Sumatera
Rakyat baca pesanmu
Alam sudah tak tahan
Terlalu lama menderita
Seperti daging dikuliti
Nyeri diiris sembilu
Seakan kepala dibotakin terus menerus
Akar rambut dikikis terus
Lama kelamaan darah mengalir
Hewan kehilangan rumah
Tanah kehilangan akar
Bumi kehilangan pacak
Manusia kehilangan segalanya
Harta dan nyawa
Keserakahan
Hedonistis
Hingga pekan ketiga 969 ribu orang tewas
564 hilang, pengungsi hampir satu juta orang
Ada pejabat bilang bencana itu biasa saja
Yang remai hanya di media sosial
Itu akibat siklon tropis Senyar, katanya.
Entah ada dimana kepalanya
sudah berhari-hari gelap
Lapar, dahaga, dingin, sakit, putus kontak
Pusat bahkan masih rapat koordinasi
Sedangkan bayi dan ibunya menggigil di atas genteng
Saat itu air sudah menjilat tumit si ibu.
Sumateraku,
rakyat baca pesanmu
Kau beritahu ini bukan air biasa, bukan banjir biasa
Ini semacam alat membuka rahasia lama
Yang ditutupi dan dipertahankan
Untuk kepentingan serakah pribadi dan korporasi
Di sini susah membedakan pejabat dan penjahat
Seperti rumitnya membedakan pahlawan nasional
Dan bencana nasional
Tengoklah, pejabat ada yang lari
Ke tanah suci dan ke luar negeri.
Sumatera kami
rakyat baca pesanmu
Dalam lima tahun 428.232 ha lahan digunduli
Dalam dua tahun terakhir nambah 222.460 ha
Penggundulan hutan itu sudah puluhan tahun
Biasanya ratusan truk membawa gelondongan
Dari atas bukit yang susah dijamah orang biasa
Tapi pada 26/11/25 truk pun seperti sudah kelelahan
Gentian air bah yang membawa jutaan gelondongan
Banjir air menjadi banjir kayu
Bahkan membentuk sungai kayu
Melanda isi daratan yang dilaluinya
Di berbagai tempat di tiga provinsi Sumatera
Barang, orang, rumah, bangunan, hewan, nyawa
Diterjang, pontang-panting mengharu-biru
bersama gelombang gelondongan.
Ribuan orang kini tak punya tempat tinggal tetap
Tak punya kerja pasti, tak punya baju ganti
Usai sarapan pagi tak jelas makan siang dan malam
Sementara laporan ke pusat semua teratasi.
Sekarung beras yang dipanggul itu
Tak menghapus ratap tangis
bahkan ada yang dilemparkan dari udara
berserak di tanah rakyat berebut mengumpulkan.
Sumatera, Indonesia kita
Kami melihat dan mendengar pesanmu
Lewat banjir bah gelondongan itu
Lewat jerit lirih suara anak bangsa
Melalui prahara panjang
akibat perbuatan manusia
yang menjual hamparan tanah pusaka
yang menghisap sumsum negeri ini.
Yang seharusnya untuk kemakmuran rakyat
Kau kasi peringatan azab demi azab
Apakah hati dan telinga mereka terbuka
Sumatera dan gelondongan
membawa pesan awal
kawasan lain menunggu giliran
kalau dibiarkan
Rahasia umum penggundulan itu
Ada dimana-mana
Bukan hanya Sumatera
Tapi datanya sudah terbakar
Rakyat Indonesia, bersatulah!
Hentikan kerakusan orang-orang itu
Semoga bala ini tak berlanjut
Ampuni kami Ya Rabb.
***
Jakarta, 11- 122025.
