Tuesday, March 31, 2026
Home > Cerita > Cerita Pendek > If Only I Could,    Cerpen Kartika Permata

If Only I Could,    Cerpen Kartika Permata

 Dan aku tak punya hati, untuk menyakiti dirimu.  

Dan aku tak punya hati untuk mencintai dirimu yang s’lalu mencintai diriku,

walau kau tahu diriku, masih bersamanya.”

Lantunan lagu Chrisye – Andai Aku Bisa -, terputar secara acak dari playlist Daily Mix yang aku nyalakan di mobil. Pikiranku semakin tidak karu-karuan, setelah apa yang terjadi malam ini.

Wajah Sagita berubah ketika aku tak sengaja memberitahu, bulan depan aku akan menikah.

Bukan aku tak ingin memberitahu teman kantor, tapi memang persiapan yang sangat panjang dan melelahkan ini sangat menguras pikiran dan fisikku.

Suasana malam di tukang nasi goreng yang tadinya panas dan lembab, seketika dingin dan angin yang sejak tadi tidak ada, mendadak memunculkan dirinya dan membuat bulu kudukku berdiri.

Dingin, dan entah kenapa ada yang berbeda. Begitu juga dalam perjalanan kembali menuju kantor. Aku, Ivan dan Sagita berjalan dengan hening. Biasanya salah satu dari kami akan bercanda, ataupun berbicara tentang hal apapun yang sedang menarik perhatian kami. Seuntai keheningan yang menyesakkan.

Aku terduduk di kubikel, sembari membuka laptopku dan mengerjakan beberapa projek yang harus aku selesaikan sebelum akhirnya mengambil cuti di bulan depan. Dari balik laptop, aku bisa melihat bayangan Sagita yang beranjak dari kursinya menuju lantai tiga, kamar tidur untuk karyawan. Biasanya, ia akan menyapa orang lain sebelum beristirahat. Tapi kali ini, ia pergi melengos begitu saja tanpa berpamitan. Why should I bother, pikirku.

Setelah beberapa chat dan dokumen penting sudah selesai, entah mengapa pikiranku tertuju ke Sagita. Beranjak dari kursi, aku naik ke lantai tiga dan bergegas ke kamar tidur karyawan.

“Ta, udah tidur?” tanyaku dari balik pintu, menjulurkan kepalaku ke dalam ruangan. Sekilas aku bisa melihat, dia sedang rebahan di kasur sambil memainkan handphonenya.

“Eh, belum Cel. Kenapa?” ucapnya lalu bangun dan duduk di kasur tempat ia biasa tidur.

Aku berjalan ke arah tempat dia berada, namun ketika berhenti di depannya aku terasa canggung. Sekilas, kami saling bertukar pandang dan ia berdiri untuk kemudian duduk lagi, namun kali ini di tempat yang berbeda.

Aku bersandar di railing dekat jendela, memandangi jalanan malam dan sinar cahaya yang masuk dari lampu di pinggir jalan. Entah apa yang aku lakukan, dan apa yang aku ingin sampaikan padanya, seperti tidak bisa keluar dari mulutku.

“Ada apa, Cel?” tanyanya memecahkan keheningan canggung di antara kami berdua. Tanganku menggenggam railing semakin kuat, bingung apa yang harus aku ucapkan.

“Gue bingung aja, semua projek yang gue pegang tuh ga ada yang goal,” kataku.

“Ah, I see.” balasnya dengan singkat.

“Menurut gue, itu hal yang baik sih. Tuhan kasih lo jeda karena mau nikah.” lanjutnya lagi dengan muka datar.

Bersandar kepada railing lantai tiga, kali ini aku menghadap ke arahnya, tempat ia duduk. Kalau boleh jujur, aku hanya ingin duduk di sebelahnya. Namun, entah kenapa ia seperti menjauh dan tidak menunjukkan apa-apa. Tidak seperti biasanya.

“Tenang aja, nanti habis selesai acara dan honeymoon lo, pasti ada projek lain. Nanti gue bantuin ya,” ucapnya lagi, dengan ekspresi yang sama.

Kali ini kuberanikan diri untuk mendekat dan berdiri di depannya. Wajahnya menengadah ke atas.

“Kenapa?,” tanyanya.

“Ta, lo marah ya gue nikah?,” tanyaku tanpa berpikir panjang.

Nampaknya, pertanyaan itu membuat Sagita terkejut, terlihat dari raut wajah dan bola matanya. Tak ada yang keluar dari bibir kecilnya, namun air mata keluar perlahan mengalir di pipinya.

Aku tak sanggup melihatnya, dan seketika akupun melakukan hal yang sama. Namun, agar ia tak melihatnya, aku segera bergegas keluar dan meninggalkan Sagita di dalam ruangan. Aku tak boleh terus terbawa perasaan.

* * *

Perjalanan pulang ke rumah terasa lebih panjang dari biasanya. Bagaimana bisa, aku berpaling dari Rere setelah sekian tahun berpasangan dan sedang menyiapkan pernikahan. Sesuatu yang tak pernah aku bayangkan akan terjadi. Menyakitinya saja tak pernah terlintas di pikiran, apalagi hatiku.

Terulang kembali ke masa-masa Sagita pertama kali masuk kantor dan menyapa. Tidak ada yang istimewa sama sekali tentang dirinya. Berpakaian santai, membawa laptop besar dan mencoba membantu manajemen kantor kami. Tapi kalau boleh aku akui, sifat ceria dan easy-going yang sering dia perlihatkan membuatku sedikit tertarik di sela-sela kejenuhan pekerjaan.

Aku bisa mengobrol tentang apa saja dengan dia, dan aku lebih senang mendengarkan dia bercerita. Seringkali kami berdua harus ke tempat klien bersamaan, pun kalau sedang tidak harus berdua, aku suka mengajaknya.

Entah kenapa, kalau dia sedang sendiri dan suntuk di kantor, rasanya aku ingin mengajak dia. Pernah suatu hari, aku mengajaknya ke tempat makan yang sering aku datangi kalau sedang berada di Jakarta Pusat. Aku hanya ingin mengajaknya ke tempat yang makanannya, menurutku enak dan mungkin akan dia sukai.

Ah, apakah ini cinta, atau hanya ilusi semata?

***

Jakarta, 3 Oktober 2025.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru