Wednesday, September 22, 2021
Home > Cerita > Maafkan sayang, ternyata tugas ibu rumahtangga itu berat. Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Maafkan sayang, ternyata tugas ibu rumahtangga itu berat. Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

Maafkan sayang, ternyata tugas ibu rumahtangga itu berat

Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus

 

Semua cucian, pakaian kotor telah masuk mesin cuci. Namun apa selanjutnya? Saya bingung. Mau mencet apa, banyak tombol pilihan. Ada tombol power, start, halus, selimut, jeans, putar, bilas, lembut, ketinggian air, turbo udara, cuci, jeda, cepat.

Lalu ditergen dan pewangi ditaruh dimana. Saya coba buka panduan lewat google. Malah makin bingung. Ya, apa boleh buat. Saya coba menghubungi istri yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Namun gak diangkat. Merenung sejenak, kemudian menelpon salah seorang anak, juga nggak menyahut. Berikutnya menelepon seorang menantu, akhirnya ada jawaban.

“Cukup pencet power pa, kemudian start. Dia ngatur sendiri. Tempat sabun di bagian atas, yang ada tulisan detergen, dan dikotak sebelahnya tempat pewangi pa.”

Nah, mesin cuci ditutup. Berikutnya melakukan sesuai saran. Terjadi putaran sesaat. Tapi kemudian berenti. Apa yang terjadi, eh air mengucur. Berarti ini sudah jalan sebagaimana mestinya.

Entah berapa lama, mungkin hampir satu jam, mesin cuci kemudian mengeluarkan nada musik, lalu berhenti. Ternyata itu tanda selesai, cucian sudah kering, tinggal di jemur. Beres.

Pekerjaan yang satu selesai. Lalu bagaimana dengan makan? Sepertinya tidak sulit. Untuk memasak nasi ada rice cooker. Cuci beras dua kali, lalu masukkan ke alat pemasak, tambahkan air secukupnya. Tutup, lalu tekan knop yang ada ke bagian bawah. Selesai. Lauknya? Tinggal ke luar rumah sebentar, pergi ke warung Padang. Pilih sesuai selera.

Waktu makan tiba. Ambil piring, buka rice cooker. Loh, nasi koq belum matang? Bukan, ternyata bukan belum matang, tapi kebanyakan air. Nasi jadi lembek. Apa boleh buat, itung-itung makan bubur, nggak perlu lama-lama mengunyah. Ternyata tidak mudah juga.

Mencuci piring, gelas, sendok, dan lainnya, nggak masalah. Berjalan dengan lancar. Tapi lantai kok rasanya gak nyaman di injak. Sepertinya ada pasir. Ya, kucing kami, peranakan Anggora, setiap habis buang hajat di bak khusus berisi pasir memang suka berlarian dalam rumah. Pasir yang nyanggkut di bulunya jadi betaburan di mana-mana.

Ternyata menyapu rumah tak semudah dan seringan kelihatannya, seperti dilakukan hari-hari oleh istri. Ada mesin pembersih lantai atau pembersih debu, vacuum cleaner, namun mengunakannya juga gak mudah. Salah arah gorden pun disedot. Kalo begitu menyapunya sekali dua hari saja, sekali tiga hari juga boleh. Ngepel? Mungkin nanti-nanti. Menstrika? Ah, rasanya berat. Antar ke laundry, selesai.

***

Sepuluh hari setelah saya ke luar dari rumah sakit untuk perawatan jantung, istri saya mengeluhkan kondisinya. Mual, suhu badan naik turun. Sempat ke dokter umum, namun tak sembuh juga. Saya berinisiatif memeriksakannya ke rumah sakit. Dokter menyatakan harus dirawat.

“Ibu harus diinfus. Kondisinya lemah,” kata dokter yang memeriksanya.

“Tapi sesuai ketentuan, pasien yang mejelani perawatan harus di-pcr.”

Dua hari kemudian saya diberitahu, istri saya terindikasi terpapar virus corona, Covid-19. Dia harus diisolasi, tak boleh ada kujungan. Kebutuhannya dititip ke Satpam, kemudian diteruskan ke perawat, untuk disampaikan kepada pasien.

Jadilah saya bolak balik ke rumah sakit. Mencari permintaan atau kebutuhan istri, menyiapkan pakaian ganti, lalu diantar. Kemudian di rumah mengerjakan apa yang bisa dilakukan. Menelpon istri yang sedang dirawat, sekali-kali menelpon kakak yang dirawat di rumah sakit berbeda juga karena sakit, kadang menelponnya ke kekediamannya. Saya berdoa untuk kedua orang yang saya cintai ini. Semoga lekas sembuh.

***

Sejak perkawinan kami, baru kali ini istri mengalami sakit lumayan berat dan harus menjalani opname. Biasannya, bila sakit cukup ke dokter umum. Tidak perlu rawat inap. Sembuh.

Sepuluh hari dia harus menjalani perawatan khusus di rumah sakit. Sudah diizinkan pulang. Itupun tak langsung normal. Sepuluh hari pula dia harus istirahat, belum bisa apa-apa. Masih lemah. Jadi lah sebagian pekerjaan rumah menjadi tugas saya.

Tidak mudah dan tidak ringan. Mencuci, strika, memasak, menyapu, ngepel, menyiapkan makanan kucing, termasuk hampir sepuluh ekor kucing kampung yang setiap jam makan datang ke rumah. Meski tidak semua saya kerjakan sendiri, karena seperti cucuian dikirim ke laundry, namun saya bisa merasakan betapa beratnya pekerjaan istri selama ini. Mungkin juga dialami ibu-ibu rumahtangga umumya.

Selama ini, pekerjaan rumah, termasuk membereskan rumah kami yang sederhana. Dikerjakan sendiri oleh istri. Rumah berlantai dua dengan beberapa kamar, dengan taman di teras bawah dan atas yang selalu disiram, selalu rapi dan bersih.

Bukannya saya tak pernah ingin meringankan tugasnya sebagai ibu rumahtangga. Saya mencarikan pembantu, namun istri tak betah. Ketika anak-anak kami masih kecil, dia beralasan, si pembantu selalu mengajak anak-anak keliling komplek setiap disuapin, Istri tidak suka. Dia juga tak puas dengan pekerjaan pembantu. Nyapu dan ngepel gak bersih.

Beberapa kali ganti pembantu, dan setelah anak-anak kami bisa bantu-bantu, akirnya istri tak ingin menggunakan jasa pembantu lagi.

“Biar saya kerjakan sediri. Kan ada anak-anak yang bantu,” katanya memberi alasan.

***

“Maafkan saya sayang, ternyata tugasmu sebagai ibu rumahtangga itu berat.” Saya bergumam sendiri, ketika melihat istri tertidur lemah. Tugas ibu rumahtangga ternyata tidak ringan, tak bisa diremehkan.

Ketika dia masih harus menjalani isolasi madiri di rumah, saya bahkan pernah terpaksa meninggalkannya sediri, karena kakak sulung saya yang juga sedang sakit ternyata telah sampai waktunya. Allah memanggil beliau ke hadiratNya.

Air mata saya tak terbedung, begitu membaca pesan WhatsApp di grup keluarga, saat melakukan olahraga pagi di lapangan masjid. Kakak telah pergi. Saya kembali pulang dengan mata sembab, dan cukup mengagetkan istri, yang kemudian mempersilakan saya segera pergi ke kediaman kakak untuk mengantarnya ke peristirahatan terakhir.

Sebagai salah seorang adik, saya beruntung selama hidup almarhum kakak,  saya dekat dengannya, dalam banyak hal, karena kami–setelah saya bekerja dan bekeluarga–memang tiggal atau bermukim berdekatan dalam satu kota.

Saya memang ingin selalu dekat degannya, sampai ahkir. Seperti sekarang, tidak hanya menyolatkan, mengantarkanya ke pemakaman, tetapi saya juga turun ke dasar kuburan mengantarnya ke liang lahat.

Kelembutan kakak kami diakui banyak orang yang mengenalnya. Bahkan salah seorang temanya ketika sesama murid SMPN menyatakan, kakak kami itu bahkan mendapat sebutan “Sayang” dari salah seorang gurunya kala itu. Dia memang mudah bergaul dan murah senyum.

Bagi kami adik-adiknya, almarhum tidak hanya sosok seorang kakak, tetapi juga sebagai ibu, ayah, dan guru. Sejak ditinggalkan kedua orangtua, dia bertindak untuk semua, memimpin adik-adiknya dengan lembut dan bijaksana. Dia bisa bertindak sebagai orangtua, kakak, dan dilain waktu bagai teman yang membuat adik-adiknya tidak sungkan untuk bercanda.

Dia telah pergi untuk selamanya, perpisahan yang sangat menyakitkan. Harapan kami, semoga di alam barzah dia mendapat perlindungan dari Allah, diberi kelapangan dalam kuburnya dan medapat tempat terbaik di akhirat nanti.

***

Jauh berjalan banyak yang dilihat, lama hidup banyak pula yang dirasakan. Itu hukum alam yang tak terbantahkan. Senang, sakit, kaya, miskin, muda, tua, bahagia, duka, dan banyak lainnya dirasakan dari waktu ke waktu, oleh kita atau oleh orang lain. Mati itu pasti, tak mungkin dihindarkan.

Kehilangan kakak, setelah sangat lama kehilangan ayah dan ibu, membuat saya khawatir akan kehilangan orang-orang dekat lainya, termasuk wanita terdekat saya, sang istri.

“Biarlah saya yang pergi duluan,” kata hati saya.

Namun apa yang ada dalam hati dan pikiran saya ternyata bisa dibaca istri.

“Semuanya telah ditetukan Allah, sayang. Kita tinggal menjalani. Saya juga ingin duluan, tapi semua kita serahkan padaNya.”

Cinta kasih terhadap istri semakin dalam. Megetahui betapa beratnya tugas seorang ibu rumahtangga, mengurus rumah, mengurus keluarga, hamil, melahirkan, meyusui, megasuh. Terlalu kejam seorang suami bila megabaikan sang istri, apa lagi menyakitinya.

Saya kadang tersenyum sendiri bila terbayang senyum manis istri, meski dia kecapaian berbenah, membereskan rumah, melayani saya. Semoga Allah selalu memberinya kesehatan yang prima.

Pantas disesali bila laki-laki tidak memperhatikan istri, bahkan sampai tega memeras tenaga istri untuk menghidupi keluarga. Wanita adalah segalanya, jerih payah mereka harus dihargai. Suami tak boleh mengecewakan istri, begitu juga anak. Anak harus harus menghargai ibu dan ayah. Pengabdian seorang anak terhadap ibu adalah yang utama.

“Kejam, jika laki-laki tak menghargai istri,” kalimat ini terlontar begitu saja.

“Ada apa pap?,” istri yang sama-sama berada di ruang keluarga langsung menjawab.

Saya jadi salah tingkah.

“Ya apa yang perlu papa bantu,” jawab saya sekenanya.

“Bantu makan saja, dan selalu mencintai mama,”  balasnya.***

*September 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru