Tuesday, September 22, 2020
Home > Berita > Antisipasi bencana alam balai TNGC kerja sama dengan berbagai pihak

Antisipasi bencana alam balai TNGC kerja sama dengan berbagai pihak

Ilustrasi - Monyet ekor panjang. (wikipedia)

MIMBAR-RAKYAT.com (Kuningan) – Dalam mengantisipasi bencana alam kebakaran dan kekeringan di musim kemarau, balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC)  bekerjasama dengan kelompok penggerak wisata, Polisi Hutan dan TNI atau Polri.

Selain mengatisipasi bencana alam, Kepala BTNGC, Kuswandono, menjelaskan, pihaknya  kini tengah melakukan pencegahan hewan liar yang masuk ke dalam pemukiman warga.

“Kami juga melakukan pencegahan terhadap hewan liar yang masuk ke daerah pemukiman warga kawasan gunung Ciremai, karena kawasan hutan TNGC ini memiliki percepatan perkembangbiakan yang cukup signifikan,” ujarnya saat ditemui di Kantor balai TNGC, Selasa.

Kuswandono mengungkapkan,  populasi monyet ekor panjang dan babi hutan, kini jumlahnya sangat banyak bahkan ketika stok makanan habis,  hewan tersebut kerap keluar hutan.

“Nah untuk pencegahannya kami juga melakukan kerjasama dengan Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA). Terutama dalam penanganan langsung terhadap hewan liar, jika masuk ke daerah pemukiman penduduk,” katanya.

Kuswandono pun menambahkan populasi hewan liar saat ini di TNGC adalah babi hutan, monyet ekor panjang, burung dan beberapa macan.

“Ada surili yang memang hidup di dalam hutan saja, kemudian beragam jenis burung dan ada beberapa macan, selain Slamet Ramadan (macan kumbang) dan elang jawa,” ujarnya.

Saat mengungkapkan Slamet Ramadan, Kepala BTNGC itu secara langsung menjelaskan kondisi Slamet Ramadan, saat ini yang terpantau melalui rekaman kamera dalam keadaan sehat di alam liar.

Kuswandono pun menitipkan pesan kepada warga sekitar dan para pendaki Gunung Ciremai agar tidak membakar alang – alang di sekitar TNGC dengan ditinggal begitu saja.

”Karena hal itu bisa mengakibatkan kobaran api cepat menyulut lahan kering sekitar,” tambahnya.

Sedangkan daya tarik Gunung Ciremai menurutnya tidak hanya pada pemandangannya saja, namun masyarakat bisa ziarah dan melakukan perburuan madu alam dengan cara tradisional.

“Masyarak sekitar sini, terlihat masih ada menggunakan cara tradisional, yaitu dengan melakukan pembakaran, yang asapnya dibutuhkan untuk mengusur hewan penguhuni sarang madu tersebut,” kata Kuswandono.  (dien/arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru