Wednesday, April 1, 2026
Home > Berita > Jangan Duduk Di Pintu, Nanti Mendapatkan Istri Perempuan Tua

Jangan Duduk Di Pintu, Nanti Mendapatkan Istri Perempuan Tua

Sarung

“Jangan duduk di pintu. Nanti kamu mendapat istri perempuan tua.” Itu peringatan dari seorang ibu kepada anaknya yang duduk di pintu keluar masuk rumah. Wajah ibu itu terlihat serius. “Ayo pindah. Duduk si kursi itu,” katanya lagi.

Kalimat di atas merupakan sepenggal peristiwa puluhan tahun lalu, ketika saya masih kecil, masih duduk di awal sekolah SD. Ada saja peringatan atau larangan yang saya dengar, hampir tiap hari dari ibu-ibu atau bapak-bapak di lingkungan.

“Jangan melempar, melambung-lambungkan sarung. Nanti ibumu mati.” Ini peringatan lain yang pernah saya dengar, jika anak-anak berlomba melempar kain sarung setinggi mungkin, dikala hendak berangkat atau pulang mengaji di surau.

Banyak isyarat atau peringatan lain saya dengar terkait kehidupan dan kegiatan sehari-hari. Jika ayam jantan berkokok (berkukuruyuk) di senjata hari, itu dikatakan merupakan isyarat ada wanita yang hamil luar nikah di lingkungan itu. Apa faktanya benar? Saya nggak pernah tahu.

Lalu peringatan lain, larangan duduk di atas bantal yang dikatakan bisa membuat pantat pelakunya bisulan. Kemudian larangan bersiul di malam hari, yang disebut bisa mengundang kehadiran ular.

Banyak sekali peringatan atau larangan di tengah masyarakat yang dikaitkan dengan risiko. Juga ada larangan jangan mandi atau berendam di sungai setelah makan, yang dikatakan bisa membuat perut buncit atau busung. Semuanya dikaitkan dengan berbagai risiko, seperti tidak akan mendapat jodoh, rezeki mampet, dan lainnya.

Menelisik berbagai peringatan macam-macam itu sebetulnya merupakan larangan biasa, karena perbuatan tersebut menggangu dan ada risiko. Namun agar anak-anak segera mematuhinya dibuat-buatlah ancaman yang menakutkan.

Larangan duduk di pintu rumah misalnya. Itu memang mengganggu. Namun cara melarangnya dibuat seram. Agar si anak cepat pindah, dikatakan perbuatannya bisa membuat pelaku bisa mendapat istri seorang perempuan tua. Padal larangan itu karena duduk di pintu menggangu keluar masuk.

Larangan melempar atau melambungkan selimut, sebetulnya agar sarung yang digunakan tidak kotor bila jatuh ke tanah. Begitupun tentang larangan bersiul dan lainnya adalah untuk mengingatkan anak-anak tidak bertindak yang merugikan atau mengganggu.

Setelah dewasa saya kadang tergelak sendiri bila ingat sejumlah larangan yang dikaitkan dengan akibatnya.

Saya coba mengaitkan larangan-larangan itu dengan keilmuan. Perbuatan itu ternyata dapat menimbulkan dampak negatif, semisal membuat anak tidak kreatif, penakut, kehilangan kepercayaan diri, peragu, bahkan mengkhayal yang tidak seharusnya, serta sulit membedakan kenyataan dan rekayasa.

Saya sendiri di masa kecil ketika pernah dingatkan agar tidak duduk di pintu keluar masuk rumah, dengan ancaman bisa mendapat istri tua, bukannya takut tapi malah dalam pikiran muncul khayalan: Biar tua, tapi kalo orangnya kaya dan cantik kenapa takut?

Itulah yang pernah terjadi. Orang tua, masyarakat umumnya lebih memilih cara menakut-nakuti untuk melarang anak-anak dalam berbagai hal.

Siapapun harusnya menggunakan pendekatan yang lebih edukatif dan rasional untuk mendisiplinkan anak, seperti menjelaskan bahaya dengan bahasa yang mudah dipahami atau mengarahkan rasa takut secara pantas dan benar.

Pendekatan yang paling pas, dikaitkan dengan agama, karena Allah. Misal menyatakan bahwa Allah tidak suka terhadap perbuatan mubazir dan terlarang, tanpa menakut-nakuti dengan ancaman tak berdasar.

Di tengah masyarakat, di banyak daerah, memang telah lama berkembang anggapan yang menyesatkan atas suatu kejadian.

Dalam Islam dikenal kata tathayyur yang artinya ada anggapan sial yang berhubungan dengan suatu pertanda. Misal, jika melihat burung terbang, angka tertentu, atau kejadian tak terduga, dan banyak lainnya.

Ketika seseorang hendak melakukan kegiatan, bila melihat peranda tathayyur maka rencana yang sudah disusun dibatalkan.

Misal, bila seseorang hendak pergi dari rumah, lalu di halaman dia melihat seekor burung tiba-tiba terbang ke arah kiri, maka itu diartikan pertanda sial. Rencana kepergianpun dibatalkan.

Tathayyur dilarang dalam Islam, karena merupakan kesyirikan, menyekutukan Allah dengan selain-Nya.

Kata tathayyur dalam bahasa Arab berasal dari kata thair (burung). Orang-orang Arab zaman dulu menggunakan gerakan burung untuk menentukan nasib baik atau buruk. Suatu pertanda yang tidak memiliki hubungan sebab-akibat.

Sekarang mungkin cara-cara orang tua atau masyarakat mengingatkan anak-anak mereka tidak lagi seperti zaman baheula. Namun bukan berarti pendidikan terhadap anak telah super canggih dan super mempan. Sekali-sekali coba ikuti pergaulan anak-anak anda dengan teman-temannya. Bisa jadi anda kaget dan uring-uringan.***(fb DTA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru