Wednesday, February 08, 2023
Home > Cerita > Cerita Khas > Lapangan Udara Berastagi,   Catatan Hendry Ch Bangun  

Lapangan Udara Berastagi,   Catatan Hendry Ch Bangun  

Hendry Ch Bangun. (mimbar-rakyat.com)

Setiap kali melewati kota Berastagi menuju desa Batukarang untuk ziarah ke makam ayah dan kakek-nenek, ataupun ke Tiganderket tempat kakek dan nenek dimakamkan, kami selalu melalui Simpang Empat. Memotong jalan, mempersingkat jarak dan waktu,  tidak lewat Ibukota Kabupaten Karo, Kabanjahe. Berastagi dikenal sebagai tempat wisata udara dingin bagi warga kota Medan dan sekitarnya sehingga akan selalu dipadati turis di akhir pekan.

Setelah Tugu Kol, belok ke kanan terbentang jalan lurus panjang yang tertulis papan Jalan Udara atau orang setempat menyebut lapangan udara yang kini telah berubah bentuk menjadi lahan tanaman kol, wortel, tomat, jeruk dll. Membentang sejauh beberapa kilometer, jalan itu ada sedikit berbelok tapi lurus lagi sebelum sampai di simpang empat. Di sini kalau jalan ke kiri mengarah ke Kabanjahe, ke kanan ke Danau Lau Kawar yang juga bisa terus ke Medan via Langkat, dan bila lurus akan sampai di Kecamatan Payung. Ke arah inilah kampung halaman saya.

Berastagi menjadi “sesuatu” bagi saya karena terkait dengan ayah dan kakek. Jadi suatu ketika saya bertanya ayah soal tanggal lahirnya, yang tertulis di KTP, ijazah, dan di makam almarhum. Apa waktu itu sudah dicatat di administrasi kampung, atau sekarang dibuat akte lahir. Ternyata hanya ingatan atas kejadian tertentu.

“Bapak lahir saat peresmian lapangan udara Berastasi. Waktu itu Bulang (kakek) bersama teman-temannya pergi ke keramaian yang diadakan menyambut acara peresmian,” ujarnya. Peresmian disamakan dengan hari lahir Ratu Wilhelmina 30 Agustus sehingga ayah saya menyebut tanggal lahirnya juga 30 Agustus 1934.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana akhirnya Kakek saya (almarhum Malem Bangun) berjalan kaki sejauh 23 kilometer ke Batukarang, untuk menyambut anak lelakinya yang sudah lama ditunggu. Maklum selama ini anak-anaknya berjenis kelamin perempuan, padahal marga turun ke anak laki-laki, dan memiliki anak laki-laki adalah lambang regenerasi yang berlanjut. Anak perempuan, saat menikah, dianggap sudah “kehilangan” marga karena ikut suami.

Di Googlemap, perlu waktu 4 jam 18 menit untuk sampai di Batukarang sementara untuk masa kini dengan sepeda motor cukup 49 menit atau mobil selama 52 menit agar dapat memeluk anak tercinta. Melelahkan. Tetapi menurut cerita, orang Karo dulu sudah terbiasa berjalan kaki, seperti pedagang garam jalan kaki puluhan kilometer dari Karo ke Medan melalui bebukitan di Langkat untuk memenuhi   permintaan konsumen sejak ratusan tahun lalu. Mereka itu disebut Pergantang Sira (pemikul garam), yang bolak balik dari pegunungan ke dataran rendah untuk memperdagangkan garam.

***

Sebenarnya keramaian di berbagai pelosok di Hindia Belanda ada di setiap bulan Agustus dengan berbagai atraksi, yang melibatkan masyarakat, yang kalau diacu pada berita di suratkabar atau majalah, berupa kegiatan lomba-lomba atau turnamen sepakbola. Bukan hanya kalangan pribumi, warga Belanda atau Eropa juga ikut bertanding meramaikan suasana. Agustusan terus berlangsung ramai hingga kini namun dikaitkan dengan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Bendera yang terpampang pun beda, kalau di masa itu Merah-Putih-Biru, sekarang dwiwarna Sang Merah Putih.

Luchthaven Berastagi dibuat untuk kebutuhan warga dari luar negeri, khususnya orang super kaya dari Singapura, yang malas harus terbang ke Polonia dan lanjut via darat sekitar dua jam ke wisata dekat Gunung Sibayak itu. Berastagi menjadi tempat wisata popular sampai ke luar negeri, karena daerahnya dingin dengan pemandangan indah Gunung Sibayak yang kawahnya tampak dari bawah.

Di kawasan Gundaling sejak tahun 1900an telah dibangun villa mewah, dan di sana ditanam banyak bunga menambah indah kawasan. Di samping itu ada pula Danau Lau Kawar, yang sering disebut mirip Swiss, karena air kerap dihiasi kabut, berbatasan langsung dengan bukit menjulang kehijauan. Jarak tempunya hanya setengah jam dengan kendaraan, dari Berastagi.

Karena uang banyak dan tidak persoalan menghabiskannya untuk bersenang-senang, jutawan Eropa atau Tionghoa yang menetap di Singapura, tidak mau repot kena macet dijalan raya sekitar Sibolangit atau Bandar Baru sekarang ini. Mereka ingin langsung ke lokasi  maka solusinya adalah adanya sebuah lapangan udara di lokasi wisata. Ada dataran rata yang panjang di sela-sela bukti dan gunung. Entah berapa lama direncanakan dan dikerjakan oleh pemerintah Hindia Belanda, peresmian dilakukan pada tahun 1934.

Di suratkabar Medan, khususnya Pewarta Deli dan Sinar Deli, preview launching lapangan udara itu ramai diberitakan. Bagaimana ramainya persiapan di villa-villa di kawasan Dibuatlah ilustrasi jenis-jenis pesawat yang akan mendarat, ada pula persiapan balon udara ikut meramaikan acara. Dan menjelang Hari H, ada berita berupa pernyataan penyelenggara bahwa peresmian ditunda selama empat hari karena persoalan teknis penerbangan.

“Jadi, Bapak itu lahirnya 4 September 1934, karena pada hari itulah Lapangan Udara Berastagi diresmikan. Harus diubah itu di KTP,” kata saya waktu ke ayah yang juga berprofesi wartawan. Namun ayah tersenyum saja. “Ah sama sajanya itu, nggak perlu diganti,”katanya.  Ya memang merepotkan, karena tanggal itu sudah digunakan untuk berbagai keperluan.

***

Ya itulah jasa suratkabar yang menyebarkan informasi dan berita, terekam abadi dan dapat dimanfaatkan untuk banyak kepentingan. Medan, seperti juga Surabaya, Semarang, dan Jakarta, setelah Perang Dunia pertama berakhir, menjadi tempat tumbuh media cetak. Suratkabar dan majalah banyak terbit. Tidak hanya media umum tetapi juga media khusus seperti majalah wanita dan olahraga.

Pada tahun 1930an perekonomian di Sumatera Utara berkembang pesat karena menjadi pusat perkebunan tembakau, tanaman buah dan sayuran, yang diekspor ke luar negeri. Tembakau Deli menjadi standar di Eropa dan memiliki pasar yang besar. Pemerintah kolonial mengembangkan Medan sebagai kota modern, yang masih terlihat sekarang di kawasan Kota Tua dengan gedung kantor, bank, restoran, klub, yang bernuasan Eropa.

Kemakmuran itu juga ditandai dengan berkembangnya olahraga, ada banyak perkumpulan. Menurut berita di Pewarta Deli, klub rugby, atau sepakbola, dengan pemain Eropa, kerap melakukan eksibisi ke Penang. Rakyat kebanyakan pun ikut mendirikan klub sepakbola, perkumpulan bulutangkis, bola voli, tenis, dsb. Cermin minat olahraga yang tinggi ditandai dengan banyaknya iklan berjualan alat-alat olahraga baik di Pewarta Deli maupun Sinar Deli, dengan toko di kawasan Kesawan.

Tumbuh pesatnya olahraga ini tidak berbeda dengan di kota besar Jakarta, Makassar, Surabaya, Bandung, sehingga tercipta kompetisi antarklub. Di Jakarta misalnya di akhir tahun 1930-an itu, kompetisi antarklub bulutangkis sampai memiliki tiga divisi, sepakbola empat divisi. Di samping itu klub biasa uji coba ke luar negeri, seperti Hongkong dan Singapura, atau mengundang klub dari kedua negara itu untuk bertanding di Hindia Belanda.

Khusus untuk sepakbola bahkan ada kompetisi klub pribumi yang bergabung ke dalam Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), dan klub asing khususnya Belanda, yang berafiliasi ke Nederlands Indie Voetbal Bond (NIVB). Kompetisi klub di bawah NIVB direstui pemerintah, sedangkan kompetisi PSSI digelar sendiri sesuai kemampuan para pengurus. PSSI yang saat berdiri pada 19 April 1930 masih sebagai Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia, didukung klub dari Jakarta, Surabaya, Madiun, Magelang, Bandung, plus Mataram sebagai tuan rumah, diketuai Ir Suratin, berkedudukan di Mataram (Yogyakarta).

Kita mengetahui dari sejarah ketika Indonesia berpartisipasi sebagai peserta ke Piala Dunia tahun 1938 di Perancis, diwakili pemain-pemain klub di bawah NIVB, dan meninggalkan pemain PSSI, meskipun ada beberapa bagus. Penjaga gawang Maladi yang waktu itu bermain untuk Indonesia Muda Mataram dan dianggap terbaik, tidak ada dalam tim. Penjaga gawang dipegang Mo Heng. Indonesia di pertandingan perdananya sudah digasak Hungaria 0-6.

***

Lapangan Udara Berastagi, yang konon sempat dimanfaatkan Jepang untuk beberapa saat, kini tidak lagi berbentuk. Bangunannya pun tidak ada wujudnya. Revolusi sosial tahun 1950-an membuat tanah luas yang membentang beberapa kilometer itu direbut kembali menjadi milik rakyat. Jarak terbang yang singkat dari Medan dan menurunnya potensi dari luar negeri, membuat upaya mengembalikan fungsi awalnya juga tidak menarik.

Di sisi lain dibangun bandar udara Silangit bagi mereka yang ingin berwisata ke kawasan Danau Toba  dengan pesawat terbang, baik dari Medan maupun dari Jakarta. Ada pula jalan tol yang nanti akan mempermudah turis untuk menikmati keindahan danau terbesar di dunia itu, dari Medan atau kawasan Sumatera Utara lainnya. Sayangnya jalan yang menghubungan Berastagi dengan Danau Toba belum diperhatikan, padahal dua kawasan wisata ini memiliki daya tarik sendiri-sendiri dan bisa dijual dalam satu paket, kalau transportasinya mudah dan cepat.

Waktu terus berjalan, dunia pun berubah. Bagi saya Berastagi hanya perlintasan belaka, karena melewatinya dalam perjalanan dari Medan ke kampung halaman, bukan tempat bersantai atau berwisata—kecuali sesekali. Titik penginapan kini bergeser ke bawah, dimana hotel-hotel mewah dan titik keramaian dibentuk untuk dinikmati masyarakat.

Meski hanya perlintasan pusat kota Berastagi tetap  harus dipoles, agar menjadi lebih indah dan nyaman, untuk berjalan kaki ataupun ngopi, khususnya mengingat sejarahnya yang panjang. Sayang sekali bila hendak hati menghirup udara segar, yang didapat hanya asap angkot dan mobil angkutan.

***

Ciputat, 27 September 2022

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru