Sunday, November 29, 2020
Home > Berita > Cara kerja tekanan angin pada ban

Cara kerja tekanan angin pada ban

Ilustrasi - Ban Hankook.

Mimbar-Rakyat.com (Jakarta) – Sebanyak 80 persen kecelakaan baik kendaraan pribadi maupun kendaraan niaga terjadi seketika saat ban kempes atau pecah, sehingga para pengemudi harus faham bagaimana cara kerja tekanan angina pada ban.

Insiden ini dipicu berbagai hal, antara lain kondisi muatan berlebih diluar kemampuan kendaraan dan gaya mengemudi yang kurang baik.

Namun sebenarnya, penting mengetahui apa yang membuat ban bereaksi dengan kondisi tersebut, yaitu dengan memahami cara kerja tekanan angin pada ban.

Ban dapat mengalami kerusakan hingga pecah jika digunakan dengan tekanan angin yang tidak sesuai dengan muatan beban dan kecepatan mengemudi.

“Pemeliharaan tekanan angin sangat berpengaruh terhadap kinerja ban, kestabilan mengemudi, kemampuan pengereman yang lebih baik, bahkan penggunaan bahan bakar yang lebih hemat,” kata National Sales Manager Hankook Tire Sales Indonesia Ahmad Juweni.

Ahmad membagikan tiga cara untuk menjaga tekanan angin atau inflasi ban agar menghasilkan kinerja yang optimal, demikian siaran pers dari PT. Hankook Tire Sales Indonesia, yang disampaikan bagian Humas Vanya Viranda, kepada media, Kamis.

Pertama, kata Ahmad, sesuaikan tekanan angin dengan berat muatan (beban) yang diangkut.

Pengemudi truk maupun manajer armada harus memastikan bahwa tekanan angin sudah sesuai dengan beban yang diangkutnya. Usahakan untuk tidak memberikan tekanan angin yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.

“Ban dengan tekanan angin terlalu tinggi dapat menyebabkan aus di bagian tengah, serta membuat ban lebih mengembang secara tidak wajar, sehingga mudah pecah jika terkena benturan,” katanya, dengan menambahkan, ban yang diisi dengan tekanan rendah juga akan menyebabkan keausan pada bagian sisi ban (shoulder).

Kedua, jelas Ahmad, usahakan untuk memeriksa tekanan angin setiap dua minggu sekali atau setiap akan melakukan perjalanan.

“Sebaiknya pengecekan tekanan angin dilakukan saat suhu ban sedang dingin karena saat suhu panas, tekanan angin sedang meningkat sehingga pembacaan tekanan angin menjadi tidak akurat. Selain itu, alat ukur tekanan angin perlu diperhatikan keakuratannya dengan melakukan kalibrasi secara berkala,” katanya.

Ketiga, ujar Ahmad, perhatikan juga kondisi telapak dan dinding samping ban. Jika ditemukan batu-batu atau benda tajam yang menyelip di antara telapak ban agar segera dilepas untuk menghindari kerusakan atau kebocoran ban.

“Jika ada luka pada telapak ban karena paku atau benda tajam lainnya, segera lepas ban dan perbaiki untuk menghindari kerusakan yang lebih serius,” kata Ahmad.  (arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru