Sunday, February 25, 2024
Home > Berita > Fadli Zon: Perang di Gaza Bukan Saja Kejahatan Kemanusiaan, Tetapi Juga Lingkungan

Fadli Zon: Perang di Gaza Bukan Saja Kejahatan Kemanusiaan, Tetapi Juga Lingkungan

Fadli Zon.

Mimbar-Rakyat.com (Jakarta) – Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Fadli Zon mengatakan, perang di Gaza tak hanya memakan korban sebagai bentuk kejahatan kemanusiaan. Lebih dari itu serangan di Gaza telah menciptakan kerusakan lingkungan.

Hal itu disampaikan Fadli pada Pertemuan Parlemen Dunia dalam rangka COP 28 (Konferensi PBB soal Perubahan Iklim) di Dubai, Uni Emirat Arab, Kamis (7/12).

“Perang di Gaza, selain memakan korban rakyat tak berdosa, juga telah menciptakan kerusakan lingkungan,” kata Fadli.

Wakil Ketua DPR ini melanjutkan, karena serangan di Gaza itu, upaya mitigasi perubahan iklim dunia juga menghadapi hambatan yang makin sulit.

“Khususnya dengan terjadinya perang dan konflik di berbagai belahan dunia, seperti sedang terjadi di Gaza, Palestina,” ucapnya.

“Dengan demikian menghambat, baik secara langsung maupun tidak, upaya-upaya mitigasi perubahan iklim. Perang tersebut, tak saja merupakan kejahatan kemanusiaan, tetapi juga kejahatan lingkungan hidup,” sambungnya.

Langkah Strategis Indonesia

Pada pertemuan COP28, Anggota Komisi I DPR itu juga melaporkan langkah strategis Indonesia mengurangi emisi dan memitigasi dampak perubahan iklim, dengan berbagai cara.

Fadli menuturkan, Indonesia berkomitmen menghasilkan energi baru dan terbarukan untuk mencapai ketahanan energi nasional. Menurutnya, energi terbarukan menyumbang 23% bauran energi nasional pada tahun 2025 dan 31% bauran energi nasional pada 2050.

Langkah lainnya adalah moratorium izin pembukaan lahan untuk melindungi 66 juta hektar hutan dan lahan gambut, rehabilitasi hutan bakau seluas 600.000 hektar yang diharapkan selesai pada akhir tahun 2024.

“Serta menurunkan tingkat deforestasi hingga titik terendah pada tahun 2020, yaitu sebesar 115 ribu hektar,” ungkapnya.

Fadli menambahkan, bahwa COP28 juga harus mencerminkan kebutuhan pendanaan iklim yang belum terpenuhi di negara-negara berkembang. Dengan menggarisbawahi bahwa upaya dekarbonisasi akan mencapai kemajuan signifikan dengan sarana implementasi yang memadai.

Dia menegaskan, negara-negara berkembang tak boleh dipaksa memilih antara pengentasan kemiskinan atau tindakan iklim. Oleh sebab itu, inklusifitas menjadi isu sangat penting yang harus diperhatikan.

Politisi Gerindra tersebut juga mengkritik negara-negara maju yang seharusnya segera merealisasikan komitmen pendanaan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim global sebesar $100 miliar USD (yang dijanjikan tahun 2020) pada 2025.

“Seharusnya negara-negara maju dapat memimpin komitmen pengurangan emisi, terutama melalui dukungan pendanaan, transfer teknologi, dan peningkatan kapasitas,” pungkasnya.

Dihadiri 70.000 orang

Rangkaian kegiatan Pertemuan COP 28 yang diselenggarakan di Dubai dari tanggal 30 November hingga 12 Desember tersebut dihadiri sekitar 70.000 orang dari unsur pemerintah, parlemen, pihak swasta dan elemen masyarakat sipil dari negara-negara pihak Perjanjian Paris, untuk mendiskusikan langkah-langkah yang dipandang perlu dalam rangka menyikapi fenomena perubahan iklim.

Delegasi DPR RI dipimpin oleh Fadli Zon selaku Ketua BKSAP dari Fraksi Gerindra, Hafisz Thohir selaku Wakil Ketua BKSAP dari Fraksi PAN, Putu Supadma Rudana selaku Wakil Ketua BKSAP dari Fraksi Partai Demokrat, serta sejumlah Anggota BKSAP DPR RI dari lintas Komisi seperti; Bimantoro Wiyono dari Fraksi Gerindra, Dyah Roro Esti dari Fraksi Golkar, Linda Megawati dari Fraksi Partai Demokrat serta Emma Umiyatul Chusnah dari Fraksi PPP. (ds/sumber Merdeka.com/Liputan6.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru