Saturday, December 05, 2020
Home > Berita > 300 Rohingya Merapat di Aceh Setelah Berbulan-bulan di Laut

300 Rohingya Merapat di Aceh Setelah Berbulan-bulan di Laut

Masyarakat Rohingya yang datang dan merapat dekat Lhokseumawe, Aceh, Senin (7/9) pagi. (Foto AFP/Al Jazeera)

Pada bulan Juni, sekitar 100 orang Rohingya, kebanyakan wanita dan anak-anak, tiba di daerah sama setelah apa yang mereka gambarkan sebagai perjalanan laut berbahaya selama empat bulan, di mana mereka dipukuli oleh pedagang manusia dan dipaksa  minum air seni sendiri agar tetap hidup.

 

Mimbar-Rakyat.com – Hampir 300 orang Rohingya telah merapat di Aceh, di ujung utara pulau Sumatera. Demikian sumber dari pihak berwenang. Itu merupakan salah satu kedatangan terbesar  minoritas Myanmar yang teraniaya selama bertahun-tahun.

Kelompok itu, termasuk lebih dari selusin anak, yang terlihat di laut oleh penduduk setempat yang membantu mereka merapat di dekat Lhokseumawe pada Senin (7/9) pagi. Demikian menurut Munir Cut Ali, kepala desa Ujong Blang, seperti dikutip dari A Jazeera.

“Kami melihat sebuah kapal datang ke darat di Ujong Blang dan kemudian kami membantu mereka mendarat dengan selamat,” kata Ali kepada AFP.

Setidaknya satu anggota kelompok itu– 102 pria, 181 wanita dan 14 anak-anak– sakit dan harus dilarikan ke rumah sakit setempat untuk perawatan, kata kepala militer daerah itu Roni Mahendra.

Junaidi Yahya, ketua Palang Merah di Lhokseumawe, mengatakan kelompok itu saat ini berada di lokasi sementara. “Kami berharap mereka bisa dipindahkan ke posko pengungsian hari ini, tapi kesehatan mereka, terutama terkait COVID-19 menjadi perhatian utama kami,” kata Yahya.

Tidak segera jelas berapa lama kelompok Rohingya itu berada di laut atau di kapal jenis apa mereka tiba. Kelompok ini dilaporkan sebagai yang terbesar yang mendarat di Indonesia setidaknya sejak 2015.

Pada bulan Juni, sekitar 100 orang Rohingya, kebanyakan wanita dan anak-anak, tiba di daerah sama setelah apa yang mereka gambarkan sebagai perjalanan laut yang berbahaya selama empat bulan di mana mereka dipukuli oleh pedagang manusia dan dipaksa  minum air seni mereka sendiri agar tetap hidup.

Anggota minoritas yang sebagian besar Muslim mengatakan mereka telah berangkat awal tahun ini dari kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh, dekat negara asal mereka, Myanmar.

Sekitar satu juta Rohingya tinggal di kamp-kamp berpenduduk padat, di mana para penyelundup manusia juga menjalankan operasi yang menguntungkan dan menjanjikan perlindungan bagi mereka di luar negeri.

Indonesia dan negara tetangga Malaysia, yang telah menutup perbatasannya sebagai bagian dari tanggapan negara itu terhadap pandemi virus corona, adalah tujuan bersama.

Chris Lewa, direktur Proyek Arakan, sebuah kelompok nirlaba yang berfokus pada krisis Rohingya, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa Rohingya yang tiba di Aceh pada hari Senin telah meninggalkan Bangladesh selatan pada akhir Maret atau awal April, dengan harapan mencapai Malaysia.

Dia mengatakan mereka didorong kembali oleh pihak berwenang di Malaysia dan Thailand karena virus corona dan penyelundup kemudian membagi kelompok itu menjadi beberapa kapal. Beberapa kapal kemudian berhasil mendarat di Malaysia dan Indonesia pada bulan Juni, tetapi beberapa ratus tetap berada di laut hingga Minggu malam.

Para pedagang manusia menelepon keluarga mereka untuk meminta pembayaran pada minggu-minggu sebelum mereka dibawa ke pantai, katanya. “Para penyelundup tampaknya tidak ingin mencoba menurunkan mereka karena tidak semua orang telah membayar… Mereka pada dasarnya menyandera mereka di atas kapal,” katanya.

Pada Juli, pihak berwenang Malaysia mengatakan sekitar dua lusin Rohingya yang takut tenggelam di lepas pantai barat laut negara itu setelah menyeberang dengan perahu ditemukan hidup-hidup, bersembunyi di semak-semak di sebuah pulau.***(edy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru