Tuesday, March 31, 2026
Home > Cerita > Bencana Dan Pencitraan, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Bencana Dan Pencitraan, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Gunung meletus, banjir bandang menghantam

Tanah longsor dan jalanpun terputus

Rumah tertimbun tanah atau lumpur

Rakyat menderita, kocar kacir

Selamatkan mereka ya Tuhan

 

Bencana telah menyulitkan rakyat

Harta benda luluh lantak

Anggota keluarga banyak yang hilang

Pada saat kebutuhan terus meningkat

Tangis dan kesedihan pun memuncak

Derita datang silih berganti

 

Sadarlah wahai para pemimipin

Jangan memanfaatkan musibah pasang aksi

Dengan mudah menjamin musibah bukan kesalahan

Tetapi menyatakan sebagai fenomena alam

Bahkan memanfaatkan sebagai pencitraan

Memikul sekarung kecil beras untuk rakyat

Ada pula yang lari meninggalkan rakyatnya

Dimana tanggungjawabmu

Mana rasa kemanusian kalian

Memanfaatkan bencana demi kepentingan pribadi

 

Rakyat butuh perhatian

Menanti uluran tangan tanpa pamrih

Menuntut tanggungjawab pemimpin

Berharap ada sanksi bagi perusak alam

Menghukum mereka yang menjual negeri untuk kekayaan pribadi

 

Para perusak alam harus didera

Juga para pemimpin yang ikut bermain

Kenapa hutan jadi gundul

Kenapa tanah resapan air hilang

Tindak kejahatan harus ada hukumannya

Ingat rakyat telah menderita

Ratusan, bahkan ribuan jiwa telah hilang sia-sia

Apakah kalian hanya cukup menyalahkan alam

Kenapa tidak sekalian menyalahkan Tuhan

 

Sumatera, Jawa dan banyak lainnya telah hancur

Ratusan bahkan ribuan nyawa melayang

Semua itu tak cukup dikatakan sebagai peringatan

Tanpa berbuat memperbaiki keadaan

Jangan eksploitasi derita rakyat

Memanfaatkannya untuk keuntungan pribadi

Cobalah dorong hati nurani kalian

Berbuat benar-benar untuk membantu rakyat

Bukan dengan rasa pamrih, berpikir musibah bisa dimanfaatkan

 

Rakyat butuh perhatian

Bantuan nyata untuk kehidupan

Namun jangan lupa bantuan spiritual

Perlu pengayaan jiwa, roh, atau batin

Selain bantuan nyata sandang pangan dan papan

Makna hidup, hubungan dengan Tuhan tak boleh diabaikan

 

@091225

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru