“Sudah ah gue nggak mau berdoa lagi. Nggak jelas. Seberapa pun besar upaya kita, seberapa sering pun kita berdoa, seberapa khusuk pun berdoa, keputusan tetap di tangan Allah. Nggak adil,” ujar Joko dengan wajah kesal. Sejumlah jemaah baru saja keluar dari masjid setelah berzikir sehabis salat dhuhur. Jam makan siang, perut siapapun pasti mulai lapar.
Saat itu dia sedang berada di pangkalan ojek dekat komplek yang sudah terbengkalai. Dulu di sini markas ojek pangkalan, tempat menunggu penumpang dari perumahan yang ingin pergi ke pasar, stasiun kereta, atau ke jalan besar yang ada angkot ke kecamatan atau kelurahan. Tetapi karena sekarang praktis tidak ada lagi Opang dan yang ada tinggal Ojol maka tempat ini hanya sesekali didatangi pengojek. Warga pun tidak perlu capek-capek berjalan ke pangkalan, pesan dari rumah, tunggu dan akan dijemput.
Di depan Joko, ada Rohmat, penjaga rumah sebelah pangkalan, dan Barkah, sekuriti komplek yang rutin berkeliling. Kebetulan saja mereka bertemu tanpa direncanakan.
“Tuhan itu Maha Adil, nggak sentiment sama orang,” kata Rohmat. “Kalau ada hambanya yang berdoa, pasti dikabulkan, kata Ustad. Cuma, waktunya kapan kita nggak tahu. Ya sabar saja.”
“Bisa jadi cara berdoanya kurang pas,” tambah Barkah. “Coba aja cari tahu. Bisa tanya ke Ustad, bisa juga lihat di Tiktok,” katanya meyakinkan.
“Gue pernah baca, ada doa kunci agar apa yang kita minta diijabah Allah, sebab langsung memanggil Allah dengan nama yang Dia sukai.”
“Bagaimana bunyinya,” tanya Barkah.
“Nih dengerin ya. Allahumma inni as aluka bi anni asyhadu annaka antallahu, la illaha illa antal ahadus samad, allazi lam yalid wallam yulad, wa lam yakullahu kufuwan ahad. Pendek saja tapi maknanya luar biasa.”
“Artinya apa,?” tanya Rohmad.
“Artinya, Ya Allah, aku memohon kepada Mu. Aku bersaksi bahwa Engkau adalah Allah. Tidak ada Tuhan selain Engkau, Yang Maha Esa, tempat bergantung. Yang tidak melahirkan atau tidak dilahirkan serta tiada apapun yang menyerupaiNya.”
Joko terdiam. Dia mengakui, selama ini dia berdoa dengan caranya saja. Karena dia beberapa kali mendengar, Tuhan itu Maha Mengetahui, jadi apapun yang kita sampaikan, dia yang dipanjatkan meski dengan Bahasa Indonesia, ok saja. Penggunaan Bahasa Alquran itu wajib kalau melakukan salat, berzikir, atau salawat Nabi Muhammad SAW. Apakah aku harus mengubah cara berdoa agar lebih didengar Allah, katanya dalam hati.
“Sebetulnya doa gue gak banyak. Cuma pingin dikasih rezeki cukup, anak gue mau masuk ke SMP uang masuknya mahal, gue perlu Rp 10 juta. Kalau dia gak sekolah, nanti mau jadi apa. Dia kan anak laki-laki. Itu kan tanggungjawab orangtua,”katanya.
Bagi Rohmat dan Barkah, itu uang yang cukup besar, bisa 2 kali gaji bulanan. Padahal setiap gaji juga habis untuk keperluan hari-hari, termasuk sekolah anak. Tanpa ada uang tip, tambahan dari boss atau warga, kadang sulit juga untuk uang rokok kopi. Apalagi kalau ada tetangga hajatan, ada yang menikahkan anak atau dikhitan.
“Nggak kebayang kalau pinjam. Bunganya gede, bakalan ngak bisa bayar,” ujar Joko, yang tahu di lingkungannya ada juga rentenir yang senang meminjamkan uang dengan jaminan STNK atau akte rumah bila jumlahnya besar. Pinjaman Rp 10 juta, menjadi Rp 15 juta artinya tiap bulan bayar Rp 1,2 juta. Kalau gagal bayar, kena denda harian. Padahal sebagai tukang ojek online, pendapatan harian Joko terbatas. Belum lagi bayar cicilan motor.
“Lama-lama gue malas berdoa. Yang penting ikhtiar aja dah. Nggak usah ngarep sama Tuhan,” katanyua putus asa.
“Ya nggak boleh begitulah. Ikhtiar itu wajib, tapi berdoa juga perlu karena kita ini hanya hamba. Dia yang Maha Kuasa,” bujuk Rohmat dengan bijak.
Mereka bertiga merenung dalam pikiran masing-masing. Tidak tahu mau membicarakan apa lagi kalau sudah menyangkut kekuasaan Tuhan. Selama ini modalnya hanya dengar-dengar kalau ikut perayaan Maulid, Isra Mi’raj, atau ceramah lepas subuh, kalau sempat. Tak lama kemudian mereka membubarkan diri, dengan pertanyaan yang masih menggantung. ***
Kalangan atheis selalu mengejek orang yang taat beragama, dengan mengatakan, agama menjadi pelarian karena gagal menghadapi dunia nyata. Maka agar tidak terlalu kecewa orang beragama menjadikan takdir sebagai alasan apabila tidak mencapai harapannya. Sekaligus melepas tanggung jawab. Tuhan telah menentukan segalanya, sehingga apapun yang dijalankan kalau sesuai jatah, ya terima saja.
Ada Ustad yang mengatakan, nasib kita sudah ditentukan pada saat ruh kita ditiupkan ke dalam janin saat kandungan ibu berusia 3 bulan. Tertulis juga umurnya, kapan nyawa dicabut, tidak bisa diperlambat atau dipercepat satu detik pun. Bahkan ada yang menyatakan, Nasib seluruh umat manusia sudah ditetapkan 50.000 tahun sebelum manusia diciptakan. Namun ada juga yang berkata sebaliknya. Apa yang tertulis itu seperti rencana kerja, yang dengan kuasa Allah, dapat berubah sesuai kehendakNya, apabila hambaNya berdoa dan berupaya dengan Ikhlas dan berserah diri. Karena Tuhan Maha Kuasa. Adalah Hak Dia untuk menjadikan apapun sesuai kehendakNya.
Kuasanya meliputi langit dan bumi, Wasi’a kursiyuhus samawati wal-ard, seperti tertulis di Ayat Kursi.
Diceritakan ada orang sangat saleh, semua ibadah dia jalani dengan taat, dia bersedekah, baik kepada tetangga dan siapapun, sehingga dia dan orang-orang yakin dia pasti menjadi penghuni surga. Suatu saat dia bermimpi dan bertemu malaikat, bertanya apakah namaku ada dalam daftar orang-orang penghuni surga di buku Lauhul Mahfudz. “Namamu ada di penghuni neraka,” kata malaikat. Ternyata karena ibadah yang dilakukan selama ini bukan demi Allah, tetapi untuk kebanggaan diri, agar dikagumi manusia. Riya. Sehingga tidak menjadi apa-apa di mata Allah.
Mendapat vonis masuk neraka, meski awalnya kecewa, setelah melalui proses cukup lama orang itu dapat menerima. Dia tetap rajin beribadah, bersedekah, berbuat baik, tapi kali ini bukan untuk kepuasan diri, tetapi semata-mata sebagai rasa terima kasih atas semua nikmat yang didapatnya dari Sang Pencipta. Singkat cerita, disebutkan bahwa dalam mimpi dia didatangi malaikat yang menyampaikan bahwa Allah kini memasukkan dalam daftar penghuni surga karena ikhlas dan tidak mencari pujian dari dunia. *
Siang itu wajah Joko terlihat cerah. Dia baru saja pulang dari sebuah Yayasan yang mengelola pondok pesantren. Anaknya dapat bersekolah di sana, tanpa uang muka. Malah kalau nanti memenuhi syarat, bisa dapat beasiswa, untuk menutupi biaya sekolah.
Di Pos Satpam, dia bertemu Rohmat yang Tengah berjaga. Joko berhenti dan duduk di bangku panjang.
“Alhamdulillah Mas Barkah, anak saya diterima sekolah. Gratis,” kata Joko menyapa.
“Syukur deh. Jadi nggak putus sekolah.”
Joko bercerita, saat mendapat penumpang dari stasiun, dia diminta mengantar ke sebuah Yayasan di jalan Merpati. Sambil berkendara sekitar 15 menit, penumpangnya itu bercerita bahwa dia datang ke yayasan untuk mengkonfirmasi bantuan dari lembaga internasional untuk membantu pelaksanaan belajar mengajar. Tujuannya agar semakin banyak orang ditampung dan belajar tanpa memikirkan biaya.
Ketika Joko menyatakan bahwa dia akan menyekolahkan anak tapi terkendala biasa, orang itu langsung memberi rekomendasi kepada pengelola Yayasan. Malah dia menjadi penjamin. Karena posisinya mewakili pemberi donor, maka anak Joko langsung diterima.
“Saya tidak menyangka dapat rezeki secepat itu dari Allah,” katanya dengan penuh haru.
“Jadi waktu itu nggak ngambek berhenti berdoa?,” sindir Rohmad dengan wajah bertanya.
“Ya, nggak lah. Malahan aku baca terus tiap malam doa mustajab yang diajarkan Barkah itu. Yang pasti, doaku diijabah. Tuhan Maha
Mendengar. Anakku bisa masuk sekolah SMP,” katanya sambil sedikit malu.
“Iya, kita tidak tahu. Tapi sih masuk akal kalau ada doa yang mustajab dan cepat dijawab, ada yang lambat. Doa-doa itu seperti jalan tol, jalan yang sudah dirintis para Nabi dan Rasul, sudah terbukti, jadi cepat sampai ke Allah. Seperti dialami Nabi Musa, Ibrahim, Nuh.
Nah kalau kita berdoa sesuai selera kita, ya seperti melewati jalan kecil, tidak mulus dan berbatu-batu. Antrean panjang. Coba ada berapa puluh juta umat Islam yang berdoa sehabis salat? Pasti berebut atensi Tuhan. Beda kalau melalui jalan yang sudah terbukti dijawab Allah doanya,” kata Barkah yang mendadak nimbrung sehabis mencuci mobil majikannya di blok sebelah.
Ketiganya tersenyum, wajah mereka cerah, ada banyak yang didapat hari ini. Lalu Joko memesan kopi pahit dari warung di sebelah, yang secangkirnya hanya dihargai Rp 4.000. Sedikit berbagi rezeki untuk rasa senang dan bahagia.
***
Ciputat 26 Januari 2026.
