Tuesday, March 31, 2026
Home > Cerita > Cerita Pendek > Mencari Diri, Cerpen Hendry Ch Bangun

Mencari Diri, Cerpen Hendry Ch Bangun

Bulan lalu adalah ulang tahunnya. Artinya sudah lima tahun Sareh menjalani masa pensiun. Pensiun dari tempat bekerja bukan berarti kegiatannya habis. Karena aktif berorganisasi, dia masih ikut rapat, ikut acara, bahkan sesekali memberi pelatihan bagi yunior atau mereka yang magang. Tidak jarang pula dia keluar kota.

Tetapi setelah anak cucunya membuat pesta ulang tahun khusus, pikiran Sareh sedikit terusik. Kok aku kurang dekat cucu-cucu, katanya dalam hati. Padahal teman-temannya kalau bercerita, kerap mengajak cucu mereka ke tempat hiburan anak atau tempat pariwisata. Minimal ke mal, makan bersama atau bermain seperti dilakukan mantan Presiden Joko Widodo.

“Kamu sudah hampir 40 tahun bekerja, kenapa masih sok sibuk,” kata hatinya menggugat. “Kapan menikmati masa pensiun, bersenang-senang dengan keluarga, atau berkunjung ke museum, ke toko buku, atau berlibur ke luar kota?”.

Ada rasa bersalah dalam dirinya. Sewaktu aktif menjadi pegawai di suatu perusahaan, dia selalu berangkat pagi sekali dan pulang malam karena kemacetan lalu lintas. Jarang ada waktu menemani anak mengerjakan PR, atau diskusi hal lain. Paling kalau waktunya cocok, sesekali berlibur ke Puncak, Ancol, Kebun Binatang.

Dia termasuk orang yang selalu mengejar target. Kepuasannya kalau bisa mencapai sasaran yang sudah dia tetapkan untuk dirinya sendiri. Dan itu umumnya hanya untuk memuaskan beban kantor yang diberi kepadanya. Untuk mencapai itu dia tidak peduli capek atau lelah, melupakan ulang tahun anak atau istri.

Kini sikapnya seperti itu masih terbawa ketika sudah pensiun. Dia seperti tidak senang di rumah meski beban pekerjaan rutin praktis tidak ada. Malah sibuk mengurusi organisasi yang nirlaba, sama sekali tidak memberi keuntungan finansial.

“Iya itu karena kau terlalu memikirkan orang lain. Kau tidak pernah memikirkan dirimu sendiri. Ya istrimu. Ya anak cucumu. Sebenarnya kau hidup untuk siapa?,” katanya dalam hati.

***
Sebenarnya dia dulu hobi baca buku dan sekali sebulan dia dia pasti ke took buku. Tetapi sejak toko langganannya itu tutup, dia sudah dua tahun ini tidak lagi datang. Kalaupun beli dia umumnya beli online.

Malah belakangan ini dia berlangganan dengan sebuah kumpulan membaca buku digital, jadi bisa baca ratusan buku. Pertama mengasyikkan lama-lama matanya terasa sakit juga kalau baca di laptop apalagi di ponsel.

Sebagaimana tren, matanya mulai malas membaca. Dia lebih suka mendengarkan, audio, jadi menikmati isi buku dari orang yang membaca ringkasannya. Dia tinggalkan siapkan waktu sekitar 15 menit, resume buku sudah dia peroleh. Bisa dilakukan dimana saja. Saat berkendara. Saat menunggu datangnya KRL, atau duduk-duduk di kedai kopi.

“Lumayanlah, jadi tidak ketinggalan zaman,” katanya dalam hati.

Kelemahannya adalah, kalau dia mau jadikan kutipan di tulisan, repot. Dia tidak tahu persis keterangan atau informasi itu sejatinya ada di halaman berapa? Kalau baca sendiri, tinggal dia tandai, lalu dikutip. Kalau untuk sekadar dengar, tahu, gak masalah. Itu memang salah satu problem lain.

Langganannya itu juga menyediakan buku versi PDF. Sangat praktis. Tapi tidak enak di mata, karena kadang kualitas salinan atau foto di PDF itu terlalu kecil. Atau gambarnya tidak sempurna sebagaimana kalau baca buku asli.

***
Banyak orang iri kepadanya, karena mereka anggap dia sudah paripurna. Apa saja dalam hidup ini dia sudah raih. Pensiun tanpa cacat. Punya keluarga yang baik, ada istri, anak, cucu, yang menyenangkan. Punya rumah, kendaraan sederhana, dan yang terpenting masih sehat.

Teman juga masih buuaaanyak. Bekas teman sekolah, bekas teman kuliah, bekas teman kerja, bekas rekan di organisasi, semua menyenangkan. Dia bukan termasuk tipe kontroversial, praktis tidak ada musuh. Dia anggap teman yang baik. Tidak sombong, tidak galak sebagai atasan meski kadang bicara to the point. Tidak pelit juga.

“Wajahnya masih segar saja Pak,” kata Solihin, bekas sekretaris ketika dia ketua di sebuah organisasi dulu.

“Alhamdulillah. Meski sedikit, saya masih olahraga, jalan pagi paling tidak empat kali dalam satu minggu,” kata Sareh. “Soalnya pernah saya baca, penuaan itu dimulai dari kaki. Jadi saya usahakan menggerakkan kaki dengan berjalan.

“Kalau saya paling main pingpong, atau bulutangkis. Paling tidak di akhir pekan,” kata sahabat baiknya itu.

“Yang penting kita sehat. Tidak merepotkan anak. Apalagi kalau sakit, perawatan dengan BPJS, tidak bebas lagi. Harus menunggu, antre, sabar. Tidak lagi sewaktu masih bekerja,” katanya. “Saya memang dengar pengalaman teman-teman. Harus banyak sabar.”

Mencari diri sendiri, kadang mudah kadang tidak. Dia membaca bagaimana penyair Amir Hamzah menuliskan di puisi Nyanyi Sunyi, puluhan tahun lalu. Manusia terus mencari, bertengkar dengan diri sendiri. Pergi kemana-mana mencari kedamaian. Padahal sering kedamaian itu ada dalam diri sendiri.

Kedamaian, ketenangan, tidak perlu dicari jauh-jauh ke dalam di Swiss, hotel-hotel mewah di Hongkong, taman indah di New York. Berserah diri pada Sang Pencipta. Mensyukuri nikmat-nikmat yang diberikannya, memberi kelegaan di dalam hati.
Ya kalau sudah pensiun. Bisa bercengkerama dengan anak cucu. Masih bisa bernafas normal. Masih bisa berjalan normal. Masih mampu membaca dengan normal. Masih bisa menikmati makanan dengan normal, itu anugerah yang luar biasa.

Lihat saja ke sekeliling, dan pasti kita akan bersyukur. Banyak orang yang iri pada kita, dalam segala kekurangan. Seperti kata pepatah, rumput tetangga selalu dianggap lebih hijau. Padahal mereka punya masalah sendiri, yang kadang kita tidak mampu menjalaninya.

“Aku sering kurang bersyukur. Padahal semuanya sudah ku dapat dalam porsi yang sesuai dengan garis tanganku,” katanya pagi itu.

Dia baru saja selesai membaca terjemahan surat Ar Rahman. Ya betapa sering kita lupa untuk berterima kasih. Dan selalu mencari-cari, merasa masih kurang, masih belum lengkap. Padahal di dunia apalah yang sempurna.

***
Ciputat, awal Desember 2025.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru