Thursday, October 29, 2020
Home > Nasional > Obrolan Jusuf Kalla Dari Trend Istana Sampai Lebih Dihormati Dari Presiden

Obrolan Jusuf Kalla Dari Trend Istana Sampai Lebih Dihormati Dari Presiden

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) – Tidak selalu serius , Wakil Presiden Jusuf Kalla sering menjadi perhatian pers karena spontanitas terhadap suatu peristiwa Saat menghadiri peluncuran buku Sisi Lain Istana 2 karangan wartawan Kompas, J Osdar, Selasa (9/12/2014), Wakil Presiden Jusuf Kalla sempat berseloroh mengenai posisi seorang wakil presiden.

“Wapres adalah orang yang paling banyak dihormati di Indonesia. Lebih banyak dihormati dari Presiden ,”: kata Kalla .Dalam satu hari, Kalla bisa dihormati oleh Pasukan Pengamanan Presiden (Paspamres) selama kurang lebih 18 kali.

“Saat masuk rumah, keluar rumah, kita keluar rumah ada lagi (yang hormat), masuk ke Istana, keluar Istana, ke acara, keluar acara, ada lagi, sampai enam kali. Kita kembali ke kantor, ada lagi, total 18 kali dari rumah ke Istana,” kata Kalla di Bentara Budaya Jakarta, Selasa (9/12/2014). Hadir pula di acara tersebut mantan Wakil Presiden Boediono. “Iya khan Pak Bud.”

Menurut Kalla, penghormatan kepada wapres lebih banyak dilakukan dibandingkan kepada seorang presiden.Karena  seorang presiden lebih jarang dihormati karena jarang keluar Istana.

“Kalau presiden tidak pernah dihormati karena dia tinggal di Istana. Kalau kita kan, Pak Boediono, hampir setiap hari, kalah bahkan Panglima TNI,” ucap Kalla seraya bercanda dengan Boediono.

Di samping soal penghormatan, Kalla bicara mengenai kehidupan wapres yang selalu bebas macet karena dikawal voorijder. “Sama seperti sekarang, ada yang mengeluh aduh Jakarta macet, (saya bilang) ah kapan Jakarta macet? Enggak pernah,” kata Kalla.

Dalam kesempatan itu, pria yang biasa disapa JK ini juga menyampaikan penilaiannya mengenai kehidupan di Istana. Menurut Kalla, kehidupan di Istana sangat manusiawi. Ada suka, ada duka, ada tawa, ada kemarahan. “Isi Istana itu manusia juga, sangat manusiawi, bukan malaikat Istana itu. Ada juga salah, ada benar, ada ketawanya, ada marahnya,” ujar mantan Ketua Umum Partai Golkar ini.

Meskipun demikian, Kalla mengakui bahwa hidup di Istana harus lebih berhati-hati. Sebab, menurut Kalla, apa yang diputuskan di Istana bisa mengubah perilaku bangsa. Kalla mencontohkan keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. “Kalau yang besar, katakanlah lima menit mengumumkan BBM, semua langsung berubah sikapnya,” kata Kalla.

Selain terkait kebijakan, menurut Kalla, perilaku dan gaya para penghuni Istana turut menjadi contoh bagi masyarakat, misalnya cara berpakaian para presiden yang kerap trendsetter.

Kalla menceritakan, ketika masa Presiden Soeharto memimpin, sang Presiden kerap mengenakan safari. Tak ayal, gaya safari Presiden Soeharto lantas ditiru pejabat lainnya hingga ke kepala desa. Demikian juga ketika Presiden BJ Habibie memopulerkan gaya berpakaian resmi dengan mengenakan setelan jas dan kopiah. “Datang Pak Habibie, selalu pakai jas dan kopiah, semua acara Indonesia kemudian pasti pakai jas dan kopiah,” kata Kalla.

Kini, Presiden Jokowi bersama Kalla memopulerkan pengunaan baju batik. Saat pelantikan kabinet, Jokowi-Kalla dan para menterinya juga kompak mengenakan batik. “Sekarang kita pakai batik, seluruh Indonesia pakai batik, modelnya juga ada di Istana, bukan di tempat lain,” ucap Kalla.

Contoh lainnya, tutur Kalla, ketika Presiden Soeharto melarang pegawai negeri memiliki dua istri. Namun, aturan itu buyar ketika ada satu orang Istana yang memiliki istri lebih dari satu. “Begitu ada orang Istana yang istrinya lebih dari satu, semuanya bebas lebih dari satu. Jadi, Istana itu trendsetter,” ucap Kalla.

Begitu juga ketika presiden suka menggelar rapat-rapat yang panjang. Maka dari itu, pimpinan kepala daerah akan meniru gaya kepemimpinan sang presiden. Namun, ketika sang presiden lebih suka blusukan turun ke bawah dibandingkan rapat, para menteri hingga kepala daerah akan mengikuti tren blusukan.

“Waktu Pak Boediono tenang dan sabar, semua juga tenang dan sabar, begitulah kira-kira di Istana, bagus ini. Jadi, harus disadari pengaruhnya yang resmi, tidak resmi, semua terkena. Karena itulah, kita memang harus hati-hati,” tutur dia.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru