Thursday, December 03, 2020
Home > Berita > Cuaca Buruk, Perairan Pantura Indramayu Sepi Perahu, Nelayan Menganggur

Cuaca Buruk, Perairan Pantura Indramayu Sepi Perahu, Nelayan Menganggur

Perahu nelayan parkir karena cuaca buruk. (ist)

MIMBAR-RAKYAT.Com (Indramayu) – Perairan laut di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Kabupaten Indramayu, Jawa Barat selama dua hari terakhir ini, Kamis (9/2) dan Jumat (10/2) tampak sepi.

Biasanya banyak perahu-perahu kecil nelayan dari mulai yang berukuran lebar 1,5 Meter dan panjang 5 Meter hingga lebar 2,5 Meter dan panjang 7 Meter berkeliaran mencari ikan, tapi belakangan ini tak kelihatan aktifitasnya.

Pemantauan di lapangan, kondisi perairan Indramayu dari mulai pantai Desa Ujung Gebang, Kecamatan Sukra yang berbatasan Kabupaten Subang, terus merambah pantai Desa Eretan Kulon, pantai Desa Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, pantai Desa Limbangan Kecamatan Juntinyuat hingga pantai Desa Singakerta, Kecamatan Krangkeng yang berbatasan dengan Kabupaten Cirebon juga terlihat sepi dari perahu-perahu nelayan.

Yang terlihat di sepanjang pantai itu deburan ombak yang membesar disertai hembusan angin yang cukup kencang serta hujan yang tidak merata.

Cuaca buruk itu juga menyebabkan masyarakat Desa Eretan Wetan dan Desa Eretan Kulon dirundung masalah bencana alam rob atau naiknya permukaan laut yang terjadi sejak Rabu (8/2), Kamis (9/2), dan Jumat (10/2) pagi.

“Kami para nelayan menyebut cuaca yang buruk ini dengan musim paila atau musim paceklik ikan,” kata Rastim, 32 salah seorang nelayan di Kecamatan Kandanghaur. Dia nampak tengah membenahi jaring di sungai. Sejak beberapa hari ini nelayan kecil terpaksa tidak melaut, karena cuaca buruk. Kondisi ini tidak menguntungkan buruh nelayan kecil karena menganggur.

Di muara Desa Eretan Wetan yang terlihat beberapa kapal besar berbobot di atas 10 Gross Ton (GT) ke luar masuk muara Desa Eretan Wetan. Nelayan dengan kapal besar ini ada yang baru pulang ada yang akan berangkat.

Mereka sama sekali tak mencari hasil tangkapan laut di sekitar perairan Indramayu. Tetapi mencari hasil tangkapan laut sampai menjangkau Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi. Pertimbangannya karena di sekitar perairan Indramayu ikan-ikan yang menjadi sasaran tangkap kapal besar sudah “habis”.

Sehingga kapal besar itu harus mengalihkan daerah sasaran tangkap yaitu di perairan Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi. “Kalau perairan Indramayu walaupun cukup panjang mencapai puluhan kilo meter, tetapi ikan-ikannya sudah tidak ada. Paling yang tersisa ikan-ikan kecil atau jenis ikan ruca-ruca yang jika dijual harganya murah,” ujarnya.

Selama tidak melaut karena cuaca buruk para buruh nelayan kecil atau biasanya disebut bidak, hanya mengandalkan hutang atau pinjaman dari juragan atau pemilik perahu untuk menutupi kebutuhan sehari-hari selama menganggur karena cuaca buruk. Nilai pinjaman itu kata Rasdi, 21 nelayan di Kecamatan Krangkeng sifatnya hanya sementara, paling hanya cukup digunakan selama seminggu atau 10 hari.

“Mudah-mudahan cuacanya segera kembali normal sehingga para buruh nelayan kecil bisa beraktifitas menjaring ikan lagi di sekitar perairan Indramayu, Subang atau Cirebon,” ujarnya. (joh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru