Pada sekali ini pagi
Burung itu tak lagi menunggu hujan
Ah, hujan hanya merobohkan pohon-pohon termasuk pokok kenari, sunggutnya.
Ditinggalkannya sehamparan halaman luas
Dengan tumpukan biji-bijian ranum
Ketika turun hujan, pada awal Agustus ini.
Pagi sekali dia menahan gigil yang tak sudah
Ah hujan hanya merusakkan sarang-sarang, keluhnya.
Ia mengepakkan sayap
Meninggalkan bermil-mil tanah menuju benua baru
Tapi petih dan guruh tak pernah meninggalkannya
“Ah, bumi manakah yang tak basah tersiram hujan?”
900
Bagansiapiapi, 7 Agustus 2023
Kesunyian
Pada satu perangkap
Sehamparan jaring dengan tumpukan padi menguning
Burung-burung itu terjebak, menangkup sunyi.
Pada kesunyian tak ada siapa yang sudi
Berbagi
Cuma sepenggal dinding sebagai kawan
Serupa Amir Hamzah mendoakan hari-hari.
Hari berlalu sudah pasti
Menyambut hari akan datang yang masih suram
Kematian hanyalah tabir penutup
Menuju kearah tabir pembuka lainnya, Firdausi.
Pada kata-kata
Sebagai pengubat
Biarpun kesunyian tak pernah
Membelahkan hening, membagikan dirinya.
Kita akan terbang kemana, pada penghujung musim ini?
Tanya burung itu kepada kawanan burung lainnya
Sembari menatap selembayung
Dari balik sangkar berjalin rapi.
000
(Zulfadhli, lahir 18 September 1981, adalah sastrawan di Rokan Hilir (Rohil), Riau yang sehari-hari menjalani profesi sebagai wartawan harian Riau Pos. Merupakan nominator Ganti Award (2006) dengan judul Novel “Kehilangan Jembalang”, meraih Anugerah Jurnalistik Sagang (2012).
