Bertanya itu memperdalam luka
Diam saja di tepi jendela
Biar angin menerpa
Nikmati hening beku
Dan bergeraknya waktu
Kembali pada nurani
Balikkan tiap lembar catatan
Yang merekam jejak sekolah rakyat
Di tepi sawah
Kali kecil belakang rumah
Dingin rumah panggung dari kayu
Dan lapangan depan sekolah
Tempatmu bersenda gurau dengan latar gunung
Serta suara wak awung
Kau bukan sesiapa
Tapi pernah ada
Nama bergema
Di panggung penuh tepuk tangan
Mungkin silau
Sesekali lupa
Dan tetiba lampu redup
Tinggal sendiri di antara bangku
Betapa sunyi
Terlempar ditinggal tanpa tangis
Bahkan tanpa salam dan tatapan
Bertanya kian mengiris
Dan semua terasa sulit
Barangkali lebih baik bergerak saja
Biar waktu yang mencarikan jalan paling layak
Atau jembatan yang paling pantas.
***
Jakarta, 19012026.
Sajak Gerimis 2
Sedalam mana menyelam
Tak kutahu dasar
Seperti pantai berpasir putih
Atau palung Mariana
Tak ada marka
Atau jejak perintis jalan
Juga kurang bekal
Dunia bak panggung drama saja
Sepanjang siang dan malam
Seperti Whoosh tanpa perhentian
Makin dalam makin sesak
Siapa tahan?
Bahkan kekasihNya pernah bertanya
Apakah aku ditinggalkan
Saat duka di puncak
Teman sepermainan menghilang
Sumpah serapah menghujam
Siapa tahan
Ketika ujung begitu buram
Sempit menjepit sesak
Tak bisa gerak
Jangan salahkan aku berteriak
Dan memutuskan tali jembatan
Enough is enough
Lalu kuseret tubuh
Tak lagi mengeluh
Seberapa dalam ujung dan batasnya?
Bahkan sejumput tanda
Bisa jadi kabar baik
Ada cinta meski setitik
Supaya aku balik ke permukaan tadi.
***
Jakarta, 20012026.
