Monday, January 24, 2022
Home > Berita > Helmy Yahya bekerja keras “mengapungkan kapal besar” TVRI

Helmy Yahya bekerja keras “mengapungkan kapal besar” TVRI

Seminar Pers Kebangsaan dan Pembangunan di Era Digital pada Kongres ke-24 PWI di Solo. (arl)

MIMBAR-RAKYAT.com (Solo) – Pekerjaan keras dan besar yang dilakukan Direktur Utama TVRI Helmy Yahya adalah bagaimana caranya untuk “mengapungkan kapal besar” televisi publik yang dikomandoinya dalam mengharungi persaingan ketat dengan televisi swasta di era digital ini.

“Pekerjaan keras saya adalah bagaimana caranya mengapungkan kapal besar televisi publik yang saya komandoi,” kata Helmy dalam seminar nasional “Pers Kebangsaan dan Pembangunan di Era Digital” menjelang pembukaan kongres PWI ke-24 yang berlangsung di Monumen Pers Nasional di Solo, Kamis.

Kongres PWI itu akan dibuka resmi oleh Presiden Jokowi Jumat petang sedangkan Sabtu diadakan pemilihan ketua umum PWI untuk masa bakti lima tahun ke depan.

Dahulu kala TVRI berada di jajaran paling atas dan sekarang di posisi paling bawah, kata Helmy, jadi kami harus berusaha merebut kembali kejayaan di masa lalu itu.

Ia menyebutkan, anggaran pemerintah untuk televisi publik itu amat kecil dan ia memberi perbandingan dana televisi swasta per bulan sama dengan dana yang dimiliki TVRI untuk per tahun.

“Makanya kalangan milenial tidak ada yang mau bekerja di TVRI. Para pekerja dari kalangan tua dan bahkan pemirsa pun dari kalangan tua. Makanya kami membuat berbagai program baru untuk menarik minat pemirsa,” kata Helmy yang pernah dikenal sebagai “raja kuis” di berbagai televisi swasta.

“Bahkan kami pun mengganti seragam kami menjadi warna hitam. Dan dalam waktu singkat akan berganti logo. Kami berusaha bangkit, karena TVRI satu-satunya televisi yang memiliki jangkauan terluas secara nasional. Rating iklan kami pun sudah mulai diperhitungkan,” ujar Helmy.

Helmy yang membawakan makalah dengan tema Pers Berwawasan Kebangsaan di Era Digital itu pun menambahkan bahwa TVRI pantas ditonton berbagai kalangan usia, karena programnya terdiri atas 40 persen berita (news) dan masing-masing 30 persen pendidikan dan 30 persen infotainment.

“Kami pun bebas berita hoax, jadi berita dan program kami pantas ditonton kalangan berbagai usia termasuk kanak-kanak,” kata Helmy.

Selain Helmy, dalam seminar sehari itu, hadir juga Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang berbicara panjang lebar tentang hubungan media dan kalangan pemerintah, serta Joko Supriyno (ketua Gapki), yang berbicara tentang masalah sawit dikaitkan dengan pemberitaan internasional dan nasional.

Ketua Umum PWI Pusat Margiono ketika membuka seminar itu menyebutkan, kongres PWI itu dijadwalkan dibuka resmi Presiden Jokowo pada Jumat petang.

Ia memandang perlunya membicarakan tentang pers kebangsaan di era digital ini, karena betapa cepatnya laju kemajuan teknologi yang harus diikuti media dalam turut membangun bangsa dan negara.

“Kongres pertama PWI  diadakan di Solo dan segala sesuatunya saat itu belum sebaik masa sekarang. Tapi semangatnya ketika itu luar biasa dan ini yang harus kita ikuti hingga jaman sekarang,” kata Margiono yang menjabat ketua PWI selama dua periode.

Para kandidat yang bersaing dalam pemilihan ketua umum PWI mendatang adalah Hendry Ch Bangun, Atal S Depari, Sasongko Tedjo dan Teguh Santosa.  (Ar/Dj)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru