Sunday, September 27, 2020
Home > Berita > Cara China Beri Peringatan Keras Kepada Yang Dianggap Menekannya    Oleh Nuim Khaiyath

Cara China Beri Peringatan Keras Kepada Yang Dianggap Menekannya    Oleh Nuim Khaiyath

Ilustrasi - Australia dan China menegang. (migrationtranslation.com)

Keputusan Cina untuk “membekukan” impor daging merah dari empat rumah pemotongan hewan di Australia, oleh sementara pengamat ditafsirkan sebagai peringatan keras, terutama kepada negara-negara lain yang sangat mengandalkan bantuan dan hubungan ekonomi dan perdagangannya dengan China, agar hati-hati dalam membuka mulut.

Beberapa hari lalu, China memberitahu Australia tentang pembekuan dimaksud karena alasan, antara lain, kebersihan / kesehatan.

Tahun lalu China mengimpor daging sapi senilai  hampir  tiga miliar dolar dari Australia.

Sebelumnya China mencanangkan maksud untuk mengenakan tarip sampai setinggi 80% atas impor kacang-kacangan barley / jali dari Australia.

Sementara pengamat di China juga memperkirakan bahwa “pembekuan” impor dari Australia ini sangat besar kemungkinan nantinya akan meliputi biji besi dan LNG / gas.

Lalu, apa pasalnya China seakan merajuk? Ataukah berang?

China pada hakikatnya ingin menggunakan palu godam kekuatan ekonomi dan keuangannya, untuk menjerakan pihak-pihak lain, termasuk lawan dagangnya, tentang “mulut kamu harimau kamu”.

Terhadap Australia, palu godam tersebut nampaknya berangsur-angsur dilampiaskan sebagai bentuk murka dan ketersinggungan China terhadap usul Perdana Menteri Australia Scott Morrison dan Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne agar dilakukan penelitian oleh mancanegara terhadap asal usul wabah yang kini diyakini mulanya berjangkit di kota Wuhan, China itu.

Demi, kata mereka, dapat ditarik pelajaran darinya untuk keperluan di masa depan seandainya berjangkit lagi suatu wabah virus sejenisnya.

Ternyata China sangat tersinggung dikarenakan kelancangan Australia ini agar dilakukan penelitian terhadap virus yang oleh Beijing disebut Corona baru –COVID-19.

Dan terjadilah pembekuan impor sejumlah komoditas dari Australia.

Memang sejak sebelumnya Duta Besar China untuk Australia sudah menyuarakan ketersinggungan China terhadap usul Australia itu yang ternyata mendapat sambutan cukup besar di kalangan internasional.

Dalam menyuarakan ketersinggungannya itu sang Dubes mengingatkan Australaia, bagaimana kalau rakyat China sampai memutuskan untuk tidak lagi meneguk anggur buatan Australia; atau memakan daging sapi Australia; atau melancong ke Australia; atau menuntut ilmu di perguruan-perguruan tinggi Australia yang selama ini mendatangkan pemasukan keuangan yang begitu besar bagi Australia.

Waktu itu pihak Australia mengaku tidak bersedia dirisak atau digertak.

Kini pihak oposisi di Australia mempersalahkan pemerintah “salah urus” hubungan negara ini dengan China.

Menteri Perdagangan Australia Simon Birmingham yang mencoba menelpon Menteri Perdagangan China, harus gigit jari karena ibaratnya “panggilan telepon dari Australia itu tidak diangkat oleh Menteri Perdagangan China”.

Harus diakui bahwa Beijing sangat lihai dalam perihal “menghukum tanpa mengesankan hukuman”.

Biasanya untuk membela diri Beijing mengerahkan jurubicara Kementerian Luar Negeri Zhao Lijian, yang juga dikenal sebagai “petarung diplomasi serigala”.

Setiap tampil di depan wartawan, Zhao terkesan laksana seorang pembawa peran yang lihai.

Misalnya ketika Zhao mengemukakan alasan pembekuan impor daging merah (sapi) dari Australia. Itu bukan pemboikotan, karena pemboikotan dapat digolongkan sebagai tindakan dagang yang tidak layak. Pembekuan itu adalah akibat dari “pelanggaran berulang kali terhadap ketentuan pemeriksaan (kebersihan daging) dan karantina oleh pihak Australia.”

Menurut jubir Kemlu Beijing itu, persoalan ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan merosotnya hubungan dengan Australia, melainkan semata-mata merupakan langkah “mengamankan kesehatan dan kesejahteraan konsumen China”.

Pada hal kenyataannya Beijing bukan sekali ini saja melampiaskan murkanya terhadap lawan-lawan dagangnya. Sesuatu negara yang berani menyinggung perasaan Beijing niscaya akan merasakan pembalasan yang menohok, namun tetap subtil, halus.

Tersinggung lain

Pernah Komite Hadiah Nobel negara Skandinavia Norwegia menganugerahkan penghargaan kepada aktivis China Liu Xiaobo dalam tahun 2010. Beijing sangat murka dan menerapkan pengawasan terhadap impor salah satu komoditi unggulan Norwegia ke China, ikan salam/salmon.

Begitu juga dengan Korea Selatan. Ketika negara yang sampai sekarang masih terbelah ini mengizinkan dibangunnya sistem pertahanan rudal Amerika di buminya, cabang-cabang dari salah satu supermarketnya di China mendadak diperintahkan agar ditutup karena alasan “pelanggaran tatanan keselamatan”.

Kata seorang pengamat, segala tindakan balasan itu bukan dimaksudkan untuk melumpuhkan keuangan negara lain, melainkan sekadar mengingatkan mereka betapa mudahnya bagi Beijing untuk menohokkan pukulan ekonomi. Suatu bentuk ancaman untuk membimbing bagaimana negara lain harus berperilaku dan bersikap dalam hubungannya dengan Beijing.

Kesan utama yang ingin ditimbulkan adalah bagaimana mudahnya Beijing dapat “menyakiti” perekonomian sesuatu negara.

Di mata sejumlah akademisi Australia apa yang dilakukan Beijing terkait pembekuan impor dari Australia itu adalah suatu langkah yang sangat lihai, karena kalau nanti sekiranya Beijing memerlukan lagi impor-impor tersebut maka sangat mudah untuk melanjutkannya kembali tanpa Beijing kehilangan muka. (Nuim Khaiyath dari Melbourne)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru