Ini pagi ke ketujuh, bertu rut-turut, Sutarudin berjalan kaki mengitari kompleks perumahan tempat dia tinggal, di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Waktunya hampir sama, dimulai menjelang pukul 07:00 Wib.
Suta mendadak gemar jalan kaki, jadi wajar bila Satpam perumahan sedikit heran bercampur takjub. “Siappp….. Selamat pagi Pak Suta… Bapak hebat, sekarang rajin berolahraga, sehat terus ya Pak,” ujar Satpam dengan hormat.
Suta tersenyum sambil mengangguk, dan mempercepat langkahnya. Tangannya diayun, menyerupai atlet. Itu hanya sekejab, setelah itu Suta kembali berjalan santai sambil lihat kiri kanan. Seperti ada yang dicarinya.
Biasanya, waktu pagi Suta, laki-laki bujang jelang 35 tahun, dihabiskan membuka aplikasi instagram. Diselingi memantau berita dari platform digital, sambil merokok beberapa batang, ditemani secangkir kopi. Itu menu sarapan sejak dia mahasiswa.
Jelang matahari di atas kepala, Suta baru berangkat ke kantor. Sehingga dia pun terhindar dari parahnya kemacetan lalu lintas pagi hari di Jakarta. Memang begitulah umumnya waktu kerja jurnalis. Berangkat siang, pulang malam, terkadang hingga pagi datang .
Suta tinggal bersama Danang, asisten rumah tangga, laki-laki berusia 20 tahunan asal Klaten, Jawa Tengah. Danang , kerjanya serabutan, mulai merapikan rumah dan halaman, hingga mencuci mobil dan merawat burung.
Tentu saja Danang melayani ragam keperluan Suta lainnya. Mulai membeli rokok, dan mengantarkan pakaian ke binatu, hingga memasak air panas untuk membuat kopi. Danang serba bisa, dan serba guna, sehingga Suta terlayani.
Danang sebelumnya office boy (o-b) di kantor tempat Suta berkerja. Danang telaten melayani Suta di kantor. Mulai merapikan meja kantor dan buat kopi, hingga beli rokok dan nasi rames kesukaan Suta, di rumah makan padang “Takana Jo Kampuang.”
Ketika Suta membeli rumah secara kredit setahun lalu, Danang dibajak, dirayu dengan gaji sedikit lebih besar agar mau. Suta tidak salah pilih, Danang meladeni semua keperluan Suta. Suta hanya sediakan biaya untuk semua keperluan.
Suta terbiasa praktis. Dapur hanya untuk memanaskan air buat menyedu kopi, itu pun Danang yang kerjain. Suta makan siang dan malam di luar rumah. Atau tinggal pesan lewat gofood, bila dia di rumah. Cuci pakaian di laundry.
***
Suta berkerja sebagai produser eksekutif program pemberitaan di sebuah stasiun televisi swasta nasional terdepan di Jakarta. Pergaulannya luas , dengan gaya hidup bisa ke bawah, bisa sedikit keatas. Tergantung situasi dan kondisi, serta lingkungan.
Di kalangan jurnalis, Suta cukup dianggap. Dia merintis karir dari bawah, mulai dari reporter, di tempatkan di semua bidang liputan. Mulanya reporter olahraga, lalu di desk kriminal, sosial hingga ekonomi dan politik.
Karir Suta cepat menanjak. Sebagai reporter hanya dua tahun, kemudian jadi asisten produser setahun, setelah itu jadi produser dua tahun. Dan kini Suta sudah menjalani jabatan produser eksekutif selama dua tahun . Dia handalan program berita di waktu tayang prime time.
Suta berharap tahun depan naik posisi jadi manager pemberitaan. Sebenarnya enam bulan lalu, Suta dipromosikan menjadi manager departement current affair. Hanya saja Suta menolak dengan halus. Dia tidak mau mengambil ambisi kawannya, Jufri Alkatiri, yang sudah lama mengincar posisi itu.
Lagi pula, Suta kurang tertarik pada bidang current affair yang membidani program talkshow, information, religi dan dukomenter. Suta lebih tertarik pada departemen pemberitaan, yang isyunya beragam, terus berganti dan berkembang setiap saat.
Sebagai jurnalis, Suta sudah melalang buana ke mana-mana. Semua wilayah nusantara sudah diinjaknya, kecuali tanah papua. Dia selalu menggindar bila ditugaskan ke daerah wilayah paling timur Indonesia itu. Baginya Papua tidak menarik. Tentu saja, Suta salah untuk yang satu ini.
Semua benua juga sudah dikunjungi. Eropa misalnya, sudah hampir semua kota-kota utama di benua itu sudah didatanginya. Begitu juga beberapa kota di Amerika, Asia dan Australia. Bahkan Suta sudah menginjak daratan yang paling selatan di bumi ini, Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Yang belum ke kutub utara. Itu karena dia tidak berminat.
Sebagai jurnalis pergaulan dan net-working Suta luas. Dia bisa langsung menelpon beberapa menteri. Dia kenal dekat para ketua partai politik, juga para beberapa pimpinan lembaga tinggi negera, serta petinggi tentara , dan polisi.
Di dunia entertaiment musik dan film, Suta juga bergaul. Dia bukan cuma sekadar kenal, bahkan berkawan dekat dengan para penyanyi senior, lelaki dan perempuan. Juga dengan sutradara hingga aktor dan artis senior. Tapi memang, dengan para bintang angkatan muda, Suta kurang punya koneksi.
***
Entah mengapa Suta masih membujang, padahal dia lelaki normal, punya penampilan di atas lumayan. Fosturnya tinggi, kisaran di atas 178 centimeter. Rupanya enak dilihat. Dia kategori lelaki tampan, disukai perempuan.
Saat di bangku SMA Suta cowok popular. Lantaran keren, dan termasuk siswa pintar. Dia aktif di organisasi siswa dan perkumpulan seni, olahraga dan pecinta alam. Boleh dibilang Suta dikenal oleh semua siswa-siswi.
Tapi yang mengherankan tak satu pun gadis yang terlihat dekat dengannya sebagai pacar. Begitu juga saat dia kuliah, tak ada perempuan yang bersandar di bahunya. Semua cuma sebatas teman, tidak lebih.
Kawan-kawannya juga heran dan penasaran, kenapa Suta tidak punya pacar. Padahal tidak sedikit perempuan yang memberi sinyal, secara halus maupun terang-terangan, ingin jadi pacarnya. Suta menghindar kalau ada perempuan mulai memberi tanda ingin dipacari.
Tak heran sempat beredar gunjingan, kalau Suta itu, lelaki penyuka sejenis. Dia mendengarnya, tapi dia tak ambil berduli. “Kok dikau tahu sih,” canda Suta mengiyakan, dengan gaya kemayu. Dan rumor itu tidak disertai bukti, hilang sendiri.
Sejatinya Suta ingin punya kekasih. Namun perihal perempuan dia punya selera tersendiri. Prinsip Suta, mau berpacaran dengan perempuan yang dia suka. Pokok tidak sembarangan memberi kasih.
Waktu duduk di SMA kelas 3, Suta sudah menemukan. Namanya Nurlela, siswa kelas satu, perempuan berdarah Arab, berparas cantik, berkulit putih. Bentuk tubuhnya tinggi langsing berisi. Rambutnya hitam lurus sebahu, sering diikat terurai, membuat wajah tirisnya semakin menonjol.
Yang membuat Suta tersihir pada Nurlela, pada bola matanya agak besar, tapi tatapannya sayu. Nurlela si gadis bermata sayu itu, membuat Suta berdegup, namun dia suka sekali memandang Nurlela.
Tat-kala itu Nurlela siswa baru, sedangkan Suta duduk di kelas tiga. Lazimlah senior menaksir yunior. Suta mengeluarkan semua ilmunya untuk mendapatkan Lela. Bahkan memanfaatkan posisinya sebagai kakak kelas.
“Haii Lela apa kabar? Ini beberapa buku untuk kelas satu, mungkin kamu perlu pakai aja,” kata Suta suatu ketika.
“Ohhh makasih Kak Suta. baik banget… tapi buku ini aku sudah punya'” jawab Lela, sembari melempar senyum manis ditambah tatapan sayunya.
Sontak Suta tergagap, “ohh gitu….. jadi ngak mau yaa? ,” jawab Suta dengan suara serak tanda kecewa. Dia kehabisan kata, kemudian berbalik pergi.
Entah kenapa, mungkin sudah jadi karmanya . Suta bila bertemu dengan perempuan kesukaannya, suka kehilangan kata-kata. Padahal, diwaktu normal Suta lihai merangkai kata, sampai orang terkesima mendengarnya.
Sudah tiga kali Suta menunggu di gerbang sekolah, agar bisa pulang bersama Lela. Tapi Lela selalu pulang sekolah bersama temannya. Suta sudah merasa kalau Lela tidak menyambutnya. Tapi namanya falling in love, perlu diperjuangkan. Pantang mundur bila masih ada peluang.
Perjuangan tentu ada akhir. Asa tentu ada batas. Suta pun menyadari, Lela sudah tidak bisa dipacari. Sebab Lela justru berpacaran dengan kawan sekelasnya. Suta gigit jari, tapi tak sampai patah hati, dan tetap sendiri. Padahal beberapa perempuan lain berharap cintanya.
••••
Waktu awal masuk universitas, diam-diam Suta juga punya kebetan. Gadis asal Bukit Tinggi, Sumatra Barat, namanya Yanti. Bukan mahasiswi tercantik, tapi punya daya tarik. Yanti selalu riang, bersemangat, senang bergaul, dan ceplas ceplos.
Yanti mahasiswi Fakultas Sastra Inggris. Suta mengenal Yanti saat kampusnya tour ke Bali, dalam rangka orientasi mahasiswa baru. Saat itu Suta mahasiswa baru, sedangkan Yanti mahasiswi semester tiga. Suta menaruh hati pada Yanti, setelah beberapa kali bertemu.
Dalam kalkulasi Suta, memacari Yanti tinggal setengah langkah lagi. Sebab selama sepekan di Bali, terapi p-d-k-t nya berjalan lancar. Keduanya sering makan satu meja, dan tertawa bersama. Suta sudah kulyakin, Yanti akan mengisi hari-harinya.
Namun cinta itu memang gaib.. “Waduh….. salah ini Suta. Kita kan cuma temanan. Ngak mungkinlah. Justru Sinta tuh, yang ngebet sama loe,” kata Yanti enteng, membalas pernyataan cinta Suta, saat senja menyelimuti pantai kuta. Tapi Suta merasa hari sudah malam.
Tatkala Suta duduk di semeter empat, dia sempat berpacaran dengan Leli, mahasiswi ekonomi semester empat. Leli turunan Eropa. Papanya orang Polandia, mamanya dari Flores. Jadi bisa diterka kecantikan Leli.
Suta mendapatkan kasih Leli tanpa terencana. Leli anak Jakarta Selatan, berdomisli di kebayoran baru. Gaya hidup dan pergaulan kesehariannya berbeda dengan Suta. Leli nongkrongnya di seputaran Kemang. Sementara Suta di Rawamangun, Jakarta timur, kawasan tempat dia indekos.
Tapi Leli asyik orangnya, bisa masuk ke pranata sosialnya Suta. Kalau mereka berdua ada acara, Leli tidak sungkan, sering pergi berboncengan dengan motor vespanya Suta. Soal makan pun Leli tidak pilih-pilih, asal bersih disantapnya. Sehingga Suta tidak keteteran..
Suta hepi sekaligus bangga punya kekasih Leli. Dia tahu banyak temannya yang iri. Suta yang ‘kolang-kaling’, dapat cewek cantik, kaya, gak masuk di akal. Tapi begitulah, misteri cinta. Asyiiknya lagi, justru Leli yang ‘nembak’ Suta.
Ihwalnya dari Porseni (Pekan Olahraga dan Seni) Kampus. Suta berkompetisi di ajang bola basket membela fakultas hukum dan juara setelah di final mengalahkan fakuktas ekonomi. Usai pertandingan, Suta dicegat oleh Leli di pintu ke luar gelanggang olahraga.
“Kamu Suta kan, saya Leli,” ujar Leli, sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sontak Suta tergagap dan kaget, dia cuma mengangguk, sambil menyambut tangan Leli. Mereka sekejab berpandangan, Suta terpesona, tanpa kata, seperti biasanya.
Leli menarik tangannya, lalu mengambil handphone dari tasnya.
“Boleh minta nomor telpon kamu kan,” ujar Leli sambil menyodorkan handphone. Suta mengambilnya dan mengetik nomornya, tanpa kata.
“Thank you, nanti aku kontak ya,” kata Leli dengan nada riang, lalu Lalu berbalik, berjalan menuju kumpulan kawannya. Hari itu juga, selepas matahari tenggelam, Leli memenuhi janjinya, menelepon Suta.
“Hai Halo Sutakan?Aku Leli yang tadi minta nomor telepon kamu. Oh ya besok ketemuan ya.. Kita makan siang di Virtual Cafe di Kemang, pukul dua belas. Aku tunggu, awas kalau gak datang,” ujar Leli dengan aksen merayu. Lalu telepon terputus.
Suta terperangah sekian detik. Dia berguman sendiri, “Pede banget itu perempuan, ngajak ketemu seperti orang pesan makanan.” Sejak itu Suta dan Leli berpacaran. Tapi kebersamaan mereka cuma sebentar, tidak lebih dari dua puluh pekan.
Penyebabnya, Leli ingin Suta sepenuhnya. Tiap hari Suta harus siap bersama dan meladeni kemauan Leli. Awalnya Suta oke oke saja. Belakamgan Suta mulai merasa kebiasaan mulai hilang, yang ada hanya kebiasaan dan kemauan Leli. Suta mundur teratur, Leli faham. Tak ada luka di hati.
***
Setelah lulus kuliah, Suta berkerja di bank swasta terkemuka. Berkerja lebih dari sebulan, Dia melihat seorang rekan kerjanya cantik, berkesan cerdas. Namanya Linda, berdarah Cina, dengan muka oval, mata bening, berhidung mancung. Rambutnya pendek sebatas leher.
Linda pegawai front office, yang berlainan lantai kerja dengan Suta. Linda dilihat Suta, saat makan siang, di sebuah restoran kecil dan murah, sekelas warung tegal, tidak jauh dari lokasi kantornya. Seperti biasa, mulanya Suta hanya terpana, kehilangan kata.
Suta perlu waktu sepekan untuk berani menyapa Linda. Itu saat Linda makan siang sendiri di warung makan langganan. Sapanya hanya tiga patah kata. “Hai … saya Suta.” tegur Suta sambil menjulurkan tangannya untuk bersalaman.
“Udah tahu, nama kamu Sutarudin ‘kan. Kerjanya di divisi legal, lantai tiga. Saya Linda, yuukk makan bareng,” jawab Linda enteng, sambil menjabat tangan Suta, lalu menunjuk kursi di depannya.
Linda ceria, dan pintar bicara, sehingga rasa grogi Suta pun berkurang. Mereka berdua makan bersama sambil ngobrol, lalu bayar masing-masing.
Hanya satu pekan berkenalan Suta dan Linda sudah berpacaran. Datang ke kantor sendiri-sendiri, pada waktu pulang mereka bersama, berboncengan naik vespa antik Suta. Setiap hari sehabis jam kantor mereka selalu punya acara. Bila malam merangkak naik, barulah Suta mengantar Linda pulang.
“Maaf… ya Suta.. antarnya sampai pintu pagar halaman saja, tamu laki dilarang masuk ke kosan aku,” kata Linda waktu kali pertama diantar Suta. Dan Suta pun tersenyum mengerti. Dan larangan itu tidak pernah dilanggarnya. Suta pantang memaksa kehendak. Dia perpacaran dengan menjaga kehormatan.
Suta dan Linda terlihat serasi, ganteng dan cantik. Hubungan mereka tak pernah diwarnai silang pendapat dan amarah, semua mengalir searus. Di mana pun, kapan pun keduanya terlihat mesra dan bahagia. Itu terkadang membuat rekan kantor mereka iri. Ingin seperti Suta dan Linda.
“Bro sudah ditunggu tuh, atau gue yang antar Linda nih,” canda Anton, kawan sekantor Suta, suatu ketika. Suta pun sontak terjaga, cepat-cepat membereskan meja, dan bergegas menyusul Linda, yang menyambutnya dengan senyum senang, cantik.
Setelah berpacaran enam bulan, Linda mengabarkan bahwa dia dapat promosi sebagai asisten manager front office kantor cabang di Solo, yang baru dibuka. Linda terpilih karena berasal dari Solo, dan performanya mendukung. Dan Linda memang menginginkannya..
Linda mengabarkan promosi itu dengan wajah berseri-seri dan bersemangat.” Thanks good, doa aku terkabul, pindah kerja ke Solo. Aku kan bisa lagi bertemu mami-papi tiap hari,” ujar Linda.
“Loh ..Suta, koh kamu diam saja… kasih selamat dong,” tambah Linda polos, tidak memahami kalau relung hati Suta tertusuk.
Hanya sekelebat, Suta pun tersadar. “Alhamdulillah … congrats ya say… keinginan kamu terkabul,” kata Suta sambil memeluk Linda.
” Truss .. kapan pindahnya?” tanya Suta dengan nada serak. Linda pun tersadar, kegembiraannya, adalah kesedihan bagi Suta.
Cinta Suta dan Linda, antara Jakarta dan Solo, hanya bertahan dua bulan. Keduanya sudah berusaha untuk menjaga kata, dan perasaan. Tapi memang tidak bisa dipungkiri, intensitas pertemuan mempengaruhi karat cinta.. Linda yang mengakhiri, Suta menyetujui.
Saat mengawali karirnya sebagai jurnalis, Suta sempat menaksir Vena, gadis berdarah Manado, yang berkarir sebagai presenter. Suta bersaing dengan banyak ‘musuh’ untuk mendekati Vena, yang nilainya di atas delapan, perempuan impian.
Vena ibarat pepatah orang betawi, jinak-jinak merpati. “Bang Suta, jangan pelit dong, sesekali ajak Vena makan dong,” ujar Vena, usai bersiaran di suatu hari di waktu sore.
Suta hanya tersenyum, padahal dia ingin menanggapi, “Ayyuk Vena dengan senang hati.” Tapi tak keluar dari mulut Suta.
Vena secara terbuka, memberi lampu hijau. Tapi Suta gamang, keinginannya maju-mundur. Suta menyadari punya pacar seperti Vena, bakal repot. Tapi yang paling dihindari adalah, perpacaran dengan anak buah sendiri, apa kata orang nanti. Untuk Vena, suta melawan hasratnya.
***
Suta mendadak jalan kaki di pagi hari, berawal enam hari sebelumnya. Entah mengapa pagi itu dia banyak masalah. Mulai tangannya tersiram kopi panas, hingga kalang kabut mencari kunci mobil, padahal itu kunci ada di saku celana kotornya.
Pagi itu dia keluar kompleks rumah dengan jalan memutar*. Mobilnya seperti ada yang menuntun berbelok ke kanan dari garasi rumah. Biasanya mobil belok kiri, karena lebih dekat ke pintu gerbang kompleks perumahan. Sungguh Suta tidak sadar.
Baru berkendaraan bergerak sekitar 100 meter, praaaakk.. bagian kap mobil Suta digebuk orang. Suta reflek, menginjak rem, mengalihkan pandangannya dari layar handphone, ke jendela mobil. Suta diam terpaku, tak bersuara. Pandangannya lurus dengan mata terbelalak.
Di balik jendela mobil, seorang perempuan muda menatap marah padanya. Perempuan itu hanya mendelik, tanpa berkata. Seperi biasanya, Suta seketika bisu dan hilang akal, cuma melongo takjub.
Seharus Suta mematikan mesin mobil, lalu ke luar, dan minta maaf, tanda bersalah, karena menyetir mobil sambil main handphone. Tapi Suta malah diam terpana melihat perempuan yang melanraknya.
Itu lantaran, itulah perempuan yang selama ini sepekan ini menghantui pikirannya. Tidak terlalu rupawan, tapi menawan. Tidak terlalu cantik, tapi menarik. Bola matanya mengingatkan Suta pada Nurlela. Hidung dan lekukan bibirnya mirip Leli, parasnya seperti Linda.
Suta baru tersadar saat perempuan itu berlalu, meneruskan kegiatannya berolahraga lari. Suta berusaha memanjangan pandangannya , tapi percuma, sosok perempuan yang membius itu sudah menghilang, dalam tikungan jalan.
Suta memutar arah mobilnya, mengikuti arah perempuan itu berlari. Tapi sudah terlambat. Sudah sekitar 20 menit dia menyusuri semua ruas jalan di komplek perumahan, tapi perempuan itu seperti hilang ke dalam bumi.
Suta sudah bertanya ke satpam di pos penjagaan. Tapi percuma, satpam tak punya info. Paras perempuan itu, terus mengikutinya selama sepekan ini.
Dalam imajinasi Suta , saat mendelik saja perempuan itu memikat, apalagi saat tersenyum. “Aku harus menemukannya,” ucap Suta lantang. Membuat Danang yang mendengarnya bengong.
Suta pun melakukan ritual berjalan mengintari komplek rumahnya setiap pagi. Berharap bisa jumpa dengan perempuan idamannya itu. Hari terus bergulir, pagi terus berganti. Suta sudah dua pekan berjalan kaki di pagi hari, tapi dia belum juga menemukan perempuan yang dicarinya.
Sudah hampir 60 menit Sutarudin berjalan kaki, dia rasa sudah cukup untuk pagi ini, besok akan diulangi. Dia pun berbelok masuk ke perkarangan rumahnya, bersama dengan itu ekor matanya menangkap ada orang mendatanginya.
“Pagi Mas, maaf….. apa bisa aku ditolong.” Suta pun berbalik menghadap datangnya suara. Seketika mata Suta melebar kaget. Di depannya, sekitar dua meter berdiri perempuan dengan pakai olahraga, wajahnya berkeringat, cantik”
“Masyaa Allaaahhh ..:.loohh … loohh kohh…ada di sini? Kohh… kohh kamu muncul… ” kata Suta melantur, membuat si perempuan mundur selangkah, agak takut. “Mas.:: apa bisa tolong aku,” kembali perempuan itu berkata, dengan suara memohon.
“Bisaaa…. bisaaa… mau apa ya,” jawab Suta dalam kekagetan dan jantung berdebar, sedikit panik. Matanya pun belum berkedip. Kondisi Suta seperti orang baru siuman dari pingsan. Tersadar tapi nanar..
“Saya Dinda tinggal di sebelah, mau pinjam dongkrak, mau ganti ban mobil saya,” kata perempuan itu dengan suara pelan dan halus. Suta walau nanar tapi pandangannya tidak kabur. Matanya, tak berkedip memandang Dinda.
Pagi itu Dinda pakai celana pendek ketat selutut, dipadu kaos t-shirt tangan pendek, longgar panjang hingga paha atas. Rambut panjangnya diikat, ditutup topi. Kaki dan tangannya putih mulus, begitu juga lehernya.
Dinda tidak lain perempuan yang selama dua pekan ini hadir di pikiran Suta. Perempuan yang dia cari, sambil pura pura gemar berjalan kaki di pagi hari. “Oh .. dong.. dongkrak , ada Mbak, mau be.. berapa,” Suta ngelantur lagi, membuat Dinda tersenyum tipis.
“Perlu satu saja Mas,” kata Dinda, suaranya enak didengar.
“Se.. sebentar ya Mbak.” balas Suta lalu bergegas mengambil kunci mobil. Biasanya dia berteriak, meminta Danang memgambil kunci mobil. Tapi kali ini Suta bertindak sendiri.
“Koh itu perempuan tiba-tiba muncul ya?” Suta masih berguman sendiri, saat melakah ke dalam rumah mengambil kunci mobil. Lalu
mengambil dongkrak dari bagasi mobil, dan menyerahkan ke Dinda, tanpa berkata.
“Aku pakai dulu ya,” kata Dinda, berbalik melangkah menjauh. Suta tersadar, “Mbak Dinda, aku Suta. mau aku bantu,” kata Suta dengan nada memohon, bergerak mendekati Dinda
” Ohh ngak usah Mas Suta terima kasih, aku bisa kok, jawab Dinda sambil tersenyum. Dan Suta lagi-lagi terpaku. Lalu terkaget mendengar suara seorang laki-laki di belakang Dinda.
“Bieb.. ada dongraknya?,” kata lelaki itu, dengan nada mesra. Dia juga memakai seragam olah raga. “Adaa, kita dikasih pinjam sama Mas Suta,”jawab Dinda.
Suta tersentak, perasaannya menjadi tak enak. Lelaki itu menghampiri Dinda, sambil tersenyum kepada Suta. “Oh yaaa Mas Suta, kenalin ini Mas Fajar, suami aku,” ujar Dinda riang..
Suta membeku, dan perutnya mendadak melilit. Dia menyambut tangan Fajar untuk bersalaman dengan wajah muram. Suta, berbalik berjalan pulang, lalu duduk berselonjor di lantai teras rumah.
Suta menyalakan sebatang rokok, mengisapnya dalam-dalam, lalu mengeluarkan asapnya pelan-pelan. Senyumnya tertahan, pandangannya menerawang.
Kasihnya tak kesampaian…… .!
***
Jakarta, Januari 2026.
(Penulis Cerpen ini adalah RDU (Reva Dedi Utama), saat ini menjabat Pemred di stasiun televisi ANTV dan Wapemred di TVOne. Memulai karir sebagai jurnalis tahun 1986 di Harian Umum Pelita.
Penulis orang minang, alumi Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia tahun 1984. Ketika usia muda, penulis atlet sepak bola, dan sempat bermain untuk klub Persija Jakarta tahun 1978-1982) .
