Sunday, September 27, 2020
Home > Cerita > Tebing Tinggi, Kota Lemang  ditandai para pedagang di Jalinsum

Tebing Tinggi, Kota Lemang  ditandai para pedagang di Jalinsum

Para pedagang lemang di tepi jalan Tebing Tinggi di lintas Jalinsum. (jagonya ayam)

MIMBAR-RAKYAT.com (Tebing Tinggi) – Pantas lah Kota Tebing Tinggi dijuluki sebagai Kota Lemang, karena pedagang lemang ada di berbagai jalur masuk ke kota itu hingga di beberapa sudut kota.

Di antara para penjual lemang itu, terdapat di Jalan Lintas Sumatera  (Jalinsum) dari Kota Pematang Siantar menuju Kota Medan. Setibanya di Gapura selamat datang di kota Tebing Tinggi, akan terlihat berjejer penjual lemang dengan lapak jualan ala kadarnya.

Pada awal nya mereka berjualan di dekat PTPN III Kebun Rambutan, tetapi karena kurang gairahnya pembeli,  maka mereka berjualan mendekati pintu Tol Tebing Tinggi  yang berjarak sekitar 50-100 meter dari PTPN III kebun Rambutan.

Kota Tebing Tinggi merupakan salah satu pemerintahan kota dari 33 Kabupaten / Kota di Sumatra Utara, sekitar 80 km dari Kota Medan dan terletak pada lintas utama Sumatra yang menghubungkan Lintas Timur dan Tengah Sumatra melalui lintas diagonal pada ruas Jalan Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Parapat, Balige dan Siborong-Borong.

“Daya beli  kurang,  sehingga kami pindah berjualan,  dan alhamdulillah pembeli yang menggunakan jalan tol yang keluar dari TebingTinggi sering singgah, ” kata Rahmah yang sudah berdagang lemang lima tahun itu,  ketika dihubungi mimbar-rakyat.com.

Penjual lemang disini sudah memiliki langganan masing-masing, “kami sudah punya langganan, sehingga kami para pedagang lemang sudah berbagi rezeki dengan adanya pelanggan yang berbeda ,” katanya.

Salah seorang pedagang Lemang lainnya, Suwedi (45), menjelaskan, lemang  yang dijual dengan harga terjangkau itu merupakan  makanan  berbahan  dari beras ketan , yang dimasak dalam seruas bambu, setelah sebelumnya digulung dengan selembar daun pisang.

Gulungan daun bambu berisi tepung beras bercampur santan kelapa ini kemudian dimasukkan ke dalam seruas bambu lalu dibakar sampai matang di atas tungku panjang.

Lemang lebih nikmat disantap hangat-hangat, dengan campuran selai srikaya bahkan durian .  Satu batang lemang bambu kecil Rp 15.000 dan lemang bambu besar Rp30.000,  satu hari bisa laku sampai 60 batang per hari, ”  tambahnya.

Pada kesempatan lain, Salah seorang warga lamaTebingTinggi, Tengku Ina (75), menjelaskan tentang asal mulanya TebingTinggi menjadi kota lemang, karena lemang produksi kota Tebing Tinggi sangat terkenal lezat dan lemak.

Lemang sedang dipanggang.

Maka kelezatannya itulah yang membuat Tebing Tinggi dijuluki sebagai Kota Lemang. “Lemang TebingTinggi amat lezat dan pada awalnya lemang dijual di jalan KH Ahmad Dahlan,  yang sering dikenal orang jalan Tjong Afie di depan Masjid Raya TebingTinggi. Di sinilah terdapat lemang Batok yang terkenal itu ” katanya.

Makanan lemang, dilansir tebingtinggi.co.id, asal mulanya dibawa para perantau asal Sumatera Barat ke Kota Tebing Tinggi.

Lemang paling terkenal adalah Lemang Batok,  produksi kota Tebing Tinggi yang sangat terkenal lezatnya.

Makanan dalam bambu ini dinamakan lemang Batok, karena membakarnya menggunakan arang batok kelapa dan menggunakan bambu lemang pilihan. Bahkan daun pisang sebagai pembungkus di dalam, merupakan daun pisang muda pilihan.

Proses pemanggangan lemang sekitar tiga sampai empat jam lamanya. Setelah tampak masak dan bambu kehitaman, barulah bambu lemang diangkat dari atas bara api dan siap disantap.

Ada hal unik lainnya dalam membuat lemang yaitu tidak boleh berbicara kotor dan menceritakan orang lain, karena nantinya lemang tidak akan masak sempurna.

“Mungkin juga tergantung dari cara masakan kita atau cara membakar lemang itu, sehingga lemang kita terasa lezat di lidah para pelanggan kita. Ini menyebabkan mereka selalu mencari kita kalau mereka ingin menyantap lemang,” kata Rahmah, pedagang di tepi jalan itu.

Ayo kita jalan pagi, senam olahraga di tepi lapangan

Kalo kita ke Kota Tebing Tinggi, jangan lupa mencoba kelezatan lemangnya.

(aulia zulkarnain lubis/arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru