Wednesday, January 27, 2021
Home > Berita > Hindari Perang Suriah, Ayah dan Anak Jadi Korban di Selandia Baru

Hindari Perang Suriah, Ayah dan Anak Jadi Korban di Selandia Baru

Pelayat membawa mayat seorang korban di Memorial Park Cemetery di Christchurch untuk dimakamkan.(Foto: AP/Al Jazeera)

Pelayat membawa mayat seorang korban di Memorial Park Cemetery di Christchurch untuk dimakamkan.(Foto: AP/Al Jazeera)

Mimbar-Rakyat.com (Christchurch, Selandia Baru) – Keluarga korban serangan di Masjid Christchurch mulai mengubur kerabat mereka, Rabu (20/3), lima hari setelah 50 orang tewas dalam penembakan massal terburuk dalam sejarah Selandia Baru.

Setidaknya dua korban dimakamkan pada hari Rabu (20/3) di Memorial Park Cemetery, setelah pemeriksaan mayat-mayat oleh kantor koroner sehari sebelumnya. Di antara yang dikubur adalah seorang pengungsi Suriah berusia 15 tahun Hamza Mustafa dan ayahnya, Khalid, 44. Keduanya baru saja tiba di Selandia Baru enam bulan sebelum mereka terbunuh.

Adik Hamza, Zaed, 13, yang menderita luka tembak di kaki dalam serangan itu terlihat didorong di kursi roda selama upacara pemakaman. Demikian dilaporkan Al Jazeera.

Banyak pelayat membantu penguburan. Sejumlah orang bergiliran bergantian menggunakan sekop untuk memastikan semua yang ingin mengambil bagian dapat melakukannya. Pemakaman itu dilakukan setelah polisi  mengumumkan jati diri lima korban serangan hari Jumat lalau di masjid Al Noor dan Linwood.

Muccad Ibrahim yang berusia tiga tahun termasuk di antara mereka yang dikonfirmasi tewas dalam pembantaian itu,. Serangan itu  oleh Perdana Menteri Jacinda Ardern dicap sebagai “serangan teroris yang terencana”.

Pelayat menggambarkan kesedihan emosional yang dialami oleh semua orang di upacara penguburan hari Rabu itu.

“Semua orang berduka dengan cara yang tidak bisa kami jelaskan,” demikian dikatakan Gulshad Ali, yang melakukan perjalanan dari Auckland untuk menghadiri pemakaman,  kepada Al Jazeera. “Saya merasa hancur, secara emosional saya terganggu melihat mayat-mayat dibaringkan.”

Mohamed Aljibaly, seorang imam di Pusat Islam Australia yang melakukan perjalanan untuk menghadiri upacara pemakaman, mencatat bagaimana keluarga itu melarikan diri dari perang delapan tahun yang mengerikan di Suriah hanya untuk dibunuh di Selandia Baru – salah satu negara paling damai di dunia.

“Ini adalah ayah dan anak. Dia adalah saudara laki-laki Suriah dan dia melarikan diri dari apa yang terjadi di Suriah setiap hari, dan pembantaian yang terjadi di sana hampir setiap hari, untuk meninggal di Selandia Baru, tempat yang dia anggap sebagai miliknya, rumah baru karena dia adalah seorang pengungsi, “kata Aljibaly.

Mustafa Ibrahim mengatakan dia belum pernah menghadiri acara khidmat seperti itu. “Rasanya seperti kita telah mengistirahatkan hidup yang tidak lengkap,” kata Ibrahim kepada Al Jazeera, terkait pembunuhan remaja Suriah, Hamza.

“Aku seorang ayah, aku juga memiliki seorang putra. Sangat sulit untuk datang ke sini dan berdoa dan menguburkan dua orang. Tetapi kita akan datang ke sini lagi sampai mereka semua (para korban) dimakamkan.”

Perdana Menteri Ardern mengatakan;  “Saya tidak bisa memberi tahu Anda betapa sulitnya menyadari bahwa keluarga datang ke sini untuk keselamatan dan untuk perlindungan, dan mereka seharusnya aman di sini … Ini adalah rumah mereka,” kata Ardern kepada Al Jazeera saat konferensi pers di kantor polisi Christchurch Central.

Pemimpin Selandia Baru itu sebelumnya mengunjungi SMA Cashmere Christchurch, tempat Hamza belajar. “Saya perlu mendengar kesedihan, (dan) saya merasakan kesedihan,” katanya.

Pihak polisi mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mayat 27 korban lain akan diidentifikasi pada tengah hari Rabu dan selanjutnya mempersilakan keluarga mereka untuk memakamkan.

Sementara Ardern mengatakan pada konferensi pers, Rabu ini 30 mayat korban  disetujui untuk dimakamkan.

Ada kesedihan dan kekecewaan karena kelambaban pejabat yang bertugas mengidentifikasi orang mati. Umat ​​Muslim biasanya menguburkan almarhum dalam waktu 24 jam setelah kematian. Sebelum penguburan mereka, mayat-mayat itu dicuci dan dibungkus dengan kain kafan putih.

Namun, pihak berwenang mengatakan mereka harus yakin 100% dari proses identifikasi sehingga tidak terjadi penyerahan tubuh yang ke keluarga korban, dan bukti dapat digunakan di pengadilan terhadap tersangka pembunuhan.

“Saya ingin sekali lagi meyakinkan Anda bahwa kami bekerja tanpa henti, melakukan segala daya kami, untuk menyelesaikan proses identifikasi formal secepat mungkin,” tutur seorang petugas identifikasi. Sementara Ardern mengatakan dia memahami “frustrasi” keluarga.***(janet)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru