Tuesday, March 31, 2026
Home > Cerita > Cerita Khas > Reuni Siwo 2025 – Saling pandang-bincang dan rasa sayang, Catatan A.R. Loebis

Reuni Siwo 2025 – Saling pandang-bincang dan rasa sayang, Catatan A.R. Loebis

Temu kangen Siwo PWI Jaya pernah dihelat pada 16 Juli 2022 yang menghasilkan catatan media berjudul Reuni Siwo Jaya Sedunia dan lanjutannya baru terejawentahkan lagi pada Sabtu 15/11.2025.

Lama nian tidak bertemu, sehingga rasa kangen itu terwujud dalam kata..sayang..Reuni Akbar Siwo 2025 Tersayang.

Siapa yang tidak sayang dengan Siwo? Begitu dalamnya kata itu termaktub dalam sanubari, sehingga tentu saja anggotanya pun memiliki ikatan historis yang membatin  hingga sekarang dan pantas bila diungkapkan dengan kata..sayang.

Dalam KBBI disebutkan kata sayang menandakan amat suka atau cinta. Ini merujuk pada perasaan cinta dan kasih terhadap seseorang atau sesuatu, perasaan cinta kasih atau suka.

Sehingga tidak salah bila penggagas acara temu rindu ini – Raja Pane, Luthfie Sukri, Tebe Adhi dan Indrie HP Koentjoro- menerakan kata “tersayang” sebagai kata keterangan atau lema pada judul acara reuni itu.

Sekitar 30-40 tahun lalu, kami anggotanya setiap hari bertemu di sekretariat Siwo PWI Jaya di Lapangan Tembak Senayan yang saat ini sudah berubah menjadi Hotel Mulia.

Kami meliput nyaris tiap hari karena banyaknya acara olahraga ketika itu. Pagi mencari berita, siang mengikuti jumpa pers, petang sampai malam meliput. Boleh dikata, kami nyaris 24 jam beraktivitas dalam sehari, di kantor dan di lapangan, termasuk pada akhir minggu Sabtu dan Minggu.

Apalagi bila ada pertandingan multi-event dalam dan luar negeri. Kami liput mulai dari Kejurda, PON, SEA Games, Asian Games, Olimpiade, Piala Dunia.

Reuni ini dihadiri Ketua Umum PWI Pusat Ahmad Munir, mantan ketua umum PWI Hendry Ch Bangun, Ketua PWI DKI Kesit B Handoyo, mantan atlet judo Krisna Bayu. (arl)

Sebagian dari kami ada juga meliput laga tunggal seperti kejuaraan tinju dunia, series tenis dunia, bulu tangkis, atletik dan renang, termasuk Formula 1 (F1), reli dunia (WRC) dan lainnya.

Jadi ingat, jaman doeloe wartawan olahraga harus memiliki kartu pengenal AIPS (Asosiasi Pers Olahraga Internasional), harus memiliki kartu Telkom untuk ngirim faks…dll .

Nah, begitu lekatnya persahabatan ketika itu, sehingga tidak mungkin akan terlupakan. Beragam kisah suka-duka dalam meliput itu, masih lekat dalam ingatan. Bagaimana mungkin akan terhapus, sehingga pantaslah lahir kata sayang itu, baik kepada teman mau pun kepada Siwo.

Energi cinta

Energi sayang atau rasa cinta dalam dada itu dibawa dari rumah masing-masing dan Senin 15/11/2025 mengalir dan tumpah ruah di pelataran lapangan panahan GBK.

Alangkah bahagia bertemu dengan teman lama. Saling peluk menghangatkan suasana dan cipika-cipiki jadi biasa serta tegur sapa seolah tiada habisnya.

Kami menua bersama. Sehingga ada teman yang mengatakan sebelumnya ia tidak menyangka yang dilihat dan disalaminya adalah si anu. “Pada awalnya saya tidak kenal bahwa itu si anu,” katanya sembari menyebut nama temannya itu.

Ada pula yang berujar menanyakan nama seseorang kok tidak hadir, padahal orang yang ditanya itu berada di sebelahnya. “Ini aku di sebelahmu..,” katanya pada sahabat dekat itu.

Panitia mungkin menyadari hal ini, sehingga menempelkan stiker nama pada dada sebalah kanan, di kaos kuning tua yang dibagikan kepada para anggota.

Saling bincang antarteman seolah bersipongang, angin semilir dari lapangan panahan memasuki ruang ber-AC alam itu. Panahan dahulu kala merupakan salah satu liputan favorit kami. Trio srikandi panahan, Lilies Handayani, Nurfitriyana Saiman dan Kusuma Wardhani, meraih medali perak di Olimpiade Seoul 1988, medali pertama Indonesia setelah 36 tahun berpartisipasi.

Pada acara beraura cinta itu hadir juga Ketua PWI Pusat Ahmad Munir dan mantan ketua PWI yang baru digantikannya Hendry Ch Bangun, Ketua PWI Jaya Kesit B Handoyo,  mantan atlet judo Krisna Bayu – peraih medali emas di kelas menengah 100kg di SEA Games 2001 Kuala Lumpur, yang kini aktif di berbagai organisasi termasuk di komite olahraga Indonesia (KOI).

Ahmad Munir dalam kesempatan itu menguraikan Siwo merupakan pondasi dasar baginya, sehingga mampu berkiprah di berbagai organisasi.

“Dari anggota Siwo Jawa Timur, akhirnya saya jadi ketuanya dua periode. Kemudian jadi ketua PWI Jatim dua beriode. Saya juga menjabat sekretaris KONI Jatim, sekretaris di klub Persebaya dan beberapa lainnya. Sampai akhirnya menjadi ketua umum PWI pusat,” kata pria yang akrab dipanggil Cak Munir itu.

Duh..betapa gembira dan bahagia,,bernyanyi bersama. (ist)

Dari Siwo, banyak anggotanya yang beralih tugas ke berbagai tempat dan salah satunya adalah Suryopratomo atau Tommy – wartawan Harian Kompas,  yang menjabat Duta Besar RI untuk Singapura. Raja Pane pernah menjabat direktur Gelora Senayan. Hendry Bangun pun pernah wakil ketua Dewan Pers. Dedy Reva petinggi di AnTeve, Kusnaeni anggota Dewan Pengawas RRI, Mahfudin Nigara selain pernah sebagai direkrur Gelora juga sebagai staf khusus Menpora, dll.

Kegembiraan semakin terasa ketika acara pengundian  “door-prize” – jumlahnya cukup banyak, ditambah lagi hadiah tambahan spontan dari Krisna Bayu dan Prof Rajab Ritonga, berupa kompor dan uang kontan. “Mana nomor rekeningnya…,” kata Rajab dan tak lama kemudian mentransfer langsung hadiah uang kepada Gunawan Tarigan dan Djunaedi Tjunti Agus, salah dua yang beruntung dalam undian itu. Panitia pun menyediakan juga hadiah berupa uang kontan dalam acara itu. Beberapa nomor undian terpaksa harus dikocok ulang, karena pemilik nomor pulang duluan, termasuk Marah Sakti Siregar.

Semakin meriah diselipi pilu

Acara pun semakin meriah, ketika diwarnai dengan saling alun suara bagi yang pandai bernyanyi. Jimmy S Hariyanto, Donny, mas Adhi Wargono, Raja Pane sang ketua panitia, Nonnie si ketua Siwo Jaya saat ini dan beberapa lainnya tarik suara bergantian.

Ketika Kesit mengalunkan lagu berirama dangdut, beberapa orang serentak menghentak langkah mengayun lengan. Betapa meriahnya. Begitu gembiranya.

Saya memandangi wajah-wajah ceria itu. Tapi di antara mereka saya seakan melihat bayangan wajah-wajah lama, wajah teman, wajah senior yang sudah pergi.

John Halmahera yang membimbing saya ketika pertama kali meliput di luar negeri (Merlion Cup) di Singapura. Demikian pula dengan guru lainnya seperti Mas Sumohadi Marsis, Bang Sam Lantang, Mas Pardi, Bang Ress Yasin. Teman-teman lama, Sanyoto, Bramono, Haji Rustam, Sakti Saung Umbaran, Akhir Tanjung, Barce. Bahkan salah satu pendiri Siwo, Bang Norman Chaniago, yang tahun lalu masih ikut beraktivitas HPN dan Porwanas di Banjarmasin. Semua mereka sudah pergi.

Nah, di antara para anggota yang sedang bergembira itu, tidak tampak wajah junior – yang di bawah angkatan Nonnie, sehingga saya membayangkan, pada suatu saat kelak Siwo tinggal nama.

Ketua Panpel Reuni Raja Pane Parlindungan. (arl)

Siwo hanya berupa catatan sejarah. Para junior wartawan olahraga tak lagi merasakan hakekat liputan olahraga yang sesungguhnya. Mereka pun tak kenal dengan senior mereka, apalagi tentang sepak terjang mereka. Roh Siwo melayang bersama para anggota tuanya, termasuk yang akan pergi bergiliran satu per satu. Terasa pilu menyelip dalam hati di tengah kemeriahan temu kangen itu.

Tapi hal ini tak perlu jadi sesalan apalagi beban pikiran, karena sudah merupakan hukum alam, silih berganti serta datang dap pergi, apalagi digitalisasi teknologi dan disrupsi media begitu hebat melanda, sehingga semua sudah berubah.

Mantan ketua Siwo Ian Situmorang mengingatkan, sebagai salah saru unsur pembina olahraga nasional, Siwo harus mengulang apa yang pernah dilakukan, yaitu fungsi melakukan sokoguru pendidikan dan pelatihan, yaitu melalui kompetisi.

“Dulu kita menyelenggarakan kompetisi sepatu roda, balap sepeda, tinju, atletik. Ini amat penting, dalam usaha ikut memutar roda kompetisi,” kata Ian, mengingatkan pentingnya kompetisi, apalagi belakangan ini event kejuaraan nasional pun jarang terdengar.

Raja Pane dalam kesempatan itu mengungkapkan ia akan berusaha terus membangun dan menghimpun semangat teman-teman Siwo untuk berusaha aktif membina citra olahraga nasional. Siwo berperan tidak saja sebagai pelapor pertandingan tapi juga sebagai pelakon pembinaan.

Baca juga :

Reuni SIWO se-dunia 2022!, Catatan A.R. Loebis

 Kongkow Siwo Jaya di antara doa dan nostalgia,  Catatan A.R. Loebis

Peluncuran buku Siwo, dari pertemuan Atal & Hendry hingga tugas negara, Catatan A.R. Loebis

“Siwo adalah rumah kita. Kita akan berusaha tetap bisa dan aktif melakukan pembinaan olahraga di Tanah Air dengan berbagai cara,” kata Raja.

“Yang penting semangat tetap ada. Tahun depan Siwo-Siwo dari berbagai daerah sudah meminta agar reunian ini diadakan dalam skala nasional,” kata Raja.

Niat mulia ini kalau ada pemrakarsanya, pasti akan dapat diwujudkan, apalagi bila bermuara dari rasa sayang yang muncul dari dalam dada.

Wallohu a’lam bishawab. (arl)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru