Tuesday, September 22, 2020
Home > Cerita > Jembatan

Jembatan

Sedalam-dalam  sajak takkan mampu menampung airmata
    bangsa. Kata-kata telah lama terperangkap dalam basa-basi
    dalam ewuh pekewuh dalam isyarat dan kilah tanpa makna.


    Maka aku pun pergi menatap pada wajah berjuta. Wajah orang
    jalanan yang berdiri satu kaki dalam penuh sesak bis kota.
    Wajah orang tergusur. Wajah yang ditilang malang. Wajah legam
    para pemulung yang memungut remah-remah pembangunan.
    Wajah yang hanya mampu  menjadi sekedar penonton etalase
    indah di berbagai palaza. Wajah yang diam-diam menjerit
    mengucap
    tanah air kita satu
    bangsa kita satu
    bahasa kita satu
    bendera kita satu !

    Tapi wahai saudara satu bendera kenapa kini ada sesuatu

    yang terasa jauh diantara kita?  Sementara jalan jalan
    mekar di mana-mana menghubungkan kota-kota, jembatan-jembatan
    tumbuh kokoh merentangi semua sungai dan lembah
    yang ada, tapi siapakah yang akan mampu menjembatani jurang
    di antara kita ?


    Di lembah-lembah kusam pada pucuk tulang kersang dan otot
    linu mengerang mereka pancangkan koyak-moyak bendera hati
    dipijak ketidakpedulian pada saudara. Gerimis tak ammpu
    mengucapkan kibarnnya.
    Lalu tanpa tangis mereka menyanyi
    padamu negeri  
    airmata kami.

(1998)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru