Sunday, April 14, 2024
Home > Berita > Supir Ambulans Nyambi Profesi Jadi Pedagang Peti Jenazah Covid-19

Supir Ambulans Nyambi Profesi Jadi Pedagang Peti Jenazah Covid-19

Mimbar-Rakyat.com (Kuningan) – Meningkatnya angka kasus kematian akibat Covid-19 membuat warga Desa Ciloa, Rano yang bekerja sebagai sopir ambulans ini berinisiatif untuk membuat peti mati.

“Kami hanya mencoba untuk membantu di saat kebutuhan akan peti mati untuk yang meninggal akibat Covid-19 meningkat,”terang Rano yang juga tergabung dalam Perkumpulan Unit Mobil Ambulance (PUMA) Nusantara, Kamis (8/7/2021).

Menurutnya permintaan peti mati ke Jakarta tidak bisa terpenuhi di kala angka kasus kematian Covid-19 sedang melonjak. ” Di Jakartanya saja kebutuhan akan peti mati juga sangat tinggi, kadang sampai tidak terpenuhi, karena sama – sama sedang dilanda musibah juga, ” terangnya.

Dibantu dengan delapan orang pekerja, Rano pun membuat peti mati untuk membantu keluarga korban Covid-19, agar tidak kesulitan saat mencari peti mati.

Dikatakan Rano, untuk rate harga peti mati standar sesuai dengan daerah lain. “Harga sekitar Rp. 2 juta-an, tapi kalau ada warga yang ingin lebih rendah bisa ngobrol sama pengrajinnya langsung di sini,”tambahnya.

Bukan hanya permintaan dari rumah sakit saja, Rano pun menerima pesanan warga yang ingin memesan secara mandiri. “Biasanya untuk pembuatan, Kami tergantung pesanan dari BPBD dan rumah sakit yang dituju, tapi untuk yang ingin membeli secara langsung Kami tetap layani, ” ujarnya.

Diakui Rano, sejak dirinya membuka jasa peti mati, diakuinya permintaan peti mati meningkat pada bulan Juli. “Dibandingkan dengan bulan Juni kemarin , bulan Juli justru lebih banyak, sehari permintaan bisa mencapai 5 buah peti mati, ” jelasnya.

Sedangkan bahan yang digunakan untuk pembuatan peti mati, Rano mengatakan dirinya mengikuti standar yang dianjurkan sesuai dengan SOP. ” Untuk peti mati jenazah Covid-19, standarnya yang mudah hancur di dalam tanah, dan speknya bukan Kami yang menentukan. Bahannya sendiri seperti tape blok, triplek, dan cat,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kuningan, Indra Bayu Permana, mengatakan untuk ketersediaan peti pihaknya terbantu dengan adanya pengrajin peti mati yang ada di Kuningan. “Seperti di Ciloa, Luragung dan Cibingbin, dan sebaiknya di setiap desa bisa membuat sendiri dengan ukuran sesuai standar, karena hal itu sangat penting, seperti APD, kantong mayat. Karena angka kasus kematian Covid-19 semakin meningkat,” jelasnya. (Dien)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru