Irman berjalan dengan tertunduk menuju parkiran Tempat Pemakaman Umum (TPU) di kawasan Jakarta Selatan itu. Rahim yang berdampingan dengannya juga terdiam. Mereka baru saja mengantarkan seorang kawan lama yang meninggal dunia semalam dan dikuburkan siang ini setelah sakit beberapa hari.
Anto, kawan baik mereka, satu profesi kuli tinta untuk bidang liputan yang sama. Lebih 20 tahun bersama-sama, banyak suka duka, dan cerita di balik berita. Yang baik maupun yang buruk. Zaman kenakalan dan zaman kebaikan. Semua kini tinggal kenangan.
“Sudah selesailah cerita si Anto. Tutup buku,” ujar Rahim membuka pembicaraan. Jarak parkir cukup jauh, sekitar 100 meter.
“Kalau kata ustad Gus Baha, kita harus bersyukur kalau ada teman meninggal. Tidak akan lagi dia berbuat dosa. Stop. Tinggal menghitung timbangan, banyak mana yang hitam atau yang putih,” balas Irman.
“Kalau hidup, setiap saat kita dapat bermaksiat. Melihat perempuan jalan melenggok, iri sama teman yang gajinya lebih besar, menunda salat, korupsi. Bisa habis pahala yang sudah kita kumpulkan.”
“Apalagi untuk kita yang sudah berusia senja begini. Mesti waspada biar nggak tekor,” kata Rahim sambil tertawa. “Ya banyak senyum lah kalau jumpa orang. Mengucap salam, mengucapkan terima kasih setiap saat. Lumayan.”
Mereka berpisah di tempat parkir. Kembali ke rumah masing-masing. Sebenarnya Rahim yang suka sekali minum kopi tadi mengajaknya nongkrong sebentar di sekitar Kebayoran Lama. Katanya di sana ada warung yang kopinya enak, digiling sendiri karena berada dekat pasar. Tapi Irman menolak karena takut terkena macet. Dia trauma kalau pulang lewat jam 17.00, lalu lintas akan padat, pas pekerja pulang kantor, dan takut kehilangan salat magrib.
***
Setelah pensiun, azan menjadi patokan bagi aktivitas Irman. Kalau pergi dia menghitung apakah perjalanannya nanti mengganggu jam salat. Idealnya, dia ingin tiba kira-kira setengah jam sebelum waktu salat. Entah itu di tempat rapat, di tempat seminar, di kafe, ataupun di rumah. Atau minimal di tempat yang ada masjid.
Karena lalu lintas Jakarta yang sering tidak teramalkan macetnya, Irman juga kadang memilih naik KRL yang hitungan waktunya relatif tepat. Terlambatnya tidak akan lebih dari 5 menit, kecuali ada gangguan perjalanan seperti banjir, aliran listrik putus, atau apapun. Kalau bawa mobil, bahkan di jalan tol kadang kemacetan lebih parah.
Pernah istrinya bertanya, kok sampai segitunya, sehingga beberapa kali jam berangkat mereka dipercepat atau menunggu selesai salat dulu baru pergi.
“Salat itu penting. Harus ontime. Usahakan tidak terlambat apalagi berlambat-lambat meskipun sudah terdengar azan,” katanya.
“Santai dikit kan gak apapa. Allah itu kan Maha Pengampun,” kata istrinya dengan wajah tertawa.
“Kalau bisa dispilin, mengapa harus jam karet. Gitu loh.”
“Ya jangan marah dong. Serius amat.”
“Serius lah. Kalau berdoa, minta rezeki, minta dimudahkan, maunya cepat-cepat. Saat diundang untuk salat, ogah-ogahan,” katanya sambil mencolek pipi istrinya.
Tentu saja cara berpikir setiap orang berbeda. Wajar saja. Tapi bagi Irman, ada hal yang membuat dia ingin melakukan salat dengan waktu yang menurut dia sesuai tuntunan agama. Yaitu tepat waktu. Itu dijalaninya ketika masih bekerja.
Dia hampir tidak pernah terlambat untuk suatu acara. Selalu belasan menit sebelum acara dimulai. Meskipun kadang acaranya terlambat karena ada pejabat tinggi yang ditunggu, Irman tidak marah. Itu urusan masing-masing, pikirnya. Hidup adalah pilihan.
Alasan Irman agar dapat menjalankan salat dengan baik, tepat waktu, dan khususk, sederhana sebenarnya. Bagi dia salat adalah ucapan syukur, terima kasih, karena telah diberikan kehidupan yang menurutnya baik. Bahkan melebihi rara-rata kawannya semasa kuliah dulu.
Mengingat kembali kehidupan masa kecil di desa menemani neneknya. Masa-masa sekolah yang tidak mulus karena keterbatasan ekonomi orangtua sehingga sering saat membayar SPP, ibunya harus kesana-kesini mencari hutangan sebab ayahnya kadang terlambat gajian atau ada pengeluaran lain yang membuat uang keluarga terpakai.
Dia bahkan satu-satunya siswa di kelasnya yang tidak ikut study tour saat SMA karena tidak mampu bayar, salah satu contoh kehidupannya yang sulit. Kejadian serupa terjadi di bangku kuliah. Beruntung dia dapat beasiswa dan aktif dalam kegiatan kampus sehingga bisa menyelesaikan bangku perguruan tinggi dan menjadi sarjana, modal untuk bekerja.
Irman merasa beruntung akhirnya bekerja di perusahaan bonafide, memiliki pendapatan yang memadai, dan mampu menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi. Memiliki rumah meski awalnya dicicil tapi sudah menjadi milik sendiri. Demikian pula kendaraan yang semula dicicil di kantor sebagai kendaraan jabatan dinas tetapi akhirnya dapat dia lunasi.
Irman menyadari salah satu kekurangannya adalah salat yang bolong-bolong. Terlalu sibuk bekerja akhirnya waktunya lewat. Apalagi kalau bertugas keluar kota. Dan kemudian karena malas, dia biarkan saja. Kadang sudah sampai di rumah, kelelahan, dia langsung tidur saja. Tidak ada rasa bersalah. Biasa saja.
Sampai suatu hari dia bertemu teman yang dia lihat selalu salat tepat waktu. Temannya itu kalau kebetulan bersama keluar kota, selalu memastikan salat di kesempatan pertama. Masjid di tepi jalan. Di rest area. Di hotel tempat acara. Hatinya tersentuh.
“Banyak sekali dosa kita di masa muda. Kalau sudah bau tanah, salatnya disiplin sedikitlah. Kita tidak pernah tahu kapan dipanggil pulang,” kata Sakti, temannya itu. “Salat itu kewajiban utama. Yang ditanya kalau kita mati nanti, pertama ya salatnya. Baru yang lain.”
Irman lalu mulai baca-baca buku agama. Cari-cari informasi religius dari You Tube, dari Instagram, dari Tiktok, dan medsos lainnya, untuk menambah pengetahuan. Lalu dia simpulkan yang paling sesuai dengan kebutuhannya.
“Aku kurang bersyukur,” katanya. Sebenarnya Irman rajin bersedekah. Dia pun tidak pernah absen berpuasa Ramadhan. Selalu bersikap baik kepada orangtua, dan tetangga. Tapi salatnya dia merasa masih belum baik.
“Dengan salat, manusia menunjukkan diri sebagai orang yang tunduk kepada Allah Yang Maha Agung. Salat itu intinya sujud, posisi terendah manusia di hadapan Sang Pencipta. Menyatakan dirinya adalah hamba, yang tidak ada apa-apanya, pasrah kepada Sang Pencipta Alam Semesta. Berserah diri,” kata Irman dalam hati mengingat sebuah ceramah.
“Saat sujud itu, Anda dapat berdialog dengan Allah. Berterima kasih, bersyukur, menyampaikan rasa bahagia karena rahmat yang dicurahkanNya. Masih bisa hidup sehat, punya keluarga yang saling mencintai, punya rezeki berteduh di rumah yang tidak bocor, punya teman baik. Dan banyak nikmat yang kalau diurai, kita tidak akan selesai merincinya sampai kapanpun,” ujar ustad lain yang dia tonton ceramahnya. “Anda juga bisa memohon, meminta rezeki, diberi kemudahan dalam urusan tertentu, dilindungi dari bencana, dilindungi dari orang-orang jahat dan khianat. Minta apa saja. Jadi kalau salat sendiri, silakan sujud sampai 10 menit atau lebih.”
Irman mendapat keterangan pula, berdoa sehabis salat merupakan saat paling makbul, lebih didengarkan Allah SWT dibanding situasi yang lain.
“Makanya sehabis salat, masih di posisi duduk yang sama, berdoa sebanyak mungkin. Jangan buru-buru pergi dari masjid. Puji kebesaranNya, pakai namaNya yang baik. Lalu silakan meminta. Itu doa yang manjur,” kata orang ahli agama lainnya.
Walaupun belum jam pulang kantor, lalu lintas selepas pekuburan itu agak ramai. Tampaknya ada pesohor yang meninggal juga dan dikubur saat dia beranjak pulang. Banyak kendaraan yang mengantar ke peristirahatan terakhir, membuat jalan yang hanya dua jalur itu menyempit karena harus memberi jalan pada ambulans dan rombongan.
Irman mencoba bersikap positif, bersabar. Dia mengalah ketika beberapa sepeda motor memberi jalan pada mobil jenazah dan pengikutnya. Tokh waktu masih cukup, untuk mengejar salat magrib di rumah nanti, katanya dalam hati.
Benar saja. Tidak sampai 15 menit usai mandi setibanya di rumah, azan berkumandang. Setelah meneguk segelar air putih hangat, dia memasang kopiah di kepalanya dan mengambil sajadah, lalu berjalan menuju masjid. Bismillah.
***
Ciputat 4 Desember 2025.
