Thursday, December 01, 2022
Home > Cerita > Catatan lepas dari SS 5 Reli Danau Toba,  Oleh A.R. Loebis 

Catatan lepas dari SS 5 Reli Danau Toba,  Oleh A.R. Loebis 

Kejurnas Reli Danau Toba 2021. (arl)

Mimbar-Rakyat.com (Jakarta) – Kejuaraan nasional reli mobil 2021 telah berakhir, diselenggarakan hanya dalam dua putaran dalam dua hari, 11-12 Desember 2021, di Kawasan Aek Nauli, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Kejurnas reli 2021 diadakan hanya dua kali dari persyaratan tiga atau empat putaran dalam setahun dan Sean Gelael dari tim Jagonya Ayam tampil sebagai juara nasional.

Kejurnas reli ini menjadi amat khusus, karena diadakan di Kawasan Aek Nauli, salah satu rute pada kejuaraan reli dunia (WRC) pada 1996 dan 1997 – yang terhenti akibat krisis ekonomi berkepanjangan.

Setelah waktu berlalu 25 tahun, gaung WRC kembali dikumandangkan, khususnya melalui pernyataan Wakil Gubernur Sumut, Musa “Ijeck” Rajekshah, pada pembukaan Reli Danau Toba di Aek Nauli.

“Mandalika punya sirkuit internasional, Sumatera Utara pun sudah dua kali sebagai tuan rumah kejuaraan dunia reli mobil. WRC harus kembali ke Indonesia, ke Danau Toba,” kata Ijeck, yang juga pereli nasional.

Niat Ijeck itu amat beralasan, karena Danau Toba merupakan salah satu dari skala prioritas wisata Tanah Air, sehingga ia menantang semua pelaku dan atlet reli mobil agar mempersiapkan diri membangun citra besar yang pernah dimiliki Danau Toba melalui reli mobil.

“Saya ingin kejuaraan Asia Pasifik diadakan tahun depan (2022) dan kejuaraan dunia WRC pada tahun berikutnya. Dana tidak jadi masalah, karena pemerintah melalui ABBD akan membantu,” ungkap Ijeck, disambut meriah masyarakat yang mendengarkan kata sambutannya di tengah perkebunan PT Toba Pulp Lestari Tbk itu.

“Untuk tingkat kejuaraan nasional saja, suasananya sudah begini, apalagi bila WRC berlangsung di sini. Saya yakin tingkat kemajuan UMKM akan lebih meningkat. Seperti yang kita rasakan saat WRC berlangsung,” ungkapnya.

Ucapan Ijeck itu bukan tanpa alasan, karena kenyataan terlihat, betapa meriahnya suasa di kawasan Aek Nauli, di daerah Pondok Buluh, Kecamatan Dolok Panribuan.

Kawasan itu menjadi lintasan trayek khusus (SS = special stage) kelima Reli Danau Toba, yang juga dipakai saat berlangsung WRC 25 tahun lalu.  Kawasan terbuka, berbukit-bukit, lintasan lurus kemudian berkelok, menjadi sajian khusus reli mobil bagi penonton yang datang berduyun-duyun.

Apa yang diungkapkan Ijeck merupakan kenyataan. Masyarakat Sumut sudah “haus” reli mobil, yang mengendap dalam diri mereka sehingga menjadi hobi tontonan.

Ricardo Gelael sedang melaju kencang di lintasan. (jagonya ayam)

Ratusan penonton berteriak mengelukan pereli pujaan mereka yang melintas di depan mata.

“Sean Gelael..Sean..Sean” atau “Ijeck..Ijeck..Ijeck..”, merupakan teriakan yang membahana tak putus-putusnya dikumandangkan penonton. Walau reli itu berlangsung hanya dua hari, tapi penonton penuh, berdatangan dari berbagai wilayah di Sumatera Utara. Ada yang dari Medan, Tebing Tinggi, Pematang Siantar dan lainnya.

Mereka amat menikmati deram atau auman suara mesin mobil yang seolah “meletup-letup” sejak dari posisi gerak awal (start) SS, kemudian melintas di hadapan mereka, sampai suaranya mengecil dan menghilang dari pendengaran.

“Kok ada dua mobil KFC ya. Yang satu dikemudikan Sean Gelael, yang satu lagi siapa..,” kata seseorang kepada temannya.

“Aku pun gak tau..Mereka kencang kali kutengok,” jawab temannya. Ketika mereka diajak berdialog, mereka banyak bertanya, dan media yang meliput selalu menjelaskan berbagai hal kepada mereka.

Persiapan khusus

Seorang penonton membawa tiga anaknya yang masih kanak-kanak, sepertinya amat serius menonton reli itu, terlihat dari persiapan yang dilakukannya.

Mengaku bernama Sihar Naibaho, ia mengatakan, datang ke kawasan itu naik sepeda motor khusus untuk menonton reli. Ia membawa plastik lebar untuk melindungi anak-anaknya bila hujan atau berlindung dari sinar matahari.

“Rumah saya sekitar 10 kilo dari sini. Jalannya memutar. Kalau pulang lewat jalan yang dilalui motor reli itu, akan lebih cepat sampai di rumah,” katanya.

“Kok suka nonton reli mobil bang.”

“Ya dari dulu aku sudah suka. Enak kali mendengar suara mesinnya itu, keras dan kencang,” kata Sihar, yang mengaku ketika WRC berlangsung di daerah itu, usianya 18 tahun.

“Tomi..Tomi..,” ia berteriak-teriak menyebut nama Tommy Soeharto, padahal Hutomo MP tidak tampil dalam kejurnas reli itu.

“Itu bukan Tomi, ia tidak hadir di sini,” saya menjelaskan, tetapi ia tetap teguh bahwa yang baru lewat itu adalah Tommy Soeharto.

Dedek dan keluarganya. (arl)

Lain lagi dengan Dedek Kurniawan, yang membonceng isterinya serta anak kecil tiga tahunan, dari Kampung Beringin, Sinaksak, Simalungun, dengan jarak 60 km ditempuh 2,5 jam.

“Saya hobi nonton reli, jadi saya pasti datangi bila diadakan di Sumut,” kata Dedek, diamini istrinya yang duduk di boncengan motor sembari memangku si kecil.

“Begitu mendengar ada reli mobil, saya langsung membuat persiapan. Bawa payung, jas hujan dan makanan,” tutur si jangkung Dedek, mengaku mengetahui adanya reli mobil dari media cetak.

Penonton lain, M Zainullah Rivaldi, lebih seru lagi, karena istrinya sedang hamil tua, tujuh bulan – tapi ia tetap membonceng si istri dengan sepeda motor. Istrinya kelihatan lelah namun wajahnya tetap berseri memandang sekeliling kawasan yang masih mendung, setelah sebelumnya disiram hujan deras.

Rivaldi dan istrinya yang hamil tujuh bulan, nonton reli, naik sepeda motor dari rumahnya yang jaraknya cukup jauh. (arl)

Si istri pun hanya tersenyum ketika disebutkan anaknya kelak jadi seorang pebalap tenar. Mereka datang dari Dolok Melangir – tak jauh beda jaraknya dengan Sinaksak – dan menginap di salah satu penginapan di Parapat.

“Saya penggemar reli mobil. Dulu waktu kejuaraan dunia, saya masih anak-anak, tapi saya dan kawan-kawan datang naik bus ke Parapat untuk nonton reli. Bagi saya ini amat mengasyikkan,” kata pria berkulit agak gelap itu.

Kejuaraan reli nasional, membawa berkah kepada para pedagang dadakan di wilayah tempat menonton di SS 5 di desa itu.

Lilik Suprianto, melakukan hal luar biasa. Ia membawa dagangannya dari Lubuk Pakam, yang bersebelahan dengan Kota Medan. Ia berangkat dari rumah sehabis subuh, naik bus, tiba di kawasan sekitar empat jam kemudian.

Dari tempat ia turun dari bus – karena masih jauh dari tempat perlombaan, ia menunggu orang yang akan masuk ke dalam daerah Aek Nauli dan minta tumpangan.

“Orang sekitar sini mau saja ditumpangi,” kata Lilik, yang berdagang sate kerang, sate udang, irisan daging dan telor puyuh. Penganan itu disiram bumbu, satu tusuk hanya dua ribu rupiah.

Si pedagang sate Lilik dan Mul. (arl)

“Alhamdulillah, rejeki sudah digariskan Yang Maha Kuasa,” kata Lilik, diaminkan Mulyanto, juga pedagang tusukan sate yang nangkring di sebelahnya.

Mulyanto pun dari Lubuk Pakam. Mereka berjualan di tempat-tempat keramaian seperti di pasar, di sekolah, dan mendengar di Aek Nauli ada reli mobil, mereka bersiap dan bergegas ke tempat kerumunan itu.

“Dua tahun lalu pun kami datang ke sini. Alhamdulillah dagangan habis. Dulu waktu kejuaraan dunia, kami sudah berdagang di sini. Luar biasa ramai, kami suka, dagang sembari nonton,” ungkap pedagang suku Jawa kelahiran Sumatra itu.

Di dekat mereka, ada juga pedagang bakso, roti, kerupuk dan beberapa lainnya.

Benar apa yang dikataran Ijeck bahwa dengan kejurnas reli saja sudah membuat bergeliat perekonomian rakyat. Reli yang dihelat hanya dalam waktu dua hari, sudah menggerakkan perdagangan, belum lagi tingkat penghunian hotel dan penginapan dan yang lainnya. Masyarakat begitu antusias datang nonton dan pedagang gembira dan amat bersemangat,

Sean Gelael dan ayahnya Ricardo Gelael, dengan senada mengatakan, WRC harus kembali ke Danau Toba.

“Wakil Gubernur Ijeck sudah memberi lampu hijau. Danau Toba tepat menjadi tuan rumah, baik dari sisi lintasan lomba mau pun dari sisi pengalaman para panitianya,” kata Ricardo, yang berada di urutan ke-10 putaran pertama Reli Danau Toba 2021.

Sang juara nasional, Sean Gelael, sebelumnya ingin mengajak teman-temannya di luar negeri untuk datang ke Danau Toba, namun para sahabatnya memiliki kegiatan lain.

“Saya ingin teman-teman menyaksikan atau ikut reli, agar mereka menyaksikan ada kejuaraan reli bagus di Danau Toba. Semoga Sumut bisa lagi menjadi tuan rumah WRC. Ini amat memungkinkan,” kata Sean, juara nasional reli 2021.

Kendati pada 2022 Sean tidak dapat tampil di Danau Toba karena mengikuti semua seri kejuaraan dunia FIA WEC 2022, Sean tetap mendambakan Sumut kembali menjadi tuan rumah seri WRC dan dunia otomotif kembali mengarahkan pandangan mereka ke Danau Toba.

Begitu meriahnya pamandangan di SS 5 Reli Danau Toba 2021 itu, sehingga tak terbayangkan meriahnya suasana di SS-SS WRC – bila lomba otomotif itu kembali mampir ke Tanah Air.

Semoga. (arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru