Sunday, October 25, 2020
Home > Berita > Jalur tengkorak Ciawigebang-Cidahulu kembali “makan” korban

Jalur tengkorak Ciawigebang-Cidahulu kembali “makan” korban

Kecelakaan memakan korban di jalur tengkorak Ciawigebang - Cidahulu, Kuningan, Kamis petang. (dien)

MIMBAR-RAKYAT.com (Kuningan) – Jalur  tengkorak Ciawigebang-Cidahu, Kuningan,  kembali “makan” korban tewas dalam kecelakaan tabrakan dua sepeda motor, Kamis.

“Kawasan itu memang merupakan jalur tengkorak. Sebelumnya kejadian adu banteng motor tadi, ada juga kecelakaan bus dan motor tabrakan, di situ juga dekat SPBU Desa Kadurama,” kata salah seorang warga, Budi,  yang sedang melintas di jalur tersebut.

“Apalagi pengendara yang menjadi korban itu tidak menggunakan helm saat kecelakaan maut yang terjadi sekitar pukul 15.30 WIB,” kata Budi.

Kasatlantas AKP Rizki Syawaludin Akbar  pada kesempatan lain menerangkan, korban lakalantas bernama Jaja (40), warga Desa Cikandang, Kecamatam Luragung, meninggal dunia di  RSUD 45 Kuningan.

“Korban Jaja, mengalami benturan di kepala dan korban lain adalah Sunandi (33) , warga Desa Cihideunghilir Kecamatan Cihideung Hilir,” kata Rizki.

Kecelakaan itu menjadi viral dalam video berdurasi 34 dan 19 detik, memperlihatkan suasana kemacetan akibat kecelakaan lalu lintas itu dan dua orang terkapar di jalan raya.

Ahli spiritual, Ki Oman,  pada kesempatan berbeda, melalui penerawangannya mengatakan di lokasi kejadian terdapat sosok pendiri padukuhan bernama Alimudin yang tidak memiliki sanak keluarga

“Dia mempunyai pohon durian, dan Beliau ini merupakan sosok yang taat beribadah. Namun karena zaman sekarang banyak orang yang lupa ibadah, juga melupakan sejarah dan tradisi, jadi diperingati dengan hal kejadian itu,” kata Ki Oman.

Ki Oman menambahkan, TKP seringkali  dimanfaatkan sosok makhlus halus yang tujuannya untuk mengingatkan generasi muda agar  mengetahui sejarah sosok Alimudin.

“Selain mengingatkan agar selalu taat kepada Yang Kuasa, juga mengingatkan di situ seorang tokoh berjasa, Alimudin, merupakan tokoh pendiri Desa Kadurama. Ia memiliki peran berdirinya kawasan tersebut yang biasa dipanggil Rama dan dan memiliki pohon durian (Kadu).  Maka daerah tersebut dinamakan Kadurama,” kata Ki Oman.   (dien/arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru