Friday, October 30, 2020
Home > Berita > Bandara Internasional Yogyakarta Tahan Gempa Hingga Magnitudo 8,8 dan Mampu Menahan Tsunami

Bandara Internasional Yogyakarta Tahan Gempa Hingga Magnitudo 8,8 dan Mampu Menahan Tsunami

Peresmian Yogyakarta International Airport (YIA). (Foto: www.presidenri.go.id)

Mimbar-Rakyat.com (Yogyakarta) – Bandara Internasional Yogyakarta yang baru, didesain memiliki daya tahan terhadap gempa hingga Magnitudo 8,8 dan mampu menahan gelombang tsunami hingga ketinggian 12 meter dari permukaan laut (dpl).

Hal itu diungkapkan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo ketika meresmikan pengoperasian Sistem Peringatan Dini Tsunami BMKG bersamaan dengan peresmian Bandara Internasional Yogyakarta atau Yogyakarta International Airport (YIA), Jum’at (28/8).

“Kepala BMKG menyampaikan kepada saya, … juga bisa menahan gelombang tsunami hingga ketinggian 12 meter, Insya Allah ini sudah dirancang untuk kesana semuanya,” ujar Presiden. Demikian dikutip dari website BMKG.

Sistem peringatan dini tsunami dimaksud  telah siap beroperasi di Bandara Internasional Yogyakarta dan dioperasikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bekerja sama dengan Badan Informasi Geospasial (BIG), Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi DIY (BPBD – DIY) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kulon Progo, serta pengelola Bandara Internasional Yogyakarta (PT. Angkasa Pura 1) dan PT. Airnav Indonesia.

Dwikorita Karnawati,  Kepala BMKG menyatakan, sistem ini terintegrasi dengan jaringan pemantauan gempa bumi di Pusat Gempa Bumi Nasional dan Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) di Kantor BMKG Pusat Jakarta, dan merupakan sistem percontohan pertama di Indonesia dan ASEAN untuk bandara di daerah rawan tsunami.

“Sistem peringatan dini tsunami ini diperkuat oleh Internet of Things (IoT) dan Artifial Intelligence (AI) untuk menghitung cepat sinyal-sinyal gelombang gempabumi yang terekam dari seismograf, agar diketahui posisi dan magnitudo gempabumi tektonik serta estimasi ketinggian gelombang dan waktu datang tsunami. Bandara Ini merupakan bandara satu-satunya di Indonesia saat ini yang dilengkapi dengan sistem peringatan dini tsunami, bahkan di ASEAN,” kata Dwikorita.

Desain bangunan Bandara Internasional Yogyakarta, mmenurut dia, disiapkan sebagai tempat evakuasi bagi pengunjung bandara apabila terjadi gempa dan tsunami, karena telah didesain dengan skenario terburuk untuk tahan terhadap gempabumi hingga kekuatan M = 8.8 dan tsunami dengan ketinggian gelombang 12 m dpl atau dengan genangan tsunami setinggi 10 m dari permukaan topografi. Masyarakat sekitar pun dapat menggunakannya sebagai shelter evakuasi apabila  terjadi  sunami.

“Sebelum bangunan bandara ini ada, di sini merupakan lahan yang datar dan rendah, jauh dari topografi yang tinggi. Masyarakat harus berjalan sekitar 5 km lebih, untuk mencapai tempat yang lebih tinggi agar selamat dari gelombang tsunami. Dengan adanya bandara yang dilengkapi sistem peringatan dini tsunami ini, tidak hanya menyelamatkan pengunjung bandara tapi juga menyelamatkan masyarakat sekitar, karena shelter evakuasi yang berada di sayap gedung Crisis Center dalam bandara memiliki daya tampung yang cukup besar untuk ribuan orang”, tutur Dwikorita.

Sistem deteksi gempabumi dan tsunami di Bandara Internasional Yogyakarta dirancang agar dapat memberi peringatan cepat. Apabila sewaktu-waktu terjadi gempabumi maka dalam waktu 2 sampai kurang dari 5 menit dapat segera diketahui posisi pusat gempa, besarnya magnitudo gempa dan potensi tsunaminya. Dengan memperkirakan waktu datang gelombang tsunami antara 20 sampai 30 menit, maka “golden time” untuk evakuasi masih tersedia dalam waktu 15 sampai dengan 28 menit, utk segera menuju ke Terminal pada Lantai Mezanin dan Lantai 2 (di lantai teratas untuk Keberangkatan).***(edy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru