Thursday, October 01, 2020
Home > Global > Sudah 514 WNI Bergabung Dengan ISIS

Sudah 514 WNI Bergabung Dengan ISIS

algojo ISIS

algojo ISIS

MIMBAR-RAKYAT.com (Bandung) -Sudah 514 WNI bergabung dengan ISIS  kelompok radikal Negara Islam di Irak dan Suriah , 4 diantaranya tewas. Sementara 16 calon ISIS yang tertangkap diTurki menolak dikembalikan ke Indonesia..

Presiden Joko Widodo pun pusing. Pemerintah tengah mencari jalan keluar dalam menyikapi keputusan 16 warga negara Indonesia (WNI) yang menolak kembali ke Tanah Air.  Namun, jalan keluar itu masih belum disepakati hingga kini.

“Itu juga masih dalam proses karena kemarin sudah kami rapatkan juga belum rampung karena ada plus minus, plus minus,” ujar Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (19/3/2015).

Jokowi menyebutkan, pemerintah saat ini juga memperhatikan penyebaran paham radikal yang disebar Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS). Upaya pencegahan dan penanggulangan paham itu, sebut Jokowi, kini tengah dicari sistemnya.

“Saya kira ini bukan hanya masalah Indonesia, tapi sudah menjadi masalah semua negara mengenai ISIS itu. Tapi belum bisa kami sampaikan,” kata dia.

Sebanyak 16 WNI yang ditahan di Gaziantep, Turki, akan segera dideportasi oleh otoritas Turki. Mereka menolak kembali ke Indonesia. Klaupun kembali bagaimana memperlakukannya. Mereka sudah tidak mempunyai tempat tinggal lagi, karena semua harta benda sudah dijual.

 

“Info yang saya dapat sekitar 514 orang bergabung ke ISIS. Empat di antaranya gugur,” ujar anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin nya dalam Konferensi Daerah (Konferda) DPD PDI Perjuangan Jabar, di Hotel Horison, Kota Bandung, Rabu (18/3/2015).

Yang pasti, lanjutnya, harus ada upaya deradikalisasi antara intelejen dan tokoh agama yang memerangi ISIS sesegera mungkin. Dia optimistis bahwa deradikalisasi bisa berjalan di Indonesia meskipun wilayah Indonesia luas.

Selain itu, dia meminta pemerintah dan intelijen tidak melepaskan pantauan kepada sekolah-sekolah yang selama ini tidak tersentuh pengawasan aparat. Pasalnya, menurut dia, pengawasan secara intensif sangat dibutuhkan.

Lembaga Keagamaan

Pakar Sejarah Azyumardi Azra mengatakan, pemerintah harus menggandeng lembaga-lembaga keagamaan untuk menangkal penyebaran gerakan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS/NIIS) di Indonesia. Pencegahan bergabung dengan ISIS tak cukup hanya dengan penegakan hukum.
“Mencegah ISIS tidak cukup menggunakan Detasemen 88. Presiden perlu secara resmi mengajak ormas dan lembaga Islam untuk menangkal paham radikal berkembang di Indonesia,” kata Azyumardi, di Jakarta, Rabu (18/3/2015).

Lembaga keagamaan seperti Nahdlatul Ulama dan Muhamadiyah, sebenarnya memiliki peran penting dalam memperkuat deradikalisasi.

Penyandang Dana

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Rikwanto menyebut, seorang warga negara Indonesia bernama Chep Hermawan menjadi penyandang dana untuk anggota kelompok radikal ISIS dari Indonesia.

“Namanya Chep Hermawan, dia diduga kuat penyandang dananya,” ujar Rikwanto di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (19/3/2015) pagi.

Rikwanto mengatakan bahwa pihaknya sudah meminta keterangan dari yang bersangkutan pada Rabu (18/3/2015). Berdasarkan permintaan keterangan itu, Chep diketahui berniat membantu mujahid ISIS yang tengah berperang di Suriah.

Chep, lanjut Rikwanto, menyebut dana yang diberikan bukan untuk perang di Indonesia. Polisi kesulitan menjerat Chep dan kawan-kawan dengan Undang-Undang Terorisme, KUHP atau lainnya karena mereka tidak melakukan pelanggaran. (ais)

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru