Wednesday, October 28, 2020
Home > Berita > “Laut Bercerita” diluncurkan di Ubud

“Laut Bercerita” diluncurkan di Ubud

Leila S Chudori. (culturbooks)

MIMBAR-RAKYAT.com (Ubud, Bali) – “Laut Bercerita” tampil di hadapan pembaca. Penulis dan jurnalis Leila S Chudori meluncurkan novel keduanya berjudul “Laut Bercerita” di sela penyelenggaraan “Ubud Writers and Readers Festival 2017” di Bali.

Seperti novel pertamanya “Pulang” yang mengambil latar kerusuhan 1998, novel ini yang diluncurkan Jumat pun masih menceritakan tragedi tersebut tetapi dari sudut pandang mahasiswa dan aktivis yang diculik pada saat itu.

“Cerita ini tentang orang-orang yang diculik, sebagian kembali dan sebagian tidak,” kata Leila.

Mantan jurnalis Tempo itu mengaku mendapat ide untuk menulis novel kedua dari testimoni seorang rekannya, Nezar Patria, yang diculik pada Maret 1998 bersama 20 orang lainnya karena mereka dianggap ancaman untuk pemerintahan Soeharto.

Inspirasi lain dalam pembuatan novel ini adalah aksi Kamisan yang dilakukan keluarga-keluarga korban kerusuhan 1998 yang masih menuntut penjelasan pemerintah tentang apa yang sebenarnya terjadi pada anak dan kerabat mereka yang tidak pernah pulang.

“Meskipun presiden kita telah berganti beberapa kali tetapi belum ada solusi untuk masalah ini,” ujar Leila seperti dilansir antaranews.
Novel setebal 379 halaman itu terbagi dalam dua bagian, yakni Biru Laut yang bercerita dari sudut pandang protagonis, mahasiswa korban tragedi 1998 yang tidak pernah kembali serta Asmara Jati yang mengambil sudut pandang keluarga yang ditinggalkan oleh Laut.

Meskipun memiliki latar belakang jurnalistik, Leila merasa lebih nyaman mengangkat isu 1998 dalam format fiksi untuk menggambarkan karakter dan perasaan yang dialami para korban dengan lebih mendalam.

Riset untuk “Laut Bercerita” mulai dilakukan sejak 2013 dengan mewawancarai korban penculikan melalui kerja sama dengan Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) serta LSM lain yang bergerak untuk menuntut pengungkapan terhadap kasus orang-orang hilang pada tahun kejatuhan Soeharto.

“Sebagian besar keluarga korban selalu mengatakan kalimat yang sama, kalaupun keluarganya meninggal setidaknya katakanlah sehingga mereka bisa mengunjungi kuburnya,” tutur Leila.

Nama Leila S Chudori dikenal pembaca dunia lewat novel pertamanya “Pulang” yang telah diterjemahkan diantaranya ke dalam bahasa Inggris (Home) dan Jerman (Heimkehr nach Jakarta).

Karya pemenang Khatulistiwa Literary Award 2013 itu mengisahkan tentang suka-duka para eksil politik yang melarikan diri ke luar negeri karena sudah diharamkan menginjak Tanah Air sendiri, akibat peristiwa 1965.

Dalam “Pulang”, Leila menarik garis linier antara tiga peristiwa bersejarah: G-30-S/PKI pada 1965 di Indonesia, revolusi mahasiswa di Paris, Prancis, pada Mei 1968, dan tragedi kerusuhan Mei 1998 yang menandai keruntuhan rezim Orde Baru di Indonesia.  (An/Kb)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru