Thursday, October 22, 2020
Home > Editorial > Presiden 2014-2019, Antara Jokowi atau Prabowo

Presiden 2014-2019, Antara Jokowi atau Prabowo

PEMILIHAN Umum (Pemilu) Legislatif 2014 telah menghasilkan urutan  partai politik (parpol) peraih suara, setidaknya berdasarkan hitungan cepat alias quick count. PDIP meraih suara tertinggi secara nasional 19,24 persen, diikuti Golkar 15,01 persen, Gerindra 11,77 persen, dan Demokrat 9,43 persen.  Berdasarkan hasil tersebut akan muncul partai mana saja atau gabungan partai mana yang akan mengusung pasangan calon presiden-wakil presiden yang akan disodorkan kepada rakyat.

PDIP telah menetapkan Joko Widodo (Jokowi), Gubernur DKI Jakarta, sebagai calon presiden.  Partai berlambang kepala banteng mocong putih ini pun telah memutuskan berkoalisi dengan Nasdem yang memperoleh suara (sementara) 6,71 persen. Dengan partai yang baru muncul ini saja PDIP sudah bisa mengajukan calon, karena sesuai ketentuan atau undang-undang, partai atau gabungan partai yang bisa mengajukan capres-cawapres harus meraih 25 persen suara secara nasional atau 20 persen kursi di DPR-RI.

Dari berita yang berkembang, PDIP juga kemungkinan akan mengajak PKB (9,12%) untuk berkoalisi. Bahkan PDIP dan NasDem juga telah menetapkan Jusuf Kala, tokoh Partai Golkar, yang akan mendampingi Jokowi sebagai wakil presiden. PDIP sepertinya telah benar-benar siap menghadapi pemilihan presiden (Pilpres), yang akan digelar 9 Juli 2014.

Lalu siapa saingan Jokowi-Jusuf Kala?  Meski parpol pemenang kedua pada Pemilu Legislatif lalu adalah Golkar, tetapi menyimak perkembangan  diantara parpol peserta pemilu, sepertinya saingan yang siap adalah Prabowo Subianto. Ketua Dewan Pembina Gerindra itu dinilai banyak kalangan tidak hanya siap dalam modal dan program, tetapi juga telah melakukan pendekatan terhadap sejumlah partai untuk berkoalisi.

Gerindra dengan 11,77 suara  cukup mengajak Demokrat (9,43%) untuk mengajukan calon presiden-wakil predisen. Partai lain yang disebut-sebut bersedia maju bersama Gerindra adalah PAN (7,51%) dan PPP (6,68%).  Lalu bagaimana dengan Golkar, partai ini meski disarankan sejumlah kadernya mengevaluasi ulang pencalonan Abrurizal Bakrie (Ical) sebagai capres-termasuk oleh Ketua Dewan Pembina Golkar Akbar Tandjung-ternyata tetap akan memajukan Ical.

Belum diketahui persis siapa partai yang akan digandeng untuk mengajukan pasangan capres-cawapres, karena Golkar hanya meraih 15,01 persen suara.  Ical beberapa hari terakhir terkesan santai menghadapi kemungkinan dengan siapa Golkar berkoalisi. Tetapi tertakhir muncul kabar, Golkar akan mengajak Hanura (5,1%) untuk berkoalisi.  

Partai lainnya  yang belum disebut-sebut menentukan koalisi adalah PKS (6,99%). PKS sebelumnya juga telah menetapkan capres yang akan dimajukan. Namun berdasarkan perolehan suara PKS tidak bisa mengusung wakil sendiri, harus berkoalisi dengan partai lain.

Dalam kondisi sekarang baru 3 calon yang kemungkinan siap maju sebagai calon presiden, yakni Jokowi, Prabowo Subianto, dan Abrurizal Bakrie. Lalu siapa diantara mereka yang akan menjadi presiden pilihan rakyat?  Berbagai prediksi telah mencuat. Boni Hargens, pengamat politik dari Lembaga Pemilih Indonesia (LPI), dalam diskusi politik, di Jakarta, Selasa (15/4). bahkan memprediksi, Pilpres 2014, 9 Juli nanti,  hanya akan menjadi panggung bagi bakal calon presiden dari PDIP, Joko Widodo, dan bakal calon presiden dari Gerindra, Prabowo Subianto. Sementara Aburizal Bakrie dari Golkar hanya akan menjadi pelengkap.  Boni menyebut Ical hanya akan menjadi penari latar.

Penilaian yang dilontarkan Bonie Hargens terhadap bakal calon yang bakal maju dalam Pilpres mendatang memang dinantikan masyarakat. Elite partai politik, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta para pengamat selayaknya  mengupas habis sosok bakal calon presiden. Ini penting, agar masyarakat tidak salah pilih.

Bahkan parpol yang akan mengusung capres harusnya membuka setransprans mungkin “jago” mereka. Apa modal, kemampuan calon tersebut. Apa yang telah dilakukan calon  untuk masyarakat. Semua harus jelas. Bahkan tokoh  masyarakat dan para pengamat politik perlu menambahkan dengan kekurangan masing-masing calon.

Ingat, pemilihan presiden mendatang adalah terkait dengan nasib bangsa lima tahun ke depan (2014-2019).  Karena itu sewajarnya tokoh masyarakat menuntun para pemilih agar tidak salah pilih, membeli kucing dalam karung. Silakan saja menjagokan Jokowi dan Prabowo, serta tidak menganggap sosok Aburizal. Tapi lengkapi semua itu dengan data yang akurat, apa kelebihan para calon, apa pula kelemahan mereka. Jangan biarkan masyarakat menduga-duga, kemudian asal pilih.***

Email: kumpulankawanlama@yahoo.com

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru