Wednesday, October 21, 2020
Home > Berita > Cingcowong warisan leluhur pemanggil hujan

Cingcowong warisan leluhur pemanggil hujan

Keterangan foto - Boneka Cingcowong. (kemendikbud.go.id)

Mimbar-Rakyat.com (Kuningan) – Cingcowong menjadi perhatian besar bila musim kemarau, karena melalui boneka itu air dapat turun dari langit, tapi ini adalah cara leluhur di zaman dahulu kala, namun masih ada sisanya hingga sekarang.

Cingcowong ini terdapat di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, tepatnya Desa Luragung.

Hingga saat ini, upacara minta hujan itu masih pernah dilakukan. Sayang belakangan ini di Kuningan sudah mulai musim penghujan, kalau tidak, Ada bisa berkunjung ke desa itu untuk menyaksikan upacara khidmat bagi sebagian orang itu.

Menurut tokoh masyarakat setempat, di masa lalu, kegiatan pemanggilan hujan ala masyarakat Desa Luragung ini dipimpin seorang wanita bernama Rantasih.

Ia berupaya mengajak warga sekitar untuk berusaha mengatasi keadaan yang sedang dialami masyarakat setempat – kemarau panjang- namun gagal. Rantasih lantas terus mencoba dengan mengajak masyarakat melalui penabuhan ceneng (alat pemukul tradisional khas Sunda) dan usahanya mengumpulkan warga pun berhasil.

Ketika itu, Rantasih menyampaikan petunjuk yang datang pada saat tirakat, yaitu dengan cara tidak makan, tidak minum, dan tidak tidur selama tiga hari tiga malam. Ia mendapat petunjuk, cara meminta hujan adalah dengan melakukan upacara ritual melalui media Cingcowong.

Sejak saat itulah Ritual Cingcowong tak pernah lepas dari sebuah boneka berwarna putih yang mirip Jaelangkung dan terbuat dari susunan bambu dan batok kelapa.

Bagi generasi muda ritual Cingcowong masih terdengar asing, namun berbeda dengan gadis cantik ini, Cici Fadilla (19). Ia begitu antusias mengenalkan tradisi budaya Cingcowong yang berasal dari tanah kelahirannya sendiri.

Cici pun dengan semangat menuturkan tradisi Cingcowong adalah warisan budaya leluhur yang biasa dilakukan saat musim kemarau berkepanjangan.

“Ritual minta hujan memang menjadi tradisi warga kami saat musim kemarau berkepanjangan, yang menggunakan boneka kayu dan menggunakan pakaian kaya kebaya gitu. Dan dilakukan oleh orang tertentu,” jelas mahasiswi Fakultas Kedokteran ini.

Cici pun memaparkan sehari sebelum ritual Cingcowong dilakukan, media Cingcowong  berupa boneka ditempatkan di saluran air kering atau solokan.

“Baru besoknya, pawang bisa menggunakan Cingcowong dalam ritual minta hujan. Di pelaksanaannya juga ada bebaca kaya begini, Cingcowong-cingcowong bilguna pilembayu syalala-lala lembu…” ujar model cantik ini.

Menurut Cici, bentuk Cingcowong untuk minta hujan ini berupa boneka, kepalanya terbuat dari batok kelapa dan badannya dari potongan bamboo. “Persis bebegig sawah kaya gitu,” ujarnya.

Pelengkap ritual

Sesaat sedang ritual, kata dia, media pelengkap seperti tangga, samak alias tikar dan potongan bambu sebagi pengetuk alat musik harus tersedia.

“Iya semua terbuat dari bambu. Ada boneka tangga dan iringan musik tradisional gitu,” katanya.

Keterangan foto – Cici Fadilla, mahasiswi Fak Kedokteran. Juara 1 Festival Lomba Seni Budaya Nasional, kategori Lomba Cipta Puisi, dengan judul “Cingcowong”, tahun 2015. (dien)

Saat tradisi itu dilakukan Cici pun mengungkapkan adanya suasana mistis yang ia rasakan,hingga membuat bulu kuduknya merinding.

“Ya mau gimana ya, ngga percaya tapi itu nyata terjadi, dan hujan pun beneran turun saat ritual itu terjadi,” kata Cici yang juga pernah menjadi juara saat lomba cipta puisi budaya, dengan karyanya “Cingcowong”.

Sedangkan pawang ataupun pemain dalam ritual tersebut, lanjut Cici, terdiri dari tiga orang.

Satu orang pemandu upacara dan sebanyak dua orang pemegang sampur ketiaka digerakan mengikuti keinginan boneka Cingcowong, kata Cici..

“Kemudian untuk dua orang pemain dan penabuh buyung yang dipukul oleh kipas atau hihid dan satu orangnya lagi memainkan alat musik ceneng yang terbuat dari bahan kuningan. Peralatan lainnya berupa sesajen seperti kemenyan, kaca, sisir, ember,” kata Cici.

Cingcowong merupakan kepercayaan, tradisi lokal dan peninggalan leluhur yang patut dihormati dan dilestarikan. Boleh percaya, boleh tidak. Tapi buktinya, hujan turun setelah lelakon Cingcowong. Sementara Cici merinding bulu kuduknya saat mempraktekkannya.  (andin rahmawati / arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru