko-toko karena kekurangan susu bubuk, minyak tanah dan gas untuk memasak, meskipun negara itu berada di bawah jam malam 16 hari hingga Senin depan, karena peningkatan kasus Covid-19.

Menteri Perdagangan Bandula Gunawardena mengatakan beberapa pedagang menimbun stok sehingga mengakibatkan kelangkaan bahan pangan dan meresahkan masyarakat.

Pemerintah telah meningkatkan ancaman hukuman untuk penimbunan makanan tetapi kekurangan itu datang ketika negara berpenduduk 21 juta itu berjuang melawan gelombang virus corona yang ganas yang merenggut lebih dari 200 nyawa sehari.

Ekonomi menyusut dengan rekor 3,6 persen pada tahun 2020 karena pandemi dan pada Maret tahun lalu, pemerintah melarang impor kendaraan dan barang-barang lainnya, termasuk minyak nabati dan kunyit, bumbu penting dalam masakan lokal, dalam upaya untuk menghemat devisa. .

Importir masih mengatakan bahwa mereka tidak dapat memperoleh dolar untuk membayar makanan dan obat-obatan yang boleh mereka beli.

Dua minggu lalu, Bank Sentral Sri Lanka menaikkan suku bunga dalam upaya untuk menopang mata uang lokal.

Cadangan devisa Sri Lanka turun menjadi $2,8 miliar pada akhir Juli, dari $7,5 miliar pada November 2019 ketika pemerintah mulai menjabat dan rupee telah kehilangan lebih dari 20 persen nilainya terhadap dolar AS pada waktu itu. Itu menurut data bank.

Menteri ESDM Udaya Gammanpila mengimbau pengendara untuk hemat BBM agar negara bisa menggunakan devisa negara untuk membeli obat-obatan esensial dan vaksin.

Seorang pembantu presiden telah memperingatkan bahwa penjatahan bahan bakar dapat diperkenalkan pada akhir tahun kecuali konsumsi dikurangi.

Sementara itu, ada peningkatan pesat dalam kematian Covid-19 di Sri Lanka dalam beberapa minggu terakhir, dengan lebih dari 200 kematian sehari dan lebih dari 4.500 kasus harian dilaporkan selama 10 hari terakhir. Sri Lanka telah mencatat 8.991 kematian karena Covid sejak awal pandemi, menurut angka resmi.***Sumber Al Jazeera da kantor berita. (edy)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru