Tuesday, March 31, 2026
Home > Featured > Pesan Dari Sumatera, Puisi A.R. Loebis

Pesan Dari Sumatera, Puisi A.R. Loebis

Sumatera

Rakyat baca pesanmu

Alam sudah tak tahan

Terlalu lama menderita

Seperti daging dikuliti

Nyeri diiris sembilu

Seakan kepala dibotakin terus menerus

Akar rambut dikikis terus

Lama kelamaan darah mengalir

 

Hewan kehilangan rumah

Tanah kehilangan akar

Bumi kehilangan pacak

Manusia kehilangan segalanya

Harta dan nyawa

Keserakahan

Hedonistis

Hingga pekan ketiga 969 ribu orang tewas

564 hilang, pengungsi hampir satu juta orang

Ada pejabat bilang bencana itu biasa saja

Yang remai hanya di media sosial

Itu akibat siklon tropis Senyar, katanya.

Entah ada dimana kepalanya

sudah berhari-hari gelap

Lapar, dahaga, dingin, sakit, putus kontak

Pusat bahkan masih rapat koordinasi

Sedangkan bayi dan ibunya menggigil di atas genteng

Saat itu air sudah menjilat tumit si ibu.

 

Sumateraku,

rakyat baca pesanmu

Kau beritahu ini bukan air biasa, bukan banjir biasa

Ini semacam alat membuka rahasia lama

Yang ditutupi dan dipertahankan

Untuk kepentingan serakah pribadi dan korporasi

Di sini susah membedakan pejabat dan penjahat

Seperti rumitnya membedakan pahlawan nasional

Dan bencana nasional

Tengoklah, pejabat ada yang lari

Ke tanah suci dan ke luar negeri.

 

Sumatera kami

rakyat baca pesanmu

Dalam lima tahun 428.232 ha lahan digunduli

Dalam dua tahun terakhir nambah 222.460 ha

Penggundulan hutan itu sudah puluhan tahun

Biasanya ratusan truk membawa gelondongan

Dari atas bukit yang susah dijamah orang biasa

Tapi pada 26/11/25 truk pun seperti sudah kelelahan

Gentian air bah yang membawa jutaan gelondongan

Banjir air menjadi banjir kayu

Bahkan membentuk sungai kayu

Melanda isi daratan yang dilaluinya

Di berbagai tempat di tiga provinsi Sumatera

Barang, orang, rumah, bangunan, hewan, nyawa

Diterjang, pontang-panting mengharu-biru

bersama gelombang gelondongan.

Ribuan orang kini tak punya tempat tinggal tetap

Tak punya kerja pasti, tak punya baju ganti

Usai sarapan pagi tak jelas makan siang dan malam

Sementara laporan ke pusat semua teratasi.

Sekarung beras yang dipanggul itu

Tak menghapus ratap tangis

bahkan ada yang dilemparkan dari udara

berserak di tanah rakyat berebut mengumpulkan.

 

Sumatera, Indonesia kita

Kami melihat dan mendengar pesanmu

Lewat banjir bah gelondongan itu

Lewat jerit lirih suara anak bangsa

Melalui prahara panjang

akibat perbuatan manusia

yang menjual hamparan tanah pusaka

yang menghisap sumsum negeri ini.

Yang seharusnya untuk kemakmuran rakyat

Kau kasi peringatan azab demi azab

Apakah hati dan telinga mereka terbuka

 

Sumatera dan gelondongan

membawa pesan awal

kawasan lain menunggu giliran

kalau dibiarkan

Rahasia umum penggundulan itu

Ada dimana-mana

Bukan hanya Sumatera

Tapi datanya sudah terbakar

Rakyat Indonesia, bersatulah!

Hentikan kerakusan orang-orang itu

Semoga bala ini tak berlanjut

Ampuni kami Ya Rabb.

***

Jakarta, 11- 122025.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru