Wednesday, September 22, 2021
Home > Berita > “BU OYOT DAN ASRAMA MAHASISWA UI DAKSINAPATI”

“BU OYOT DAN ASRAMA MAHASISWA UI DAKSINAPATI”

Foto : Paguyuban Daksinapati UI

Foto : Paguyuban Daksinapati UI

Mimbar-Rakyat.com (JAKARTA) – Innalillahi wa innailaihi rojiun “Mahasiswa Universitas Indonesia” tahun 1970-1990an yang tinggal di Asrama Daksinapati, Rawamangun, Jakarta Timur, pasti ingat Bu Oyot (Rukiyah).

Bu Oyot adalah pemilik warung makan langganan mahasiswa, yang sejak pagi hingga sore melayani mahasiswa asrama.

Warung Bu Oyot juga paling ramai karena di warungnya mahasiswa boleh makan dengan ngebon alias bayar kalau wesel kiriman orangtua datang dari kampung.

Yusril Ihza Mahenda dan adiknya Yusron Ihza Mahendra, Wagub Jambi Anthony Zeidra Abidin,  langganan warung bu Oyot Lalu gurubesar UI Sasa Djuarsa Sanjaya. Peneliti LIPI Asvi Warman Adam, Riwanto Tirtosudarmo. Termasuk wartawan Hendry Ch Bangun yang kini Wakil Ketua Dewan Pers.

Di kalangan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) khususnya mereka yang tinggal di Asrama UI Daksinapati, pasti kenal dengan sosok perempuan bernama Bu Oyot. Beliau adalah seorang pengelola warung makan di asrama tersebut.

Sebagai pengelola warung makan, perempuan yang akrab dengan panggilan Bu Oyot itu, bukan hanya akrab dengan para mahasiswa, tapi sangat mengerti jiwa dan juga ‘isi kantong’ para mahasiswa kebanyakan perantauan. Jadi sangat paham jika misalnya seusai makan, mahasiswa lantas bilang, “Catat dulu ya Bu?”

Bu Oyot paham kebanyakan mahasiswa boleh dibilang keadaan kantong yang pas pasan. karena mahasiswa yang di asrama, kebanyakan perantauan, keuangannya terbatas, karena mendapat kiriman dari orang tua cuma sebulan sekali. Nah ketika kiriman uang belum datang, maka maha siswa yang belum dapat kiriman boleh mencatat dulu, nanti bila kiriman datang barulah para mahasiswa membayarnya.

Mahasiswa yang sehari-hari dilayani makan di warung Bu Oyot, banyak yang telah menjadi ‘orang’ di negeri ini. Diantaranya Hendry Ch Bangun pernah menjadi penghuni asrama UI, seperti disampaikan oleh beliau ; “Saya sendiri dulu sempat jadi pengurus Daksinapati, bagian Humas.  Salah satu teman akrab dulu ya Yusron Ihza Mahendra, mahasiswa FIS UI yang jadi Dubes RI di Jepang, adik Yusril. Saya di kamar 103  bersama Slamet Riyadi Ali dan Ade Latief. Saya ke luar asrama setelah menikah bulan Mei 1983 dan menetap di Daksinapati sejak 1978”.Tapi saya selalu bayar tunai di Warung Bu Oyot. Nggak mau ngutang, mending laper, atau sarapan lontong plus tempe goreng di kampus FS UI yang jaraknya hanya sekitar 100 meter dari asrama. Ujar pak Hendry Ch Bangun (HCB).

Bu Oyot bagi saya sendiri adalah sudah seperti ibu kedua karena beliau pada waktu itu, ibu saya sakit, dan harus mendapat perawatan di Rumah Sakit (RSU Persahabatan), kami dititipkan kepada beliau, waktu itu tempat tinggal kami tinggal jauh di luar kota (Cipanas/Cianjur), akan sulit bila harus bolak balik Jakarta Cipanas.

Untuk itu orang tua kami menitipkan kami tinggal sementara ditempat bu Oyot, sebelum Ayah kami mendapatkan tempat tinggal tetap dan bu Oyot sangat senang menerima kami, karena anaknya ada yang sepantaran dengan saya danadik saya, Tuti Suharti dan Suto sebagai teman bermain.  Setelah Ibu kami dinyatakan sembuh dan boleh meninggalkan rumah sakit, kami dijemput oleh Ayah Ibu untuk pulang kerumah, betapa terkesan selama kami tinggal di rumah bu Oyot yang sangat baik mengurus kami, dari tidur, makanan untuk kami setiap hari. Baju kamipun dicuci oleh tukang cuci Asrama namanya Yu Parti

Bu Oyot (Ibu Rukiyah) lahir pada tanggal  05 Desember 1931 di Malang, Jawa Timur, Menikah dengan pak Oyot Nitiwikromo Pada Tahun 1948 dari Malang bu Oyot pindah ke Cianjur,  Tinggal bersama mertuanya di Desa Tegal Lega, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur dari 1948-1960, lalu merantau ke Jakarta pada tahun 1960 pertama kali bekerja di Asrama UI Pegangsaan, Cikini sebagai Mandor Asrama, pada tahun 1962 dipindahkan dari asrama UI pengangsaan ke Asrama UI Daksinapati Rawamangun. Kemudian setelah pak Oyot Pensiun dari Asrama UI Daksinapati Rawamangun pindah ke Perumnas  Jalan Mawar Merah, Klender, Jakarta Timur. Anak bu Oyot ada 8 orang, 5 perempuan dan 3 laki laki. Nenek dari 22 cucu.

“Itulah kenangan saya  dengan Bu Oyot..”

Selamat Jalan Emak Rukiyah, bertemu di Surga dengan pak Oyot (Ell/dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru