(Wartawan kondang Sumohadi Marsis lahir di Kutoarjo pada 8 Juli 1944 dan wafat di Jakarta pada 24 Desember 2017. Puteri almarhum Shanti Maharani, mengirimkan artikel ayahnya ini, karena ingin mengingat hari kelahiran ayahnya dan berharap tulisannya itu menjadi inspirasi bagi para pembacanya. Red) ***
Orang bijak bilang , hidup dimulai pada usia 40. Apakah ini berarti kehidupan sebelumnya dianggap sia sia , atau tak bermakna ?
Bagaimana pula dengan hidup setelah usia 60, 70, 80 ?
Semakin bermakna atau justru jadi loyo dan tak berguna ?
Saya tidak tahu apakah sudah ada kata kata bijak yang lain untuk mengukur makna kehidupan dengan usia lanjut.
Yang pasti saya sendiri berprinsip, hidup yang singkat ini harus diusahakan memiliki makna pada usia berapa pun. Makna itu pun sebaiknya mengandung arti bahwa kehidupan kita juga bermanfaat bagi orang lain.
Pada usia 24 saya merasa diri saya sia – sia, gagal, sebagai mahasiswa di tahun kelima sebuah fakultas di Universitas Hasanuddin, Ujungpandang atau Makassar sekarang.
Saya merasa bangku kuliah membosankan dan tidak menjanjikan masa depan yang agak bercahaya.
Karena itu saya mengucapkan ” good bye ” kepada kampus yang pernah saya cintai ( dan karena itu saya membuat sebuah lagu Mars untuknya ).
Saya hijrah ke Jakarta dengan membawa mimpi ” menjadi orang berguna , bahkan punya nama “.
Setahun di Jakarta saya tidak hanya bisa mendapat pekerjaan, tapi juga kesempatan untuk mengembangkan bakat saya menulis.
Tahun berikutnya , 1970 , saya sudah resmi menjadi wartawan koran perjuangan mahasiswa, Harian KAMI. Dan dua tahun kemudian saya bergabung dengan Harian Kompas, koran nasional terbesar waktu itu, bahkan hingga sekarang.
Di sana saya merasa dapat lebih mengembangkan bakat dan karier saya sebagai wartawan, sebuah profesi yang saya yakini memiliki fungsi penting , yakni menjadi penggali, pengumpul dan pembawa berita kepada masyarakat luas.
Termasuk di dalamnya adalah berita atau informasi mengenai olahraga, bidang yang kemudian sangat saya tekuni dan cintai.
Wilayah tugas saya terus berkembang dan melebar tak hanya di dalam negeri tapi juga negara – negara di Asia , Eropa , Australia.
Tahun 1984, pada usia 40, saya mendapat tugas yang berat tapi memikat dari pimpinan Kompas.
Saya dan seorang rekan sesama wartawan olahraga ditugasi memimpin sebuah penerbitan yang terpaksa istirahat karena banyak hal.
Ia adalah sebuah majalah olahraga yang kemudian kami sulap menjadi tabloid dengan nama tak berubah : BOLA.
Kami berbagi tugas, rekan saya mengurusi sisi bisnis nya dan saya menangani masalah keredaksiannya.
Bertemu Maradona dan Tyson
Kehidupan baru, yang lebih berat tapi juga lebih bermakna segera menjadi hari – hari kegiatan saya.
Bersyukur semuanya terasa menggelinding dengan baik sampai kami bisa melepaskan diri dari ” pelukan ” Kompas tatkala usia tabloid baru empat tahun.
Tuhan ternyata terus memberikan berkat dan rahmatnya hingga BOLA terus dan tetap menjadi pemimpin pasar di tengah persaingan antarmedia yang begitu keras. Dalam situasi dan kondisi seperti itu di tahun 2004 , pada usia 60, saya terpaksa harus meninggalkan BOLA yang telah melahirkan ” seorang adik ” , tabloid gaya hidup sehat SENIOR.
Masa pensiun harus saya jalani, meninggalkan begitu banyak kenangan indah dan manis maupun sulit dan menegangkan.
Di antara itu adalah ketika pada tahun 1989 saya mengejar dan berhasil menemui serta berwawancara singkat dengan dua atlet terbesar dan terpopuler di dunia waktu itu : pesepakbola Diego Maradona dan petinju Mike Tyson.
Tanggapan bagus dari pembaca atas hasil pertemuan saya dengan dengan Maradona ( di Firenze , Italia ) maupun Tyson ( di Las Vegas , AS ) itu sudah tentu menyenangkan.
Yang tak kalah menggembirakan adalah penghargaan atas prestasi saya dari pemerintah yang disampaikan langsung oleh Presiden Soeharto di Istana Negara pada 9 September 1995.
Hanya sebuah sertifikat , tapi penghargaan dari seorang kepala Negara tentu saja memiliki makna tersendiri.
Pensiun ternyata juga tidak membuat saya berhenti berkarya. Sebulan setelah secara resmi , santai dan meriah dilepaskan oleh rekan – rekan BOLA maupun pimpinan Kelompok Kompas Gramedia , Agustus 2004 , saya
termasuk dalam kontingen Indonesia ke Olimpiade 2004 di Athena , sebagai pengurus KONI ( Komite Olahraga Nasional Indonesia ).
Malang tak dapat ditolak , meski rajin olahraga , minum obat , vitamin , bahkan makanan pelengkap , tiga hari sebelum upacara pembukaan saya mendapat serangan jantung. Alhasil , saya dioperasi dan dirawat enam hari di RS Palang Merah Yunani.
Tapi bersyukur lagi , dua hari sekeluar dari rumah sakit , saya sudah berani berangkat sendiri ke stadion bulutangkis , dan ikut menyaksikan Taufik Hidayat berjuang keras untuk merebut satu satu nya medali emas bagi kontingen Indonesia.
Saya pun tidak hanya jadi penonton , melainkan menunaikan tugas sebagai pewarta untuk majalah SPIRIT milik KONI yang saya pimpin.
Hidup memang harus punya makna, kapan dan di mana pun kita berada.
Semakin bermanfaat diri atau karya kita bagi orang lain , semakin besar makna kehidupan yang bisa kita nikmati.
Saya belum tahu apa yang akan saya kerjakan setelah masa pengabdian saya di KONI berakhir pada Februari 2007 , tapi membagi pengalaman lebih dari tiga dasawarsa sebagai wartawan olahraga mungkin bisa jadi pilihan berguna , dan tak pernah habis. *
Data Diri Penulis
Nama : Sumohadi Marsis
Tempat / tanggal lahir : Kutoarjo , 8 Juli 1944
