Thursday, October 29, 2020
Home > Internasional > Bisik-Bisik Jokowi , Presiden Xi Jinping Pun Jatuh Hati

Bisik-Bisik Jokowi , Presiden Xi Jinping Pun Jatuh Hati

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) -Makan malam itu begitu megah. Maklum pesertanya para pemimpin dunia, Presieen Jokowi duduk berdampingan dengan Xi Jinping, Presiden Republik Rakyat Tiongkok negeri berpenduduk diatas satu milyar.

Setelah berbangga dengan diplomasi “blusukan” sebagai rahasia Jokowi dalam mengawal pembangunan di Solo maupun Jakarta, Presiden Joko Widodo menggamit Xin Jinping sambil berbisik.

” Mister Presiden apa sih rahasianya sehinga berhasil membangun negeri Anda?,” tanya Presiden Jokowi merendah.

“Oh itu. Salah satu kebnerhasilan kami adalah pembangunan infrastruktur yangharusb tepatv waktu dan tidak boleh ditunda,” jawab Xin Jinping mantap.

” Oh begitu. Tapi bukankah pembangunan infrastruktur membutuhkan dana besar. Tiongkok dapat dana dari mana ?,” sahut Presiden Joko Widodo.

” Masalah itu gampang Mr Presiden. Aka nada banyak investor datang membantu untuk pembangunan infrastruktur. Jangan khawatir”. Jawab Xin Jinping sangat pede..

“Saat itulah saya bisiki Presiden Xi lagi, ‘Kamu bantu saya, dong’. Dia bilang akan bantu. Memang mau saya larikan ke situ arah pembicaraannya,” kata Jokowi yang disambut tawa warga Indonesia. saat menceritakan perbincangannya dengan Xi Jinping kepada warga Indonesia di Brisbane, Jumat, 14November 2014.

Itu tadi bukannya percakapan imajinatif tetapi ilustratif seperti dilukiskan Presiden. Tetapi bisa diduga saat pembicaraan informal ini terjadi Presiden Joko Widodo terbayang proyek tol laut yang dicanangkan. Pastinya akan menelan biaya besar. Bayangkan, 24 pelabuhan besar yang akan meralisasikan program tol laut ini.

Jokowi juga mengaku tak hanya membisiki Xi Jinping, tapi juga pemimpin dunia lain seperti Presiden Rusia Vladimir Putin dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe. “Kalau Putin malah mendahului saya, dia bilang mau membangun kereta api di sini,” katanya.

Bocoran 24 Pelabuhan

Pemerintah melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas telah mendesain konsep tol laut Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan 24 pelabuhan. Terbagi atas pelabuhan yang menjadi hub internasional, pelabuhan utama dan pelabuhan pengumpul.

Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Bappenas, Dedy S Priatna membocorkan , sebanyak 24 pelabuhan itu antara lain, Pelabuhan Banda Aceh, Belawan, Kuala Tanjung, Dumai, Batam, Padang, Pangkal Pinang, Pelabuhan Panjang.

Ada pula, Pelabuhan Tanjung Priok, Cilacap, Tanjung Perak, Lombok, Kupang, Pontianak, Palangkaraya, Banjarmasin, Maloy, Makassar, Bitung, Halmahera, Ambon, Sorong, Merauke dan Jayapura.

“Cuma Pelabuhan Kuala Tanjung, Bitung dan Sorong yang akan dibangun baru. Sedangkan sisanya hanya perluasan atau pengembangan,” ucap Dedy kepada wartawan  di Bandung,  Sabtu (15/11/2014).   

Dari 24 pelabuhan itu, sambung dia, terbagi dua hub internasional yaitu Kuala Tanjung dan Bitung yang akan menjadi ‘kamar tamu’   bagi kapal-kapal asing dari berbagai negara.

Pemerintah menyiapkan enam pelabuhan utama yang dapat dilalui kapal-kapal besar berbobot 3.000 hingga 10 ribu TeUS. Enam pelabuhan itu adalah Pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Perak, Makassar, dan Sorong.

“Pelabuhan utama akan jadi jalur utama atau jalan tolnya. Sedangkan 24 pelabuhan dari Belawan sampai Jayapura disebut Pelabuhan Pengumpul,” paparnya.

Sebanyak 24 pelabuhan tersebut, kata dia, merupakan bagian dari 110 pelabuhan milik PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo). Sementara total pelabuhan di Tanah Air sekira 1.230 pelabuhan.

Lanjut Dedy, konsep tol laut ini tengah menunggu kepastian dari Presiden Jokowi. Konsep pelabuhan tersebut dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan keinginan Presiden.

“Konsepnya ditentukan rencana teknokratik, nanti kan dievaluasi tim Jokowi. Nah pada 15 Januari saat Peraturan Presiden RPJMN terbit, apakah tetap berjalan sesuai konsep atau ada perubahan. Bisa saja pindah tergantung kemauan Jokowi, tapi kemungkinan besar tetap konsep ini,” jelas dia.

Dia mengaku, desain tol laut ini adalah konsep dari Pelindo dan McKansey. Perubahan sangat dimungkinkan terjadi karena melihat 86 pelabuhan lain yang dioperasikan Pelindo memiliki IRR tinggi.

Sedangkan sisa dari 110 pelabuhan dari total 1.230 pelabuhan dikelola oleh Satuan Kerja Perhubungan, Provinsi dan lainnya.”Jadi belum menguntungkan. Kalau sudah menguntungkan pasti diambil Pelindo,” tegasnya.   

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru