Tuesday, March 31, 2026
Home > Featured > Burung dan hujan, Puisi Zulfadhli

Burung dan hujan, Puisi Zulfadhli

Pada sekali ini pagi

Burung itu tak lagi menunggu hujan

Ah, hujan hanya merobohkan pohon-pohon termasuk pokok kenari, sunggutnya.

 

Ditinggalkannya sehamparan halaman luas

Dengan tumpukan biji-bijian ranum

Ketika turun hujan, pada awal Agustus ini.

 

Pagi sekali dia menahan gigil yang tak sudah

Ah hujan hanya merusakkan sarang-sarang, keluhnya.

Ia mengepakkan sayap

 

Meninggalkan bermil-mil tanah menuju benua baru

Tapi petih dan guruh tak pernah meninggalkannya

“Ah, bumi manakah yang tak basah tersiram hujan?”

900

Bagansiapiapi, 7 Agustus 2023

 

 

Kesunyian

Pada satu perangkap

Sehamparan jaring dengan tumpukan padi menguning

Burung-burung itu terjebak, menangkup sunyi.

 

Pada kesunyian tak ada siapa yang sudi

Berbagi

 

Cuma sepenggal dinding sebagai kawan

Serupa Amir Hamzah mendoakan hari-hari.

Hari berlalu sudah pasti

Menyambut hari akan datang yang masih suram

 

Kematian hanyalah tabir penutup

Menuju kearah tabir pembuka lainnya, Firdausi.

 

Pada kata-kata

Sebagai pengubat

Biarpun kesunyian tak pernah

Membelahkan hening, membagikan dirinya.

 

Kita akan terbang kemana, pada penghujung musim ini?

Tanya burung itu kepada kawanan burung lainnya

Sembari menatap selembayung

Dari balik sangkar berjalin rapi.

000

(Zulfadhli, lahir 18 September 1981, adalah sastrawan di Rokan Hilir (Rohil), Riau yang sehari-hari menjalani profesi sebagai wartawan harian Riau Pos. Merupakan nominator Ganti Award (2006) dengan judul Novel “Kehilangan Jembalang”, meraih Anugerah Jurnalistik Sagang (2012).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru