Wednesday, June 10, 2026
Home > Cerita > Cerita Khas > HBH FWK – Bakso, topi haji dan news,   Catatan A.R. Loebis 

HBH FWK – Bakso, topi haji dan news,   Catatan A.R. Loebis 

Halal bi Halal (HbH) komunitas nirlaba Forum Wartawan Kebangsaan (FWK) di Jakarta berlangsung khidmat, singkat, ada pembagian topi haji dan parfum dari Tanah Suci serta ada pula..berita (news).

“Terima kasih Pak Hendry…terima kasih pak haji. Selamat kembali ke Tanah Air. Kita bertemu lagi di FWK,” demikian antara lain suara-suara dalam pertemuan di suatu tempat di kawasan Tebet, Jakarta, Rabu siang (15/4/26).

Tentu masih ada beberapa jenis lain oleh-oleh dari Tanah Suci itu, di antaranya sajadah kecil dan peci beberapa jenis serta buah kurma, yang dibagi dengan cara “door-prize”, sehingga meriah, kendati semua anggota FWK yang hadir kebagian.

Sembari berbincang sembari menyantap kudapan kecil termasuk bakso dan aroma kopi pun menyeruak semerbak. Betapa rileksnya siang itu, ditambah lagi belaian angin yang berhembus dari pintu depan. Ada pula sesama teman saling canda… maklum lama tak bersua.

Dua tokoh FWK, pencetus lahirnya forum itu Hendry Ch Bangun dan koordinator nasional FWK Raja Parlindungan Pane, baru pulang umroh.

“Saya baru pulang kemarin tengah malam. Istirahat sebentar dan siang ini saya berusaha bisa hadir di acara ini. Alhamdulillah kita semua bisa ketemu,” kata Hendry, yang kelihatan masih lesu kelelahan.

Ia menuturkan, bersama isterinya, selama 10 hari berada di Tanah Suci. “Saya bahagia sekali mendapat undangan dari Allah SWT. Sudah tiga kali saya merencanakan ke Tanah Suci dan ketiganya gagal karena berbagai sebab. Baru kali ini berhasil, saya terharu dan berterima kasih kepada Allah,” kata Hendry.

Hendry menuturkan berbagai hal yang dialaminya selama berada di Tanah Suci. Termasuk tentu saja bagaimana beratnya ketika melakukan tawaf mengelilingi ka’bah serta saat Sa’i dari Bukit Marwah ke Safa.

“Kita harus kuat. Berkeliling Ka’bah itu berat, karena ada ribuan orang dan rata-rata berbadan besar,” kata Hendry sembari mengimbau agar sebaiknya berusaha naik haji dan umroh di kala fisik masih kuat.

Ke Raudah pakai aplikasi di HP

Digitalisasi sudah menyentuh Tanah Haram, sehingga setiap orang harus membawa telepon genggam (HP). Apa pasalnya?

Ternyata untuk menentukan waktu kedatangan jamaah di Raudah. Raudah adalah arena di dalam masjid Nabawi di Madinah. Letaknya di antara mimbar nabi dan makam Rasulullah yang luasnya sekitar 26.5 X 15 meter dan berkarpet hijau.

Biasanya, ribuan jamaah berebut untuk dapat masuk ke area ini, untuk melakukan salat, zikir dan berdoa.

“Saya kebagian malam..larut malam..sekitar pukul dua malam. Itu saya lihat melalui aplikasi di hape saya. Ya saya datang tengah malam dan alhamdulillah saya bisa salat dan berdoa di Raudah,” kata Hendry.

“Saya doakan semua teman agar sehat dan suatu saat dapat berkunjung ke Raudah. Saya doakan juga agar FWK tetap eksis dan mampu menjalankan visi misinya,” tambah Hendry.

Sementara Raja Pane menuturkan, sebelum ke Tanah Suci, ia berkeliling Eropa bersama keluarganya sampai akhirnya masuk ke Tanah Suci.

“Awalnya saya hampil tertahan tidak bisa masuk. Tapi karena saya sudah booking hotel, jadi dapat kemudahan untuk masuk ke Tanah Suci melakukan umroh,” kata Raja.

Seperti halnya Hendry, Raja pun menceritakan pengalamannya yang cukup menarik selama menunaikan umroh bersama anak, mantu dan cucunya.  Raja juga menyarankan, selagi masih muda dan fisik kuat, agar berusaha menunaikan ibadah haji dan umroh. “Salah satu syarat naik haji adalah ampu dan kuat fisiknya. Itu benar dan saya merasakannya di sana,” tutur Raja.

Tetap diskusi

Raja pun mengajak para anggota FWK untuk berdiskusi sesaat, memikirkan tentang situasi negara dan bangsa saat ini.

Setelah membicarakan berbagai topik menarik, Raja memutuskan diskusi Reboan FWK mengangkat tentang masalah perekonomian dikaitkan dengan situasi perang dan geo-politik global belakangan ini.

Diskusi itu melahirkan fokus berita yang diberi judul: HBH FWK – Soroti Kelemahan Komunikasi Publik Pemerintah di tengah Krisis Global.

Baca juga: – HBH FWK Soroti Kelemahan Komunikasi Prabowo-Gibran di Tengah Krisis Global

Raja pada kesempatan itu menuturkan, FWK akan terus memberitakan berbagai hal yang dianggap perlu untuk mengawal perjalanan pemerintah dalam menyelenggarakan negara ini,

“FWK berfokus pada penguatan ideologi kebangsaan di kalangan media massa. Aktif menjaga kedaulatan bangsa dan setia pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), “ kata Raja.

Ia menambahkan, salah satu visi misi kita adalah berusaha memertajam ideologi kebangsaan di di kalangan wartawan agar media memiliki ideologi yang kuat.

“Juga menjadi garda dalam menjaga kedaulatan bangsa dan setia pada NKRI. Kita berperan sebagai mitra pemerintah dan masyarakat melalui fungsi edukasi dan kontrol sosial yang berwawasan kebangsaan,” kata Raja.  (ARL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru