Friday, September 25, 2020
Home > Berita > Wartawan WJC sepakati perundingan damai semenanjung Korea dilanjutkan

Wartawan WJC sepakati perundingan damai semenanjung Korea dilanjutkan

Keterangan foto - Bob Iskandar, delegasi dari PWI Pusat dalam pertemuan wartawan dunia di Seoul, Korea Selatan. (dok.pwi)

Mimbar-Rakyat.com (Seoul) – Perang sudah berlangsung sekitar 70 tahun, sehingga diharapkan ada kesepakatan puncak antara Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan pimpinan Korea Utara Kim Jong-un untuk menyelesaikan masalah Semenanjung Korea.

Imbauan kesepakatan itu disampaikan menjelang penutupan Konferensi Wartawan se-Dunia (World Journalists Conference/WJC) 2020,  Rabu petang, di Seoul.

Kesepakatan ini diambil setelah mendengarkan para pembicara dari berbagai negara, termasuk delegasi dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Bob Iskandar, Senior Director Confederation of Asean Journalists (CAJ), International Relations & Cooperations Worldwide.

Pertemuan WJC hari terakhir menampilkan pembicara dari kalangan wartawan dan akademisi Korea, demikian siaran pers dari humas PWI, Kamis.

WJC via aplikasi Zoom yang dikendalikan dari Seoul itu diikuti 100 wartawan dari 60 negara dan kalangan akademisi berlangsung tiga hari dengan membahas maraknya berita bohong, pandemi Covid-19, dan strategi perundingan damai di Semenanjung Korea.

Kesepakatan melanjutkan perundingan damai itu juga didorong oleh Lim Eul-chul, profesor dari Lembaga Kajian Timur Jauh pada Kyungnam University, dan Wang Son-taek, peneliti dari Think Tank Yeosijae yang berkantor di Seoul.  Keduanya sepakat agar konflik Korea diakhiri karena membuat beban berat ekonomi dan militer di Korea.

Bob Iskandar dari PWI Pusat dalam presentasinya mengatakan, pada dasarnya keinginan bersatunya Korea ini sudah sangat diharapkan oleh rakyat Korea, baik yang di utara maupun selatan.

“Saya melihat ini sesuatu yang sangat mendasar dan kuat untuk diperjuangkan oleh masing masing pimpinan dari kedua negara yang terpecah ini,” kata Bob.

Hal ini tentu terasa sulit, kata Bob, karena para pemimpinnya tidak secara sungguh-sungguh dan berani memperjuangkan untuk bisa bersatu, di samping cengkeraman pihak luar semakin kuat dari waktu ke waktu.

“China memihak  pada Korea Utara dan Amerika pada Korea Selatan. Saya memberi tekanan pada satu kenyataan bahwa memperjuangkan suara hati nurani rakyat dalam menghadapi tirani, biasanya akan selalu berhasil asalkan dipimpin dan digerakan oleh pemimpin yang merakyat,” katanya. (ril/arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru