Wednesday, October 28, 2020
Home > Berita > Ada Sapi Pasundan di Dukuh Badag

Ada Sapi Pasundan di Dukuh Badag

Sapi perkawinan silang, Sapi Pasundan, berhasil dilakukan di Kuningan. (dien)

Mimbar-rakyat.com (Kuningan) – Desa Dukuh Badag berhasil melakukan eksperimen perkawinan silang sapi lokal Kuningan dengan sapi unggulan sehingga menghasilkan jenis gen sapi baru yang diberi nama Sapi Pasundan.

Sapi Pasundan itu dikenalkan ke ruang publik dalam peringatan hari ketahanan pangan sedunia, Jumat,  di Aula gedung seba guna Balai Desa Dukuh Badag.

Kepala Desa Dukuh Badag, Sutoyo, menjelaskan, Sapi Pasundan menjadi ciri khas Desa Dukuh Badag bahkan Kabupaten Kuningan.

“Jenis sapi dari eksperimen perkawinan silang itu, merupakan jenis sapi yang memiliki kualitas bagus dan dapat bersaing dengan sapi lokal lainnya seperti sapi Bali atau pun sapi NTB,” ujarnya.

Meski sapi itu memiliki kualitas yang baik, lanjut Sutoyo, namun ia yakin jika tidak ada sosialisasi dan dukungan dari pemerintahnya, maka pengembangan Sapi Pasundan tidak akan optimal.

“Contohnya seperti di Bali, demi mendukung peternak sapi lokalnya, dibuat Perda yang salah satu isinya bahwa restoran dan hotel di Bali harus menggunakan daging sapi lokal dalam pembuatan menu makanannya. Saya harap di Kuningan juga bisa seperti itu,” ujar Sutoyo

Saat menghadiri acara tersebut, orang nomor satu di Kabupaten Kuningan ini, mengapresiasi program peternakan Sapi Pasundan dan berharap bisa diikuti oleh daerah-daerah sekitarnya.

“Program seperti ini bisa masuk dalam program desa pinunjul. Hal ini harus dikembangkan. Sapi Pasundan bisa dijadikan ikon unggulan Kabupaten Kuningan, diharapkan bisa diikuti oleh desa-desa sekitar,” katanya.

Bupati menyarankan program tersebut bisa berjalan dengan baik bila dikolaborasikan dengan pihak lainnya. Salah satunya dengan memanfaatkan teknologi tepat guna dalam meanfaatkan kotoran hewan dalam bidang pertanian atau lainnya.

“Program baik ini diharapkan juga bisa dikolaborasikan dengan pihak-pihak lain, semisal dalam pemanfaatan kotoran hewannya untuk menjadi pupuk pertanian,” katanya, dengan menambahkan, jangan sampai kotorannya malah jadi masalah di kemudian hari.

“Harus dimanfaatkan. Dengan memanfaatkan teknologi, kotoran hewan bisa didayagunakan untuk produk lain yang bermanfaat, seperti bio gas, pupuk bahkan bisa jadi batako,” ujarnya.  (dien/arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru