Friday, April 19, 2024
Home > Berita > Pidato Anas Urbaningrum di Monas Dinilai untuk Melunasi Janji: Jenihkan Kasus Hambalang

Pidato Anas Urbaningrum di Monas Dinilai untuk Melunasi Janji: Jenihkan Kasus Hambalang

Anas Urbaningrum saat menyampaikan pidato politik di Silang Monas, Sabtu (16/7/2023).

Mimbar-Rakyat.com (Jakarta) – Pidato politik Anas Urbaningrum di Silang Monas, Sabtu (16/7/2023), dinilai merupakan pemenuhan janji sumpahnya yang siap digantung jika terbukti terlibat korupsi Hambalang.

“Anas Urbaningrum (AU) sudah melunasi janjinya. Artinya, pidato beliau di Monas itu untuk menjernihkan drama kasus Hambalang, termasuk janjinya jika terbukti korupsi Hambalang itu,” ujar Koordinator Jaringan Aktivis Nusantara (JAN) Romadhon Jasn, Minggu (16/7/2023).

Meskipun Anas Urbaningrum telah menjalani hukuman pidana, namun Romadhon tetap berkeyakinan bahwa Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) itu tidak bersalah.

Faktanya, kata dia, dalam persidangan memang tidak terungkap dan tidak terbukti keterlibatan Anas dalam kasus Hambalang. Dia melihat kasusnya dipaksakan dengan tujuan mengkriminalisasi dan menghancurkan karir politik Anas yang kehadirannya saat itu ibarat bayi lahir tapi tidak diinginkan.

“Ternyata fakta di persidangan justru tidak terungkap keterlibatan Anas di Hambalang. Masih ingat kan di sprindik muncul frasa dan proyek-proyek lain, kan aneh. Nah itu jelas dipaksakan, kriminalisasi namanya, karena Mas Anas seperti bayi lahir tapi tak diinginkan saat itu,” kata Romadhon.

Aktivis asal Madura itu menganggap Anas Urbaningrum adalah korban politik rezim penguasa saat itu yang merasa tidak nyaman dan tidak puas dengan keberadaan Anas, terutama pasca terpilih sebagai ketua umum partai. Itu sebabnya, pelbagai operasi politik dilakukan untuk menjegal dan mengakhiri kekuasaan Anas sehingga dilengserkan dari pucuk pimpinan partai.
“Yang pasti operasi politik untuk membunuh karir dan masa depan politik AU sangat kejam, bahkan segala cara yang ditempuh. Mereka pakai tangan KPK. Ini jelas intervensi penguasa terhadap penegakan hukum saat itu. Artinya AU ini memang tokoh muda yang terlampau bersinar sehingga tak diinginkan kehadirannya,” tandasnya.

Oleh karena itu, kata Romadhon, pidato Anas Urbaningrum di Monas merupakan penegasan kepada publik tentang peristiwa hukum bercampur politik yang dialaminya beberapa tahun lalu, tidak boleh terjadi lagi pada anak bangsa yang lain.

“Cukup AU (korban), kan begitu yang disampaikan Anas Urbaningrum,” ungkap Romadhon. Lebih lanjut Romadhon mengajak publik untuk berpikir jernih dan rasional sehingga tidak gampang mengkritik, apalagi sampai menghakimi Anas Urbaningrum.

Sebab esensi dan substansi pidato Anas di Monas adalah untuk memberikan penjelasan tentang maksud dan pesan tersirat dari statemen gantung di Monas, yaitu menggantungkan harapan di atas langit di bawah ada Monas.

“Stetamen gantung di Monas itu ditafsirkan beda-beda silakan, tergantung yang menafsirkan. Tapi yang pasti AU bilang bahwa gantungkan harapan di langit di bawah langit Monas,” tutupnya. (ds/sumber SINDOnews.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru