Sunday, September 27, 2020
Home > Berita > Merdeka!! Berkumandang di tepi ngarai itu

Merdeka!! Berkumandang di tepi ngarai itu

Bocah pada gembira bernyanyi bersama, apalagi menerima hadiah lomba. (arl)

Merdekaaa! Berkumandang berkali-kali di tepi ngarai kecil itu, gemanya seperti bersipongang dibawa angin malam diselingi desir dedaunan yang tak bosan-bosannya saling bersentuhan.

Pesta seni dan kreasi itu berlangsung hingga tengah malam, dalam suasana gembira, khidmat, semarak,  di alam terbuka. 

Malam itu acaranya berkaitan dengan hari Kemerdekaan ke-75 RI, penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba yang didominasi kanak-kanak, dimeriahkan dengan tari-tarian, nyanyi dan pembacaan puisi dan ayat suci yang dikumandangkan warga cilik yang bermukim di kawasan itu. 

“Merdeka! Merdeka! Merdeka!  Kita harus meneruskan warisan kemerdekaan ini kepada anak cucu buyut kita, agar mereka merasa bertanggung jawab melanjutkannya secara positip,” kata Abah Herman, sesepuh yang sudah berusia 80 tahun – namun suaranya lantang menggema, menyentak gemerisik hadirin yang duduk di kursi dan di lantai pelataran lorong.  

Suasana tempat acara petang hari. Gotong royong mempersiapkan acara malam hari. (arl)

Nah, apa sebenarnya yang istimewa dari pesta seni dan kreasi ini?

Para warga yang umumnya “bapak-bapak muda” bergotong-royong kerja bakti dalam beberapa hari untuk membangun pentas menggunakan gundukan tanah liat yang diuruk, diinjak-injak, dibendung sekelilingnya menggunakan karung tepung berisi tanah, kemudian diinjak-injak lagi. 

Santai di pelataran lorong. (sofyan syah)

“Teman-teman terkadang bekerja hingga larut malam. Pernah hingga jam dua subuh. Maklum kalau bukan Sabtu dan Minggu terpaksa kerja bakti mulai malam, karena semua kan pada kerja,” kata Teguh, ketua panitia. 

 Warga di sekitar Klaster E Perumahan Puri Arraya, Cicadas, Bogor,  yang menghelat pesta seni kanak-kanak itu memang amat guyub.  

Tiada gerak tanpa tawa. Ketika mengangkat cangkul meratakan tanah, saat menata tenda dan kursi yang disewa, bahkan pada waktu perlombaan pada 16-17 Agustus pun, tawa selalu meledak dalam setiap pembicaraan. 

Ada tenda kecil, lumayanlah, untung cuaca lagi cerah di kota hujan itu. Paling kiri sesepuh Abah Herman dan paling kanan Teguh Wiyana, ketua panitia. (zul)

Para “ibu muda” pun di kawasan  yang dihuni sekitar 37 KK itu tak mau kalah, mereka bersatu padu memprsiapkan lomba dan acara tasyakuran yang dikemas sebagai acara pesta seni itu.

“Yang penting kita suka, kerja sama, dan anak-anak gembira,” kata seorang ibu, pada acara yang dimeriahkan dengan pemberian banyak “door-prize” yang berasal dari warga untuk warga. Mereka pun bekerja hingga larut malam mempersiapkan materi acara itu.  

Semangat, gembira, nyanyi bersama. Maju terus ibu-ibu Merah Putih. (arl)

Selain perlombaan untuk kanak-kanak dan orang dewasa, panitia melakukan hal istimewa, yaitu memilih lorong paling bersih dan asri, keluarga paling berseri bahkan hingga siapa yang paling rajin menyapu halaman di pagi hari.

Perayaan Kemerdekaan RI kapan pun dan di mana pun, membawa kesan tersendiri, cerita tersendiri, momentum tersendiri, tentu saja kendungan pesan moral yang tersirat di dalamnya – utamanya saat ini untuk tidak lupa menerapkan protokol kesehatan dalam kelanjutan berkehidupan.

Ya, di atas panggung itu – lahan semak yang dusulap menjadi pentas bernuansa merah putih– kumandang kata merdeka terdengar berkali-kali,  anak-anak gembira, persatuan warga terbina, ketua erte lima erwe tiga yang baru terpilih, Murtono,  terlihat tersenyum menyaksikan keceriaan warga.  (arl) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru