Tuesday, October 27, 2020
Home > Politik > Ada Kemungkinan PDIP dan Golkar Bergabung

Ada Kemungkinan PDIP dan Golkar Bergabung

MIMBAR-RAKYAT,com (Jakarta)  Tiga koalisi akan lahir dari hasil quick count Pemilu 2014. Tiga besar sudah secara gamblang menggambarkan kekuatan parpol saat ini.

Menurut pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, dari  empat parpol terbesar yakni PDIP, Golkar, Gerindra, dan PD hanya tiga yang berpeluang memimpin koalisi. Faktor penentunya  adalah elektabilitas tiga capres teratas yakni Jokowi, Prabowo, Aburizal Bakrie (ARB).

“Variabel ini untuk sejauh mana bisa memenuhi persyaratan pengajuan calon menurut UUD 1945 dan UU Pilpres 2008, yakni 20% kursi DPR RI atau 25% suara sah pemilu DPR RI,” kata Qodari dalam siaran pers, Kamis (10/4/2014).

Perolehan suara PD yang berada di nomor urut 4 dengan raihan sekitar 10% suara, sebenarnya  punya potensi memimpin koalisi/memajukan capres. Namun karena tidak ada calon Demokrat (peserta konvensi capres) yang sangat populer maka SBY akan realistis dan memilih wapres saja.

 WIN-HT Bubar
Duet Wiranto-Hary Tanoesudibjo (WIN-HT) yang  memiliki ambisi besar untuk maju capres. Akan bubar dengan perolehan Hanura sekitar 5% (nomor bontot partai lolos Electoral Treshold) Paling tisdak Hanura/Win-HT kehilangan kredibilitasnya untuk memimpin koalisi sekaligus memajukan pasangan sendiri. Hanura akan “abstain” dari pilpres atau bergabung dengan koalisi yang ada,” ujar Qodari menganalisis.
 

Kapok
Perolehan suara partai-partai berbasis massa Islam sebenarnya cukup besar (PKB, PAN, PKS, PPP, PBB). Jika digabung bisa mencapai 30%. “Namun karena tidak ada tokohnya yang sangat populer maka koalisi partai Islam akan sulit. Partai Islam akan pecah dan mencari jalan sendiri-sendiri alias bergabung dengan poros Jokowi, Prabowo atau ARB,” prediksinya.

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar sendiri menegaskan tidak akan berkoalisi lagi dengan partai-partai Islam. ” Sudah kapok,” katanya dalam acara tv  Mata Najwa . Kenapa ? “Bagaimana nggak kapok. Katanya koalisi tapi ikut melengserkan juga zaman Gus Dur,” ujarnya

Dengan beberapa catatan dan pertimbangan di atas, maka kemungkinan peta koalisi diprediksi terdiri dari 3 poros yakni Poros Jokowi, Poros 08/Prabowo Subianto, dan Poros ARB.

Terlepas dari tiga koalisi ini ada satu kemungkinan yang bias menghapus semua ini yakni bila Merah dan Kuning bergabung artinya PDIP berkoalisi dengn Golkar. Maka semua selesai. ARB sendiri menjawab kemungkinan ini menjawab singkat ” Kita lihat nanti,”ujarnya.

Berikut tiga poros koalisi versi Indo Barometer:

Poros Jokowi:

PDIP: Sebagai pimpinan koalisi
PAN: Sudah ketemu delegasi tingkat tinggi. Hatta Rajasa potensi wapres. Merepresentasikan Muhammadiyah.
Nasdem: Hubungan baik Megawati Soekarnoputri dengan Surya Paloh. Nasdem pernah ke Lenteng Agung pada November 2013.
PKB: Sudah pernah ketemu. Merepresentasikan NU.

Poros 08 (PSD/Prabowo Subianto Djojohadikusumo):

Gerindra: Pimpinan koalisi
PPP: Suryadharma sudah menyatakan dukungan terbuka. Ada penentangan di dalam PPP.
Demokrat: SBY dan Prabowo Subianto sudah pernah ketemu terbuka di Istana tahun 2013. Wapres: Pramono Edhie atau Gita Wiryawan.
Hanura: Ada isu Hary Tanoe mau jadi wapres Prabowo. Tapi apakah Wiranto setuju?

Poros ARB:

Golkar: Pemimpin koalisi
PKS: Golkar sudah pernah bertemu PKS. PKS dianggap menarik karena dianggap punya mesin politik solid dan mampu bertahan dari badai LHI.
Demokrat: Hubungan baik ARB dan SBY. Potensi Pramono Edhie atau Soekarwo digandeng jadi wapres ARB.
PKB: Potensi suara NU dan PKB di Jatim jadi pertimbangan penting bagi ARB. Mahfud MD, Muhaimin Iskandar, atau Khofifah Indar Parawansa, potensial jadi cawapres ARB. (AL)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru