Thursday, October 29, 2020
Home > Berita > Suriah Terus Menyerang, “Neraka di Bumi” Ghouta Timur Harus Dihentikan

Suriah Terus Menyerang, “Neraka di Bumi” Ghouta Timur Harus Dihentikan

Tentara Suriah dan sekutunya Rusia telah meluluhlantkan Ghouta Timur, wilayah di pinggiran Damaskus. Namun masyarakatnya tetap optimistis, seperti antara lain dikatakan oleh Ammar Albushi: “Dunia mungkin tidak terpengaruh oleh penderitaan kita tapi pada akhirnya tidak ada yang suka mati dengan diam.” (Foto: Anadolu/Al Jazeera)

Tentara Suriah dan sekutunya Rusia telah meluluhlantkan Ghouta Timur, wilayah di pinggiran Damaskus. Namun masyarakatnya tetap optimistis, seperti antara lain dikatakan oleh Ammar Albushi: “Dunia mungkin tidak terpengaruh oleh penderitaan kita tapi pada akhirnya tidak ada yang suka mati dengan diam.” (Foto: Anadolu/Al Jazeera)

Mimbar-Rakyat.com (Damaskus) – Serangan yang terus berlanjut dilakukan pasukan pemerintah Suriah dan sekutunya Rusia telah menciptakan “neraka di Bumi” bagi warga sipil yang terperangkap di daerah pinggiran Damaskus, Suriah.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyerukan segera dilaksanakan resolusi Dewan Keamanan yang telah ditetapkan Sabtu lalu, agar melakukan gencatan senjata selama 30 hari di Suriah. Demikian dilaporkan Al Jazeera.

Berbicara di Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa, Swiss, Guterres menggambarkan situasi di Ghouta Timur sebagai “neraka di Bumi”. Warga sipil di Ghouta Timur benar-benar telah menderita luar biasa dan menunggu bantuan PBB.

Guterres, di Jenewa, Senin waktu setempat atau Selasa (WIB) mengatakan, saat ini serangan udara dan operasi darat masih  berlanjut meski ada kesepakatan gencatan senjata. Serangan  berlangsung seharian.

Di lain pihak, Presiden Rusia Vladimir Putin, memerintahkan “jeda kemanusiaan” dari pukul 09:00 sampai 2.00 waktu setempat pada Selasa untuk mengizinkan warga sipil mengevakuasi Ghouta Timur.

Pemboman terhadap daerah kantong kelompok anti-pemeintah Suriah selama seminggu terakhir itu merupakan perang tujuh tahun terberat yang mereka hadapi di Suriah. Telah 550 orang tewas dalam delapan hari terakhir. Data tersebut merupakan perhitungan yang dikumpulkan Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia.

Sebaliknya, penembakan yang dilakukan pemberontak atau pejuang  di Ghouta Timur,  menurut Zaher Hajjo, seorang pejabat kesehatan pemerintah, kepada kantor berita Reuters, telah menyebabkan 36 kematian dan sejumlah korban luka di Damaskus dan daerah pedesaan pada empat hari terakhir,

“Saya mengingatkan semua pihak tentang kewajiban mutlak mereka dan hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia internasional untuk melindungi masyarakat sipil dan infrastruktur sipil setiap saat,” katanya.

Ucapan tersebut muncul saat para dokter di daerah kantong tersebut menuduh pemerintah Suriah meluncurkan serangan gas klorin di kota Al-Shifaniyah di Ghouta Timur.

Tim penyelamat Pertahanan Sipil Suriah, yang juga dikenal sebagai Helm Putih, mengatakan pada hari Minggu setidaknya satu anak meninggal karena mati lemas. Menurut pejabat kesehatan oposisi Suriah, korban menunjukkan gejala “konsisten dengan paparan gas klorin beracun”.

Pada hari Minggu, pasukan Presiden Bashar al-Assad melancarkan serangan darat terhadap kelompok oposisi, dalam upaya menembus wilayah kantong yang terkepung, yang berada di bawah kendali pemberontak sejak 2013.

Dua faksi anti-pemerintah utama di Ghouta Timur adalah Jaish al-Islam dan Failaq al-Rahman. Tahrir al-Sham, aliansi pejuang oposisi, juga hadir dalam jumlah kecil di sana.

Zeina Khodr dari Al Jazeera, yang melaporkan dari Beirut, mengatakan bahwa pemerintah belum dapat mengambil “satu sentimeter pun wilayah di Ghouta” sejak serangan darat dimulai.

Sedikitnya 16 orang telah terbunuh sejak Senin pagi di Douma Ghouta Timur. Demikian dikatakan aktivis lokal Alaa al-Ahmed kepada Al Jazeera. Sehari sebelumnya, setidaknya 27 orang di pinggiran kota Damaskus tewas akibat penembakan pesawat tempur Suriah yang didukung Rusia.

Pekan lalu, serangan udara mematikan dan tembakan artileri yang diluncurkan pasukan Suriah dan sekutu mereka memperburuk krisis kemanusiaan yang mengerikan di daerah kantong yang terkepung itu, yang menampung sekitar 400.000 orang.***(janet)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru