Tuesday, September 29, 2020
Home > Featured > Sajak Padang, Oleh A.R. Loebis

Sajak Padang, Oleh A.R. Loebis

Ilustrasi - Rumah Adat Padang. (youtube.com)

Padang…

adalah  tanah datar luas , tidak ditumbuhi pohon berkayu besar

padang  gembala kambing, sapi dan binatang lainnya

padang golf hamparan rumput tempat bermain golf
padang belantara
padang mahsyar,  kelak menjadi tempat orang mati dibangkitkan pada hari kiamat
padang minyak tanah luas mengandung minyak bumi
padang pasir

padang perburuan banyak dihuni binatang

padang tekukur belantara

padang tempat latihan menembak

Padang..

Dalam bahasa Jawa berarti terang..bersinar

Tapi

Padang ini adalah

Kota terbesar di pantai barat Sumatera

adalah ibu kota Provinsi Sumatera Barat, luas wilayah 694,96 km²

 

Nah, apakah Anda pernah mendengar kata

Pagi Sore

Roda

Sari Bundo

Sari Ratu

Natrabu

Garuda

Sarimande Metropolitan

Sederhana

Simpang Raya

Kasihan Ombak

Bundo Kanduang?

 

Itu rumah makan Padang yang bertebaran di berbagai pelosok kota di Indonesia.

mulai dari restoran besar sampai rumah makan kaki lima atau di pojok sempit pasar.

Bahkan ada juga di Amerika Serikat, Tiongkok, Singapura, Qatar, Malaysia, Australia

Ada yang namanya Restoran Pondok Buyung , didirikan Peter Sjarif yang merantau ke Sydney pada 1976.

Ini dapat penghargaan rumah makan termurah dan terbaik dari Sydney Morning Herald pada Februari 2011.

Di Amerika Serikat ada Indo Kitchen di Four Street Alhambra, Kalifornia, ada juga Indonesia Restaurant di Hollywood dan berbagai kota besar lainnya.

Tapi jangan heran

Anak kandung pun harus bayar  bila bersantap di rumah makan Bundo Kanduang

Dan anehnya,  di Padang dan kota lain Sumbar tidak ada yang namanya rumah makan Padang.

Padang beruntung mendapat nama makanan ini.

Padahal pedagang banyak berasal dari

Agam, Lima Puluh Kota, Padang Pariaman, Tanah Datar.  Kini, orang Jawa pun banyak yang memiliki warung Padang.

Perantau Minang lah yang menebar pupuk restoran Padang ini

Mereka keluar dari tanah asalnya

tersebar di Minangkabau

dan berbagai  wilayah di  Indonesia

juga di Malaysia, Singapura , Brunei, Australia, Eropa, Amerika, Timur Tengah.

Entitas perantau Minang

Jumlahnya diperkirakan setara banyak orang Minang di tanah asalnya, Minangkabau.

Mereka hidup di tanah rantau

disebabkan beberapa faktor

seperti eksistensi diri,  adat matrilineal, perang, dan faktor ekonomi

serta beragam motivasi , yaitu mencari kekayaan, ilmu pengetahuan, dan kemasyhuran.

Para perantau Minang terdahulu meninggalkan tanah pusaka sejak berabad-abad lalu

Keturunannya menjadi warga masyarakat berbeda dengan masyarakat Minangkabau saat ini.

Perantau Minang baru masih punya keterkaitan emosional dengan budayyya dan tanah kelahirannya.

Peribahasa Minang yang berbunyi Karatau madang di hulu, berbuah berbunga belum.

Ke rantau bujang dahulu, di rumah berguna belum

(Daripada malu pulang ke kampung, lebih baik rantau diperjauh) 

Ini membuat banyak perantau Minang tidak pernah pulang ke kampung halaman

Walau pun rindu dendam pada ranah bundo dan segala isinya berkecamuk seakan tak terperi.    

Era globalisasi  dewasa ini.

Batas negara semakin terbuka dan sarana transportasi semakin baik

wilayah perantauan Minang juga semakin meluas.

Malaysia sebagai negara terdekat juga dijadikan tujuan bagi ‘perantau Minang baru’.

Mereka menambah populasi etnis Minang di negara jiran

sejak berabad lalu di Negeri Sembilan, Pulau Pinang, Malaka, dan berbagai wilayah lainnya pada masa  Kesultanan Malaka.

Para ‘perantau Minang baru’ ada kota besar Malaysia, seperti, Kuala Lumpur, Johor Bahru, Subang, Shah Alam dan lainnya.

Wilayah yang belum jadi tujuan perantauan pada masa lalu

Australia, Amerika Serikat, Eropah, dan lainnya, dijadikan tujuan bagi para perantau Minang masa kini.

Mencari kehidupan di wilayah perantauan yang relatif baru itu sebagai profesional, wirausaha, dan lainnya.

Untuk menjembatani perantau Minang dengan masyarakat di ranah Minang, tokoh Minang  rantau

Azwar Anas, Emil Salim, Harun Zain, Bustanil Arifin, Hasyim Ning, Hasan Basri Durin, Fahmi Idris, Saafroedin Bahar, Sjafaroeddin Sabar.

Mendirikan lembaga Gerakan Seribu Minang  atau Gebu Minang pada 20 Januari 1990.

Awalnya lembaga ini mengumpulkan uang seribu rupiah per bulan

dari setiap warga perantau Minang  untuk pembangunan berbagai sarana di Sumatera Barat.

Keberhasilan lembaga ini jadi role model

berbagai kelompok masyarakat Indonesia, seperti masyarakat Karo  dan masyarakat Sulawesi Selatan dan lainnya.

Selain Gebu Minang,

organisasi masyarakat perantau Minang yang lebih kecil

dan berdasarkan asal-usul kabupaten atau nagari juga banyak didirikan

ada Sulit Air Sepakat  (SAS),

organisasi perantau Minang asal Sulik Aia  (Sulit Air) Solok

Sudah berdiri pada sekitar awal abad ke-20.

memiliki 80 Dewan Perwakilan Cabang (DPC) di seluruh Indonesia da nada juga di Malaysia, Sydney dan Melbourne (Australia) serta Washington DC,  Amerika Serikat.

Masyarakat Minang ingin hidup sejati

Seperti diungkap Buya Hamka,

Kalau hidup hanya sekedar hidup

kera di rimba juga hidup

kalau kerja hanya sekedar kerja

kerbau di sawah juga bekerja.

 

Inilah kisah Buya Hamka

Prof. KH. Abdul Malik Karim Amrullah

masuk penjara, difitnah, disingkirkan, dimiskinkan

tapi kesabarannya berbuah menjadi hikmah luar biasa.

Ia masuk penjara dua tahun empat bulan, 1964-1966,  atas perintah  presiden Soekarno

tuduhan melanggar UU Anti Subversif Pempres No. 11, yaitu tuduhan merencanakan pembunuhan Presiden Soekarno.

Keluarga menderita,  bukunya dilarang, termasuk tak boleh berdawah

Ummi menjual barang dan perhiasan.

Hamka bebas setelah rezim Soekarno jatuh

16 Juni 1970, Sekjen departemen agama Kafrawi bawa pesan terakhir Soekarno

“Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.”

Pesan terakhir presiden pertama dengan ikhlas dijalankan Hamka. Subhanallah.

Hamka lahir di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 meninggal di Jakarta 24 Juli 1981.

Ia ulama dan sastrawan Indonesia

Ia wartawan, penulis, pengajar

terjun dalam politik melalui Masyumi, menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia  (MUI) pertama

aktif dalam Muhammadiyah sampai akhir hayat.

Universitas al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia menganugerahinya gelar doktor kehormatan

Karya terkenalnya Tafsir Al-Azhar, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka’bah

Ada lagi orang terkenal dari pulau sebelah barat Sumatera itu

Tulis Sutan Sati penulis cerita rakyat Sabai Nan Aluih

cerita rakyat dari Padang Tarok, Baso, Agam

cerita bertema kepahlawanan

Sabai Nan Aluih, nama anak perempuan  Rajo Babanding dan Sadun Saribai

tentang aksi kepahlawanan Sabai Nun Aluih membalaskan kematian ayahnya kepada musuhnya, Rajo Nan Panjang.

Sabai Nan Aluih memiliki pesan penting

perempuan cantik lemah lembut

tapi tidak takut untuk membela kebenaran

anak yang patuh kepada orangtuanya

Tulis Sutan Sati  (Bukittinggi, Sumatera Barat) , 1898 – 1942) menulis

Tak Disangka (1923)

Sengsara Membawa Nikmat (1928)

Syair Rosina (1933)

Tjerita Si Umbut Muda (1935)

Tidak Membalas Guna

Memutuskan Pertalian (1978)

Sabai Nan Aluih (1954)

Ada lagi,  AA Navis

Haji Ali Akbar Navis (Kampung Jawa,  Padangpanjang, 17 November 1924 – Padang, Sumatera Barat – 22 Maret 2003)

sastrawan dan budayawan terkemuka Indonesia

menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya

Ia menulis Robohnya Surau Kami

kumpulan cerpen sosio-religi,  terbit pertama 1956

menceritakan dialog Tuhan dengan Haji Saleh, warga Indonesia yang hidupnya hanya beribadah

Cerpen ini salah satu karya monumental dalam dunia sastra Indonesia.

Elly Kamis dengan Ayam den LapehErni Djohan dengan Teluk Bayur

Hingga penyanyi Norwegia Audun Kvitland

dengan tembang Nasi Padang

setelah kepincut  wisata kuliner Simpang Kinol

mencicipi rendang, sate Padang, sate ayam, sate danguang-daguang, nasi goreng, hingga skotang.

Nah, ini falsafah luar biasa

Takuruang di Lua, Tahimpiek di Ateh

Konsep Hukum dan pemerintahan  

Bahkan raja bukan segala-galanya

Hanya lambang dan daulat sebenarnya terletak pada kebenaran

Kamanakan barajo ka mamak

Mamak barajo ka panghulu

Panghulu barajo ka mufakat

Mufakat sarato alur jo patuik

Alur jo patuik barajo ka nan bana

Nan bana badiri sandirinyo

Maksudnya, tidak ada yang dominan

Kemenakan tidak dapat berbuat sekehendaknya

Mamak tidak bisa sewenang-wenang

Segala keputusannya perlu dimusyawarahkan dengan kaum kerabatnya.

Penghulu orang yang didahulukan selangkah

ditinggikan seranting

didengar petuahnya dituruti

tetapi segala sikap dan perbuatannya harus menurut alur dan patut.

Mamak, Penghulu, Raja ditinggikan secara status

Mereka dihormati, didengarkan, dipatuhi karena menjadi pucuk pimpinan

mereka berada di atas memandang ke bawah yang (terhimpit)

tapi ada pameo

Raja alim, raja disembah, raja lalim raja disanggah!”

Dia yang tadinya berada di atas akan dihimpit oleh rakyat

Agak-agak nan di ateh, nan di bawah ka maimpok” (Hati-hati yang di atas, yang di bawah akan menghimpit).

Penguasa berada di atas karena hukumnya demikian

Jika dia menghindar dari ketentuan yang disepakati bersama

maka rakyat akan menghimpok.

Inilah hikayat Datuk Ketumanggungan

membuat aturan yang berbuat kesalahan dijatuhi hukuman seperti apa yang dilakukan

Ia digigit anjing dan meminta anjing dibunuh

Pemilik anjing meminta Datuk Ketumanggungan menggigit anjing yang menggigitnya

Maknanya,  hukum yang dikeluarkan oleh penguasa

bukan saja menghukum rakyat tapi juga dapat diberlakukan pada si pembuat hukum

Itulah terkurung du luar, terhimpit di atas

Sama dengan bunyi UUDasar 1945, pasal 27 ayat 1

“Segala warganegara bersamaan kedudukkannya dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dengan tidak ada kecualinya.”

(arloebis – dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru